
Tanpa terasa, kehamilan Sinta sudah sudah masuk bulan ke-sembilan. dimana dia sudah mulai merasakan kontraksi ringan diperutnya. selama itu juga Sinta bekerja secara profesional. dan Gilang sangat menghargai Sinta.
Begitu juga dengan Dani, dia sangat ingin tinggal dan ikut mengurus Sinta, tapi Sinta selalu menolak, dia tidak pernah mau tinggal serumah lagi dengan Dani, sampai dia melahirkan nanti nya, Sinta sudah membulatkan tekadnya untuk bercerai.
Pagi ini, seperti biasanya Sinta sudah rapi dan bersiap untuk berangkat kerja, namun dia tiba-tiba dia merasakan kontraksi yang teramat sangat.
“ Mama...., mama...sakiit mas.”
Teriakan Sinta mengagetkan semua nya, mama mertua yang selalu berjaga-jaga tinggal menemani dirumah, langsung berlari cepat menghampiri Sinta yang berteriak kesakitan.
“ Sayang kamu kenapa, nak?”
“ Sakiit ma, sakit banget.”
“ Sepertinya Sinta sudah mau melahirkan, mama hubungi Dani dulu.”
“ Mungkin juga ma.” jawab Sinta meringis.
Tidak lama menunggu, Dani datang dan langsung membawa Sinta kerumah sakit terbaik, dia sangat antusias menyambut kelahiran anak pertama nya. meskipun perang dingin diantara mereka belum juga berakhir.
__ADS_1
Dani juga memerintahkan Rey, untuk menjemput ke-dua orang tua Sinta, ini juga permintaan Sinta agar ibu bapaknya juga bisa melihat kelahiran cucu pertama mereka.
Semua sekarang sudah berkumpul didepan pintu ruangan operasi Sinta, mengingat posisi bayinya yang tidak sempurna alias sungsang, sehingga Sinta harus terpaksa dioperasi cecar.
Dani tidak mempermasalahkan hal ini, yang terpenting baginya. Anak dan istrinya bisa selamat.
“ Bayiku ma, ya itu suara bayiku.”
Ucap Dani antusias ketika mendengar suara tangisan bayi dari ruang persalinan Sinta. tanpa sadar dia menagis haru, terbesit dihati Dani agar anaknya kelak tidak seperti dirinya.
Semua menyambut penuh suka cita kelahiran seorang bayi berjenis kelamin laki-laki tersebut. Tak terkecuali Lani, entah kenapa dia ikut tersenyum saat Dani mengirimkan foto anak pertama nya bersama Sinta.
Wajah bayi Sinta, sangat tampan, hidungnya mancung, kulit putih bersih seperti Sinta, sedang raut wajah yang lain semua fix mirip Dani.
“ Sinta, selamat ya atas kelahiran anak pertama mu, apa sudah diberi nama?.” Ucap Gilang ikut datang memberikan selamat, sekalian silaturahmi dengan ke-dua orang tua Sinta, mengingat mereka juga sudah lama tidak bertemu lagi.
“ Belum, Gilang.”
“ Gimana jika aku kasih usul namanya yang cocok."
__ADS_1
" Boleh."
" Gimana diberi nama Rayanza Ahmad, itu sangat cocok dengan wajah nya yang tampan, dan artinya juga sangat bagus.” Balas Gilang.
“" Wah bagus banget, aku setuju." ucap semua nya.
" Tidak, aku tidak setuju. apa hak mu memberikan nama itu terhadap anakku." ucap Dani kesal, namun dia kalah suara, mengingat semua setuju dan mendungkung nama yang telah diberikan oleh Gilang tersebut.
Dani terpaksa mengalah, namun namanya harus diselipkan, sehingga menjadi Rayanza Ahmad Dani.
***
Acara besar pun dilangsungkan untuk menyambut kehadiran bayi mungil tersebut, Sinta terlihat bahagia Mengendong bayi mungilnya yang sangat tampan. acara berjalan cukup meriah.
Bayi mungil Reyyanza juga terlihat sehat, bahkan wajah tampan nya membuat semua orang sangat menyukai bayi mungil tersebut.
Gilang sesekali mencuri pandang kearah Sinta, dia semakin kagum dan menyukai Sinta, sosok yang kuat, meskipun dihadang berbagai permasalahan hidup.
Keinginan Gilang untuk memiliki Sinta semakin besar, namun dia tidak boleh gegabah. agar sinta tidak marah dan Curiga.
__ADS_1
" Sinta, aku harus mendapatkanmu. bagaimanapun kamu cinta pertamaku. aku tidak akan membiarkan mu jatuh ke tangan kaki-laki brengsek itu lagi."