Pelakor Cantik Itu, Aku

Pelakor Cantik Itu, Aku
Mulai curiga


__ADS_3

"Ya Tuhan, salahkah aku jika aku mulai curiga pada suamiku. wajahnya terlihat sangat tenang, seperti tiada dusta yang disembunyikan mas Dani. bahkan perhatian dan kasih sayang nya juga tidak berkurang terhadap ku, tapi.... hati ini seakan-akan tidak mau untuk aku ajak kompromi lagi, agar tetap percaya, terutama pada janji suci pernikahan kami."


Aku begitu gelisah, berjalan menuju balkon dan duduk merenung sendiri, menatap tanaman hias kesayangan ku, yang tengah bermekaran, namun tidak sesuai dengan suasana hatiku. Malam ini seperti biasa aku tidur dipelukan mas Dani, biasanya dia akan minta jatah jika sempat berpisah denganku, meskipun itu semalam, namun kali ini  dia terlihat biasa-biasa saja.


"Mas, pijitin dong."


Aku sengaja memakai pakaian tidur yang sedikit terbuka, ingin memancing reaksi mas Dani. sambil berpura-pura minta dia untuk memijit kaki dan papaku.


"Baiklah sayang, mas tahu kamu pasti kecapean habis perjalanan jauh."


Mas Dani mulai memijit ku dengan lembut, kaki, punggung yang terakhir paha dan pinggang ku, tapi reaksinya biasa-biasa saja. malahan aku yang mulai terpancing gairah.


"Cup..muaah."


Aku mencium dalam dan penuh nafsu bibir mas Dani, respons nya sedikit lambat, sehingga aku semakin berani untuk memulai permainan.


"Sinta, mas tahu kamu ingin memuaskan mas malam ini, tapi kamu masih capek. jangan dipaksakan. mas ngak kenapa-napa kok. malam ini kita pelukan saja ya sayang."


Meski kecewa dengan penolakan mas Dani, aku memaksakan bibir ku ini un tetap tersenyum. menggaruk pelan tidur dalam pelukannya. malam ini sangat sulit bagiku untuk tidur, aku sesekali melirik mas Dani, aku tahu jika dia sebenarnya hanya pura-pura tidur.


 

__ADS_1


Cukup lama kami diam dan berpura-pura tidur, hingga akirnya aku lelah, membuka mata dan bangkit, tapi kulirik mas Dani kali ini sudah benar-benar tertidur pulas, mungkin Dia juga capek melihat ku yang masih uring-uringan ngak bisa tidur pulas, sehingga mas Dani memilih tidur tanpa memperdulikan aku lagi.


Saat jam menunjukkan pukul setengah satu malam dini hari, aku mendengar ponsel mas Dani bergetar, sebuah notifikasi chat masuk. darahku langsung berdesir, seiring detak jantung dan tanganku yang bergetar mengambil ponselnya


“Sudah tidur mas?” isi pesan singkat tersebut.


Kulihat No pengirim nya, yang tertera No  tidak dikenal, aku pun berfikiran jika ini salah sambung. buktinya mas Dani masih sangat percaya padaku dan tidak pernah mengunci ponselnya.


 


Tidak lama pesan masuk kembali, masih dari No yang sama. kali ini ampuh membuat emosi ku dan rasa tidak percaya ku kembali naik, tangan ku bergetar membacanya lagi, meskipun aku masih tetap berusaha untuk berfikir positif tentang suamiku, dan kembali untuk membuang pikiran buruk. Namun semakin aku berusaha, dorongan rasa curiga dan untuk berfikir negatif terus membuatku kembali resah  dan membaca pesan yang kembali masuk.


“Mas, malam ini aku ingin merasakan lagi hangat nya tubuhmu, kamu benar, sekarang aku sudah ketagihan, meskipun di awal-awal perih dikit, tapi nikmat baget, mas....”


“Tidak mungkin mas Dani setega ini padaku.”


Aku menguatkan hatiku dan menangis dalam diam, sambil memeluk tangan ku sendiri didada, hatiku mulai rapuh atas kecurigaan ku jika seandainya itu benar-benar Kenyataan.


“Aku tidak boleh gegabah, sebelum semuanya terbukti.” Aku terus perang batin dengan perasaanku sendiri, dan menghapus pesan masuk yang belum aku kenal si pengirim nya, aku pikir mungkin saja perbuatan orang iseng. merebahkan tubuh ku kembali kepada bidang suamiku


Aku tidak tahu jam berapa aku tertidur, yang jelas aku bagun kesiangan kali ini, bahkan aku sudah tidak mendapatkan mas Dani yang tidur di sampingku.

__ADS_1


 "Apa mas Dani sudah berangkat, tapi kenapa dia tidak membayangkan aku?"


"Mas maafya aku ketiduran, sehingga aku tidak tahu jika mas sudah berangkat ke kantor duluan." aku mengetik pesan singkat, tidak begitu lama mas Dani membalas nya.


"Ngak papa sayang, mas sengaja datang pagi-pagi kekantor, buat nyari calon pemimpin cabang perusahaan kita yang baru. buat ngantiin kamu."


 "Maaf ya mas, tapi aku ingin fokus pada keluarga kecil kita, mudah-mudahan dengan begini, aku bisa segera hamil."


"Amiiin, mas senang mendengar nya sayang."


Aku tersenyum membaca balasan pesan mas Dani, setelah itu aku bangkit menuju kamar mandi, untuk membersihkan tubuhku, tidak perlu waktu lama, hanya memakai polesan bedak tipis dan pakaian sederhana, aku melangkah turun untuk sarapan. seperti biasa, jika aku sudah bagun tidur Lani akan berdiri didepan pintu kamarku untuk membantu membersihkan kamar kami.


"Selamat pagi Bu."


“Pagi, Oya Lani, untuk seterusnya kamu tidak perlu lagi masuk ke kamarku. Biar aku saja yang membersihkan dan merapikan nya.”


“Baiklah Bu, tapi apa ibu tidak berangkat ke kantor sekarang?”


Aku langsung menatap Lani, tidak suka pertanyaan nya barusan.


 “ Maaf Bu,  jika saya lancang.”

__ADS_1


“Mulai  sekarang aku ingin dirumah saja, aku sudah tidak bekerja lagi di perusahaan suamiku." Jawabku melangkah turun sambil menutup pintu kamarku, aku tidak ingin dia menginjakan kakinya lagi di kamar kami, entah kenapa aku mersa Lani itu sudah terlalu lancang, meskipun aku tidak mempunyai bukti apa-apa.


__ADS_2