
“Sudah...Sayang jangan menangis lagi, air matamu terlalu berharga untuk orang seperti mereka, kamu harus kuat melawan dan memperjuangkan rumahtangga termasuk hakmu sebagai seorang istri.”
“Tidak Dita, aku seperti nya ragu untuk memperjuangkan rumahtangga ku dengan mas Dani. Mungkin aku harus kuat untuk memperjuangkan hak ku sebagai istrinya. Aku harus mendapatkan paling tidak separuh harta mas Dani, ini setimpal dengan perbuatannya padaku.”
"Aku rasa memang itu jalan terbanyak, sebelum Lani berhasil memberikan keturunan pada Dani."
"Aku juga berfikir sama seperti mu, Dita."
“Apa perusahaan itu semua milik Dani?” tanya Dita sambil mengambil tissue yang baru untuk mengusap sisa-sisa air mata yang masih menempel di sudut mataku.
“Tidak juga, tapi Milik keluarga mas Dani. Namun mas Dani yang mereka tunjuk untuk memimpin semua nya. Dan harta itu bisa saja sewaktu-waktu diambil alih, mengingat mas Dani masih punya saudara lainnya yang tentunya lebih bisa mengurus Perusahaan dengan baik.”
“Tapi bagian Dani juga pasti lebih banyak kan.”
“Iya, makanya aku tidak ingin pelakor mata duitan itu ikut menikmati semua , apalagi jika dia sampai berhasil hamil anaknya mas Dani.”
__ADS_1
“Iya Sinta, kamu harus mendapatkannya, paling tidak kamu bisa hidup mapan jika berpisah dari Dani, sebelum pelakor itu berhasil mendapatkan nya, jika dia sampai hamil, otomatis keluarga Dani lebih berpihak pada gadis itu.”
“Iya Dita, apalagi ibu mas Dani selama ini sangat menginginkan hadirnya penerus mas Dani.”
“Mulai sekarang kamu jangan cengeng lagi, ingat misi mu. bersikap manislah pada Dani, ikuti permainan mereka. aku siap membantu mu Sinta.”
“ Terimakasih Dit.”
Ngobrol panjang lebar dengan Sinta, sedikit banyak membuat ku kembali lega, bahkan aku mulai tersenyum meskipun sesungguhnya direlung hati terdalam ku masih sangat rapuh dan menagis sedih.
"Hari ini kita jalan-jalan yuk?"
"Kemanapun, yang penting hari ini sahabat baikku i i bisa kembali tersenyum."
Aku menyetujui ajakan Dita, kami tertawa ceria seperti saat-saat masa SMA kami yang indah, memasuki pusat perbelanjaan, makanan kesukaan kami. terakhir aku dan Dita pergi mengunjungi pasar malam rakyat.
__ADS_1
Disana terdapat berbagai macam permainan, yang mayoritas dinaiki anak-anak ataupun anak remaja, tapi aku dan Dita tidak peduli, kami menaiki satu persatu permainan yang memacu adrenalin, membeli kembang gula sambil tertawa lepas menikmati hidup yang sesungguhnya aku sendiri sangatlah hancur.
"Ingat Sinta, tidak boleh ada sir mata lagi."
Ucapan Dita membuat ku kembali tersenyum, seperti itulah Dita jika melihat aku melamun, dia akan menghibur ku, meskipun diusia nya yang cukup mapan dan dewasa, ditamasih betah untuk melajang.
***
"Rey cepat kamu selidik keberadaan Sinta dirumah kedua orang tuanya, pastikan apa dia pulang kesana.”
“Baik bos.”
“Ingat, jangan sampai ketahuan.”
Dani sengaja meminta Rey, dia tidak ingin orang tua Sinta akan cemas, jika mengetahui permasalahan mereka, terutama tentang Sinta yang pergi dan tidak pulang kesana.
__ADS_1
Dani kembali mengusap kasar wajahnya, bagaimana pun sulit baginya untuk lepas dari Lani. Bahkan keinginan untuk memiliki Lani seutuhnya begitu besar, tapi dia juga tidak ingin melepas istri nya Sinta, yang merupakan wanita pertama yang telah membuatnya jatuh cinta. Bahkan sempat bertaubat meskipun itu hanya sebentar, mengingat godaan untuk menjadi orang baik itu sangatlah besar, apalagi jika itu adalah Lani wanita muda yang seksi, montok dan juga segar.
Dani tidak bisa mengendalikan dirinya setiap kali melihat Lani, ditambah lagi setelah dia berhasil mencicipi nya. Dani semakin tergila-gila. ketagihan dengan kenikmatan sesaat.