
Mereka merencanakan untuk liburan berduaan, tidak....aku juga ingin menikmati liburan berduaan dengan mas Dani, bagaimana pun Mas Dani milik ku juga sekarang.”
Lani bergumam dibalik pintu, hatinya tiba-tiba tersulut cemburu dengan Sinta yang disayang dan dimanja mas Dani. dia merasa status derajatnya dengan Sinta tidak jauh berbeda, ya Sinta dan Lani sama-sama berasal dari keluarga Miskin, yang untuk bertahan hidup saja susah.
Aku mersa jauh lebih beruntung dari pada Sinta, meskipun pendidikanku jauh dibawahnya, tapi aku bisa mendapatkan apa yang dia Miliki, bahkan sebentar lagi, Aku juga meminta mas Dani untuk menikahi ku segera.
Bahkan sekarang, aku bisa melihat dengan jelas, jika Sinta sangat iri melihat kecantikan dan cara berpakaian ku yang jauh lebih modis dibandingkan dengan dirinya yang seperti ibu-ibu, mesju
Sampai dikamar aku kembali memikirkan cara, bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan hak istimewa juga dari mas Dani, bahkan kartu ATM yang di janjikan nya untuk diberikan padaku belum juga aku dapatkan, mengingat kami yang tidak bisa leluasa lagi untuk bertemu.
Saat tengah malam, aku kembali memberanikan diriku untuk mengirimkan pesan pada mas Dani. aku yakin Sinta yang tidak tahu diri itu pasti sudah tidur.
“Sudah tidur mas, aku kangen.”
Aku tersenyum sendiri membaca pesan singkat yang akan aku kirimkan ke ponsel mas Dani, namun setengah jam menunggu, mas Dani belum juga membalas pesanku. membuat ku resah dan uring-uringan dikamar.
“Aku tidak boleh kalah oleh Bu Sinta, mas Dani harus tetap menjadi milikku.”
Capek menunggu balasan pesan dari mas Dani, tanpa sadar Lani tertidur sambil memeluk erat guling kesayangannya, yang sering Lani anggap sebagai tubuh Dani. tidak lama berselang dia kembali mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar.
“Lani....Lani....sayang buka pintunya.”
__ADS_1
Dalam bawah sadar ku, terdengar seperti suara mas Dani yang berusaha untuk membangun kan aku seperti biasanya, meskipun mata ini sangat berat untuk dibuka, namun aku paksakan sambil menyeret langkah menuju pintu kamar.
“Sayang, maaf tadi mas ngak bisa balas pesan mu. Karena Sinta belum tidur.”
"Kenapa dia sering tidur larut malam sekarang mas?"
"Entahlah, mas juga ngak tahu." balas mas Dani yang langsung masuk kedalam kamar sambil memelukku erat. tidak lupa mas Dani mengunci pintu kamar ku dari dalam.
Mas Dani memperdalam ciuman dan memelukku, terdengar hembusan nafasnya yang berat, dua seperti sudah terbakar gairah. Bahkan dia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk terus mencium dan menikmati bibir ku.
"Sayang, malam ini kita main cepat saja ya."
"Kilat khusus dong."
Tidak ada rasa kesal dan kemarahan lagi dihatiku, yang ada hanya nafsu yang harus segera kami tuntaskan sekarang. Dengan pencahayaan kamar yang temaram. Kami kembali bercinta sepuasnya tanpa peduli dengan Bu Sinta yang mungkin masih mengira jika suaminya tidur disebelahnya.
“Sayang, mas balik kekamar dulu ya. takut Sinta kebagun dan mencari mas kebawah.”
“Iya mas, tapi jangan lupa janji mas kemaren mana?”
“Iya sayang, nanti mas akan ajak kamu jalan-jalan berdua,bdan kamu bebas memilih apapun yang kamu inginkan.”
__ADS_1
“Benarkah mas?” ucapku dengan mata berbinar-binar bahagia, mengingat apapun keinginan ku akan dikabulkan mas Dani.
“Benar sayang, muaacchh... muaacchh.”
Sebelum pergi mas Dani kembali mencium kedua belah pipiku.
Sampai dikamarnya, Dani mendapat istrinya yang bersiap untuk sholat subuh.
“Mas dari mana?”
“Mas barusan kedapur sayang, mas haus.”
“Kok lama ngambil minuman nya?”
“Habis minum, mas duduk bentar disofa ruang keluarga, kamu sekarang eneh. Nanya udah kayak polisi saja.” Ucap Dani yang kembali masuk kedalam selimutnya untuk lanjut tidur.
“Mas sholat dulu yuk."
Sinta mengguncang pelan bahu suaminya, namun Dani tidak menjawab seiring dengkuran halus, yang menandakan jika dia sudah tidur pulas membelakangi Sinta.
Sebisa mungkin Sinta menahan hatinya yang seakan ingin menangis sekencang-kencangnya, ditambah lagi Dani yang akhir-akhir ini tidak berani membalas tatapan nya, seperti tengah menyembunyikan sesuatu.
__ADS_1