
Cekidot..., Dani membuka pintu kamar hotel secara tidak sabaran lagi, sambil menarik sebelah tangan Lani. tidak lupa terlebih dahulu, dia mengunci pintu kamar dari dalam. meskipun Sinta tidak bakal memergoki nya, tapi hal ini akan membuat mereka berdua merasa aman dan nyaman.
Dengan nafas berat dan memburu, Dani tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia langsung ******* bibir Lani yang sudah seperti cacing kepanasan. setiap mendapatkan sentuhan dan cumbuan bibir Dani, mereka berdua sudah lupa akan adanya dosa, yang ada hanya hasrat yang menggebu-gebu.
"Cepat mas, aku sudah...sudah nggak tahan lagi merasakan punya mu. " desah Lani, dibenaknya saat ini hanya ingin segera cepat hamil anaknya Dani.
" Iya sayang, tubuhmu terlalu indah untuk mas lewatkan." ciuman dan sentuhan Dani terus menelusuri setiap lekuk tubuh Lani, aktivitas haram yang sangat nikmat, dia merasa seperti laki-laki yang sangat beruntung mendapatkan wanita cantik seperti Lani . dan melupakan Sinta yang saat ini menangis dan hancur dengan perbuatan kejinya.
Lani yang sudah tidak tahan, langsung menindih tubuh Dani, kali ini dia mengambil alih permainan panas mereka. Dani benar-benar puas dengan servis yang diberikan oleh pasangan haramnya ini, tidak pernah terbayangkan oleh nya jika Lani sehebat ini diranjang.
" Mas aku seneng banget, kita bisa berduaan memadu kasih seperti ini lagi, coba kita bisa setiap saat seperti ini." bisik Lani sambil bergelayut manja di dada bidang Dani. yang membalas ucapannya dengan tersenyum puas.
"Mas, ingat janjimu untuk nikahin aku jika berhasil hamil anakmu nantinya ya?"
" Tentu sayang, mas harap kamu juga bisa mengambil hati Sinta. mas yakin dia mau menerima dirimu dan anak kita nantinya."
" Baiklah mas."
__ADS_1
Lani sedikit kecewa, dia sangat berharap Dani akan mengatakan akan menceraikan istrinya Sinta, dan memilih dirinya dan anaknya. Lani mengedepankan egonya, menutup hatinya tentang janji suci dan sakral nya pernikahan Dani dan Sinta. kamar hotel saksi bisu bagaimana ganasnya mereka menikmati hubungan terlarang ini.
***
Selama perjalanan, Sinta merasa gelisah dia sudah mendapatkan firasat jika saat ini Dani tidak sibuk bekerja, melainkan berdua dengan Lani.
Dia mencoba memastikan, meski dia sudah tahu. Sinta tetep menghubungi ponsel suaminya, sudah panggilan ke lima, namun juga belum diangkat. hingga dia capek menghempas tubuhnya pada sandaran kursi mobil.
" Rey, kamu asisten kepercayaan mas Dani, dan aku sangat yakin jika kamu tahu banyak tentang suamiku."
" Maksud nyonya?"
" Maksud nyonya?"
" Panggil nama saja. biar kita nggak canggung ngobrol nya,."
" Baiklah Sinta."
__ADS_1
" Rey aku curiga dengan keberadaan mas Dani sekarang, aku yakin kamu pasti sudah tahu semuanya."
Rey terdiam, Dani selain bos. dia juga sangat terbuka pada Rey, agar mempermudah membantu apapun urusannya, termasuk masalah pribadi bersama Lani.
" Rey berterus-terang lah, apa saja yang kamu ketahui tentang mas Dani, suamiku."
" Maaf Bu."
Rey pun memilih untuk diam dan fokus pada jalanan dihadapan nya.
" Rey, apa kamu tahu salah satu email yang tersambung dengan ponselnya mas Dani? please Rey bantu aku, aku tidak akan melibatkan mu nantinya." ucap ku.
Rey terlihat kasihan mendengar perkataan ku yang diiringi air mata, diapun menepikan mobil, mengusap beberapa kali wajah nya.
" Please Rey, bantu aku. aku tidak sanggup lagi dan segera ingin lepas dari laki-laki penghianat itu."
Rey mengusap layar ponselnya sendiri, dan memperlihatkan sebuah email dan aplikasi pelacak yang terhubung dengan email Dani tersebut.
__ADS_1
Tangan Sinta bergetar, seiring detak jantungnya yang berpacu. pin aplikasi pelacak tersebut menunjukkan sebuah lokasi hotel berbintang "The Hill" yang membuat Sinta syok dengan tubuh panas dingin.
" Tega kamu mas Dani."