
" Reader tersayang, tetap ikuti dulu alurnya ya. dan tetap bersabar, menunggu bab dimana Lani dan Dani akan menuai hasil dari perbuatan mereka.
Sedikit bocoran bab selanjutnya,
Sinta akan muncul jadi pemenang diatas rasa bersalah dan penyesalan Dani dan Lani, meskipun mereka berdua sudah bertaubat nantinya, namun semua tidak bisa menghapus rasa bersalah dan kesulitan hidup yang mereka berdua jalani. tentunya akan happy ending"
****
Dani mengusap kepalanya kasar, dia benar-benar panik dan syok. tanpa pikir panjang lagi, dia langsung menuju rumah sakit.
" Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk padamu sayang, maafkan aku yang tidak pernah bisa untuk menjadi suami yang sempurna untuk mu, meskipun aku sudah berusaha. tapi aku selalu gagal."
Dani memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia sangat panik dan kawathir dengan kondisi Sinta. bagaimana pun dia masih sangat mencintai wanita yang sudah begitu lama menemaninya dalam suka dan dukanya pernikahan mereka, yang belum juga memiliki seorang anak.
Kondisi Sinta yang sangat lemah, termasuk stress karena beban pikiran, membuat calon ibu muda itu langsung mendapat kan penanganan serius.
Begitu sampai, langkah panjang Dani melewati koridor rumah sakit, seakan-akan dia ingin menembus ruang dan waktu agar segera Sampai diruang perawatan istrinya.
“ Cekklek…” Dani dengan nafas yang masih ngos-ngosan membuka ruangan pintu perawatan Sinta, nampak Sinta yang tertidur, dengan wajah pucat.
__ADS_1
Seketika bibir Dani bergetar, hatinya terasa pilu melihat wanita yang selama ini dengan setia mendampingi nya. tubuh yang terlihat kurus. Dani terpaku diam seribu basa.
“Tidak bisa dipungkiri, ternyata hatiku masih sangat mencintaimu, Sinta.”
Bi jah mendekati Dani sambil berbicara pelan.
“ Tuan, dokter memintamu untuk segera keruangan nya.” bisik jah agar tidak menggangu Sinta yang baru saja diberi obat, sehingga dia tertidur pulas efek dari obat tersebut, sedangkan tangannya sudah terpasang selang infus.
Dani langsung menuju ruang dokter yang menangani istrinya. setelah dipersilahkan untuk duduk. Dokter mulai menjelaskan kondisi Sinta.
“ Apakah bapak suaminya Bu Sinta?”
“ Betul, bagaimana kondisi istri saya dokter?”
“ A…apa dok, istri saya hamil?”
Dani terlihat sangat syok, bahkan pancaran matanya terlihat berbinar-binar, dia tidak mampu menyembunyikan kebahagian nya, tanpa sadar air mata Dani menetes.
Dia sangat menyesal, telah mengkhianati Sinta. Coba dia bisa bersabar dan tidak beranggapan jika Sinta mandul, tentu kebahagiaan ini benar-benar indah, dan kondisi Sinta pasti sangat baik, tidak seperti sekarang ini.
__ADS_1
" Semua ini salahku, aku laki-laki bajingan.... "
Dani memukul- mukul dadanya yang tersa semakin sesak, dia tanpa malu menangis.
" Yang terpenting, Anda sekarang tunjukkan kasih sayang dan perhatian pada Bu Sinta, dengan begitu dia akan bisa sembuh dengan cepat, karena perhatian dan kasih sayang tulus dari suamilah yang merupakan sumber kekuatan dan obat yang paling ampuh buat seorang istri." terang dokter.
Dani seketika langsung kembali berjalan cepat menuju ruangan istrinya terbaring, dia duduk disampingnya Sinta. Mencium lama kening istrinya dengan perasaan yang bercampur aduk.
“ Maafkan aku sayang, maafkan aku.” Gumam Dani sambil berucap tanpa suara.
Sinta merasakan sentuhan bibir Dani yang kenyal dikeningnya, hal yang sudah lama tidak dirasakan nya lagi. Perlahan Sinta membuka matanya, hal pertama yang dilihat nya adalah wajah cemas suaminya, dengan bekas air mata yang masih terlihat disudut mata elangnya. melihat semua ini, hati Sinta yang membeku kembali mencair, kemarahan dan kebencian seketika menghilang, mungkin karena efek kejiwaan nya nya yang masih sangat labil.
Sehingga dia sangat mudah nya terbawa perasaan, yang kadang marah, benci, namun disisi lain cinta dan sangat merindukan sosok suaminya yang seperti dulu membuat Sinta menjadi wanita yang plin-plan. dengan pendirian yang mudah goyah.
" Sayang ku, maafkan mas."
Bibir Sinta terangkat sedikit, seperti membentuk sebuah senyuman, menandakan jika dia masih bisa tersenyum. dengan perasaan yang sengaja dia tutupi.
" Mas Dani."
__ADS_1
" Iya sayang."
Balas Dani dengan suara bergetar, dia tidak sanggup lagi melihat wajah Sinta. sehingga Dani langsung menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Sinta yang terbaring lemah.