Pelakor Cantik Itu, Aku

Pelakor Cantik Itu, Aku
Hari pertama bekerja


__ADS_3

"Waktu satu tahun."


" Ya, jika kamu tidak mampu, maka dengan terpaksa aku tidak akan memberikan surat-surat berharga ini."


"Kamu benar-benar licik." balas Dani, menatap tidak suka kearah Gilang yang balik menatap nya dengan mengulum senyum kepuasan.


" Tenang mas, aku akan membantu mu sebisaku. kita pasti bisa bangkit dan maju lagi." ucap Sinta.


" Baiklah, aku setuju." Dani langsung menyetujui setelah mendengar keterangan dari Sinta. dia bersemangat setelah mendengar kata-kata yang terucap dari istrinya yang selalu bisa dia andalkan selama ini.


Setelah kesepakatan siang ini, untuk seterusnya Sinta akan bekerja lagi diperusahaan cabang dengan jabatannya semula, namun dia sekarang bekerja dibawah naungan perusahaan induk yang dipimpin oleh Gilang, bukan Dani lagi.


***


Pagi yang cerah ini, Sinta mengenakan stelan pakaian kantor, yang membuat dia terlihat anggun dan mempesona, meskipun Sinta mengunakan pakaian yang sedikit longgar. mengingat dia sedang hamil.


Senyum para karyawan dan bawahan Sinta dulunya, menyambut ramah dan hangat kedatangan Sinta kembali dikantornya. Sinta merupakan atasan mereka yang sangat baik dan loyal terhadap mereka, sehingga mereka sangat dekat.


Sinta tidak segan-segan mengajari atau menegur cara mereka dengan baik-baik, sehingga dia merupakan sosok pimpinan yang diidolakan bawahannya.

__ADS_1


" Selamat pagi Bu Sinta."


" Selamat datang kembali dikantor ini Bu."


" Ya terimakasih."


Senyum mengembang dibibir Sinta, menyapa ramah lalu menggangguk membalas sapaan mereka, yang menyambut kedatangan nya dengan hangat.


Sinta memasuki ruangan kerjanya yang dulu, duduk di kursi manager, yang sekarang dibuat satu ruangan dengan CEO Gilang. yang dibuat pindah dan satu kantor dengan Sinta, dia sengaja melakukan hal ini agar bisa bertemu Sinta untuk seterusnya.


" Kenapa ruangan menjadi aneh seperti ini, dan semua digabung antara CEO dan manager." tanya Sinta mengedarkan pandangannya keseliking ruangan yang terlihat rapi dan bersih, bahkan banyak sekali bunga disetiap sudut, bunga anyelir kesayangannya.


" Gilang, oke baiklah."


Sinta duduk, sambil memperhatikan Gilang yang baru datang. langkah panjang Gilang yang membuat pesona ketampanan semakin terlihat. Sinta merasa detak jantung nya berpacu, namun dia kembali menguasai keadaan.


" Sadar Sinta, kamu tidak boleh terpesona pada Gilang. dia bukan yang dulu lagi, ingat kamu sedang hamil anaknya Dani, laki-laki yang masih berstatus suami mu, meski sebentar lagi akan berakhir." gumam Sinta.


" Selamat pagi Sinta."

__ADS_1


" Pagi Tuan."


" Ha...ha.... Sinta, bersikap santai dan bersahabat lah dengan ku, bagaimana pun aku tetap Gilang sahabat kecilmu dulu." ucap Gilang sambil menatap Sinta dalam dan penuh perasaan sayang yang tidak pernah berubah.


"Tapi disini aku tidak melihat sahabatku Gilang, yang dulu sangat dekat dengan ku, melainkan seorang CEO perusahaan besar yang telah menjebak perusahaan suamiku."


" Benarkan itu, baiklah. jika kamu mengganggap aku bukan Gilang yang dulu. maka bukan perusahaan ini dan yang dikelola suamimu saja yang akan aku rebut, tapi kamu juga akan aku jadikan wanita ku."


" Apa? ingat! tuan Gilang. aku ini wanita yang sudah menikah." Sinta berdiri namun karena posisi nya yang tidak tepat, dia kehilangan keseimbangan, dan hampir jatuh, refleks Gilang menarik dan langsung mendekap Sinta kedalam pelukannya, Gilang sadar jika perbuatan nya ini salah, namun dia juga tidak bisa mengendalikan perasaan rindu dan cintanya pada Sinta, yang semakin besar setelah mereka kembali bertemu.


" Lepas Gilang." meronta-ronta.


"Sinta, aku sudah tahu semua. pernikahan mu tidak sehat dan sudah diambang kehancuran, percayalah aku ingin kita kembali bersahabat seperti dulu, lupakan kata-kata ku barusan yang sudah menyinggung mu, inti nya aku kembali untuk membantu mu Sinta, sahabatku." ucap Gilang jujur.


Sinta menatap kejujuran dari mata Gilang, meskipun begitu dia tetap sok angkuh dan menjaga jarak dari Gilang.


" Baiklah, tapi aku ingin kamu mengerti tuan Gilang, jika aku masih berstatus istri orang, aku harap kamu mau menjaga sikap mu ini."


" Baiklah," Gilang melepaskan rangkulannya.

__ADS_1


__ADS_2