Pelakor Cantik Itu, Aku

Pelakor Cantik Itu, Aku
Mengusir Lani


__ADS_3

Sinta terbangun sendiri dari pingsan nya, perlahan dia bangkit menyeret langkah kaki menuju ranjang. tubuhnya terasa sangat lemah, sudah dua hari ini Sinta sering merasakan pusing dan mual. namun semula dia mengabaikan hal ini, beranggapan jika ini pengaruh asam lambung saja.


" Aku harus menyimpan bukti ini sebaik-baiknya, setelah mas Dani pulang nanti. aku akan memperlihatkan bukti ini pada nya, sehingga dia tidak memiliki alasan untuk membela dan mempertahankan Lani dirumah ini lagi."


Malamnya, mas Dani menghubungi ku.


" Sayang, udah tidur?"


" Belum mas, aku merindukan mu. cepat pulang ya mas."


" Ha..baru sehari mas tinggal udah kangen, sabar ya. jika pekerjaan mas cepat kelar nya. mas akan langsung pulang."


" Sayang, sertifikat tanah sudah jadi atas namamu, sedangkan untuk pembangunan hunian impian mu dan villa, bulan depan mungkin udah kelar, semuanya juga sudah atas namamu. Rey berkerja cukup baik, sehingga dalam waktu singkat dia sudah mengurus semuanya." terang Dani yang merasa senang, mengingat keinginan Sinta untuk menghabiskan hari tua mereka ditempat yang indah itu nantinya.


" Mas, aku merasa sangat bahagia dan beruntung mendapatkan suami sebaik mas. terimakasih ya mas atas semuanya."


" Iya sayang, mas jadi senang, melihat mu lembut seperti dulu lagi."


" Ya udah sayang, bobo lagi ya. mimpi yang indah bersama rumah mewah impian kita."


" Iya mas, bahkan aku sudah tidak sabaran untuk kesana bareng kamu mas."


Setelah menutup panggilan, aku kembali merasa mual dan pusing-pusing, bahkan jika ditahan, rasanya semakin menjadi- jadi. aku lari menuju westafel, menjulurkan wajahku pada air keran yang menyala, seakan-akan ingin mengeluarkan seluruh isi perutku.


" Wuuaakk...wwwuuaaakkk."


Keringat dingin membasahi tubuh ku, yang langsung menyandar pada dinding.


***


Dua hari berlalu, mas Dani sudah kembali dari Singapura, mobilnya berhenti didepan teras utama.

__ADS_1


Aku memasang wajah termanis ku, menyambut kedatangan mas Dani yang terlihat masih capek. aku membantu membawakan tas mas Dani.


Setelah mandi dan bersih-bersih, kami makan siang berdua. sebenarnya aku sudah tidak sabaran lagi untuk memperlihatkan rekaman cctv tersebut. tapi masih aku urungkan.


"Sayang, seperti nya kamu terlihat resah, dan melirik hp mu. sebenarnya ada apa?"


"Mas kita ngobrol di kamar ya."


" Baiklah."


"Mas, aku sudah tidak betah lagi melihat kelakuan Lani, Pokoknya Lani harus keluar dari rumah ini mas, anak itu benar-benar nggak beres." terangku.


" Nggak beres bagaimana, Lani itu salah apa sih Sinta. kamu yang selalu cari gara-gara dan ngajak ribut, mentang-mentang dia kerja dan hanya pelayan disini, tapi kita tidak boleh semena-mena. kamu itu satu-satunya di hatiku, jadi tolong, hentikan dan nggak usah buang-buang waktu mu, yang sangat berharga untuk ngurusin Lani terus, mending fokus untuk program hamil lagi."


" Bukan begitu mas, percaya lah. bahkan aku mempunyai bukti tentang kelakuan dan perbuatan nya yang sangat murahan itu. Lani tidak perlu dipertahankan dirumah ini lagi mas."


Tangan ku bergetar saking emosinya, lalu memperlihatkan bukti rekaman cctv perbuatan Lani tersebut. namun reaksi suamiku terlihat tenang, dan biasa-biasa saja.


"Sinta, Lani itu masih remaja. wajarlah jika dia memiliki kekasih, dan pacaran ditaman. dan mereka juga nggak ngelakuin yang lebih. cuma pelukan dan ciuman doang."


" Bukan kedalam rumah, tapi taman depan." ralat mas Dani.


" Kenapa sih, mas sepertinya sangat membela perempuan murahan itu."


" Bukan begitu Sinta, mas kasihan melihat Lani, dia hidup sebatang kara, dan butuh perlindungan mengingat dia perempuan yang lemah, apa susahnya sih kita berbaik hati sedikit saja, dengan memberikan nya pekerjaan dirumah ini."


" Tidak ada alasan lagi mas, pokok aku ingin Lani pergi, kenapa sih mas, aku jadi curiga jangan-jangan Lani selingkuhan mu?"


" Sinta, stop. aku benar-benar muak dengan sikap mu sekarang, kamu itu curigaan melulu dan menuduh yang bukan- bukan. " bentak mas Dani marah.


Kami bertengkar hebat, mas Dani terlihat sangat marah, dia keluar dari kamar sambil membanting kasar pintu kamar kami.

__ADS_1


Sehari ini, Mas Dani benar-benar menghindari ku, bahkan malamnya dia tidur dikamar tamu dan tidak menyapa diriku sama sekali.


Aku tidak mempermasalahkan semua itu, bahkan keinginan ku saat ini, mencari-cari bukti scandal mereka berdua, lalu mengusir Lani dari rumah ini.


Saat semua lengah, aku kembali masuk kemari Lani, aku harus mendapatkan bukti. namun saat berbalik, Lani sudah berdiri dibelakang ku.


" Ibu ngapain sih? main masuk-masuk kekamar orang, nggak sopan tau."


" Hey, ini rumah saya. jadi saya bebas mau ngapain." balas ku.


" Tidak bisa, ibu tidak berhak memeriksa barang-barang pribadi ku seperti ini."


" Kenapa kamu bisa mendapatkan barang-barang mahal seperti ini, ayo ngaku?"


"Aku beli pakai uang tabungan ku sendiri."


" Apa tabungan, ha....ha... tidak mungkin seorang pelayan seperti mu mampu membeli handphone harga belasan juta, barang-barang branded. kamu jangan mencoba menipu ku."


" Ibu benar-benar keterlaluan, bahkan ibu selalu iri dengan kecantikan dan apa yang aku miliki."


Kemarahan ku seketika memuncak, aku sengaja membanting keras ponsel Lani hingga retak, termasuk memporak-porandakan kamarnya.


" Hey kamu ngaca dong, bagaimanapun cantik mu. status mu akan tetap pelayan disini." terangku.


"Ha...ha...makanya jadi wanita itu jangan kepedean Bu, meski aku pelayan. tapi aku jauh lebih sempurna dari ibu."


" Kurang ajar kamu Lani, plaaacck..." tamparan keras melayang di pipinya.


Lani langsung membalasnya, dia menarik rambut ku, karena emosi sehingga tenagaku cukup kuat. aku mendorong tubuh Lani dan langsung menindih perempuan murahan itu, dengan jambakan dan pukulan.


" Mas Dani...mas, tolong aku....aku dianiaya Bu Sinta. dia menjambak... dan memukuliku mas. tolong....

__ADS_1


" teriak Lani, aku tidak peduli, yang penting rasa sakit dan marahku harus dia rasakan juga.


" Sinta, apa-apaan ini?"


__ADS_2