
“Iya, nanti Sinta akan bicarakan hal ini dengan mas Dani lagi. Sinta juga ingin mencoba dan berusaha lagi untuk tetap dirumah dan fokus pada keluarga, seperti pesan bapak dan ibu.”
“Baguslah nak.”
“Bapak, ibu. Dari semalam perasaan ku terus tidak enak dan resah, bagaimana jika pagi ini, Sinta langsung balik pulang. Nanti ada waktu Sinta akan pulang menjenguk bapak dan ibu lagi.”
“Boleh, silahkan sayang. Tapi apa kamu sudah menghubungi Dani terlebih dahulu, suamimu?”
“Ngak usah Bu, biar aku nyetir sendiri, pakai mobil lamaku.”
“Baiklah, tapi hati-hati dijalan ya nak.”
"Ya Bu."
Setelah pamit pada kedua orang tuaku, aku pun menggunakan mobil kesayangan ku yang jarang dipakai, namun masih terawat dengan baik. Aku membulat kan tekat untuk nyetir sendiri pulang kembali kerumah, tidak sesuai dengan jadwal yang sudah aku tentukan.
__ADS_1
Aku tidak enakan untuk menghubungi mas Dani dan meminta menjemput, mengingat dia sudah capek bekerja seharian dan baru kemaren dia habis mengantarkan aku pulang kesini, dan sekarang aku harus memintanya lagi untuk menjemput. Kadihan suamiku mesti bsolak balik, meskipun ada sopir tapi mas Dani lebih suka jika dia yang langsung untuk antar jemput ku.
“Mas Dani sayang, aku pulang lebih cepat dari waktu yang aku tentukan kemaren. Pasti kamu sangat senang dengan kejutan dariku ini mas.’ Pikirku.
Suasana jalanan yang sepi, membuatku bisa melajukan kencang mobil kesayangan ku ini membelah jalanan yang sudah memasuki pusat kota. ditambah lagi rasa tidak sabaran yang ingin segera bertemu mas Dani.
Tidak butuh waktu lama, mobilku sudah memasuki gerbang utama rumah mewah mas Dani yang sengaja dibelinya sebagai kado pernikahan kami.
Aku menghentikan mobilku tepat didepan pintu utama rumah mewah kami, langkah kakiku yang sudah tidak sabaran lagi untuk bertemu dengan suamiku tercinta, membuat ku langsung ingin cepat-cepat sampai rumah, karena asistennya Rey mengatakan jika mas Dani belum sampai dikantornya dan masih dirumah.
Meskipun aku sedikit penasaran dan heran, tidak biasa nya mas Dani jam segini belum masuk kantor, mengingat dia sangat disiplin dan sangat menjaga dibawa nya selaku atasan.
Aku mempercepat langkah menapaki satu persatu anak tangga, namun aku bertemu dengan Lani yang terlihat kesusahan menyeret langkah untuk menuruni anak tangga.
“Lani kamu kenapa? Kamu sakit dan kakimu kenapa. jalan mu juga terlihat aneh dan ngangkang seperti ini?”
__ADS_1
“Ngak kok Bu, kemaren aku sempat keseleo saat menjemur pakaian dan pinggang ku ini sepertinya ikut sakit, tapi ngak papa kok Bu. Aku masih bisa kerja.” Balas Lani terlihat gagap dan panik, raut bibirnya bergetar seperti ketakutan.
“Makanya, lain kali jika kerja itu hati-hati.” Terangku melanjutkan jalan menuju kamar kami. Meskipun pikiran ku masih tertuju pada Lani, yang berjalan agak aneh, dan untuk apa dia masuk ke kamarku jika mas Dani sedang ada dirumah.
Ceklek...pintu kamar kami, aku buka perlahan nampak suamiku tidur setengah telanjang, dari balik selimut yang menutupi tubuh nya, dengan sepray baru, padahal sepray tempat tidur kami baru diganti Lani, masa sekarang dia menggantinya lagi? kan baru sekali ditiduri mas Dani seorang diri pikir ku.
“Sayang, kamu balik lagi.”
Ucap mas Dani sari balik selimut, wajah nya kebingungan, kaget melihat kepulanganku tiba-tiba, ekspresi mas Dani diluar dugaan ku, dis tidak bersemangat seperti biasa melihat kedatanganku, aku mengernyitkan kening, apa mas Dani sudah mengetahui jika aku pulang lebih cepat. bergumam sendiri.
“Iya mas, tapi kamu kelihatan nggak seneng gitu." Jawabku.
Refleks mas Dani menyibak selimut dan menatap ku, dengan mata membulat seperti nya dia begitu kaget.
“Mas, ngapain kamu menatap ku seperti ini?”
__ADS_1