Pelakor Cantik Itu, Aku

Pelakor Cantik Itu, Aku
Bantuan Sinta


__ADS_3

"Dani, uang kita masih kurang. padahal ini sudah termasuk perhiasan mama ikut dijual."


"Nggak Papa ma, ini cukup untuk biaya operasi melahirkan dulu. untuk selanjutnya Dani akan usahakan menjual rumah kami segera."


" Ya nak, mama doakan semoga rumah itu laku terjual dengan harga mahal. sehingga kita bisa melunasi biaya-biaya pengobatan Lani dan anak kalian."


Setelah mengurus semua nya, Lani segera dioperasi. dia melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik. tapi bayi itu mengalami kelainan. dan harus mendapatkan perawatan intensif, ditambah lagi dia lahir prematur.


"Maafkan kami nak, sekarang kamu ikut menderita gara-gara kami orang tuamu." gumam Dani menatap bayi mungil yang sudah terpasang selang-selang ditubuh mungilnya, Dani hanya bisa menangis menatap bayi yang tidak berdosa itu, sedangkan Lani masih terbaring koma.


***


Dani mengayunkan langkah tanpa arah, dia benar-benar hancur. tanpa peduli lagi derasnya hujan membasahi tubuhnya. dia terus berjalan dan berjalan, kondisi tubuh Dani sangat lemah, sesak di dadanya kembali membuatnya kesakitan hingga dia ambruk didepan pintu masuk rumah Sinta.


Sinta yang sedang main dengan putranya Rayanza, kaget. ketika mendengar seperti sesuatu yang jatuh didepan pintu masuk rumah mereka.


" Sebentar ya sayang, mama lihat dulu."


Sinta yang penasaran, langsung membuka pintu, Cekklek......seketika dia berteriak histeris begitu melihat dihadapan nya Dani tertidur menelungkup dilantai, dengan pakaian yang basah kuyup.


"Astaga, mas Dani."


Sinta langsung membantu tubuh Dani yang sangat lemah, sesekali Dani terbatuk-batuk dengan bibir bergetar dan pucat.


" Mas, kenapa bisa seperti ini?"

__ADS_1


Dani mendekati Sinta, dia mengangkat kedua tangannya sambil menagis.


" Sinta, maafkan mas....hu...hu... meskipun penyesalan ini sudah terlambat. sekarang mas dan Lani sudah mendapatkan pembalasan dari perbuatan kami dulu nya. Lani juga sudah menyampaikan permintaan maafnya padamu, sekarang dia sedang kritis." setelah mengucapkan itu Dani pingsan.


Tidak dapat dipungkiri, Sinta ikut menagis melihat kondisi Dani yang sekarang, kurus dan tidak terurus lagi.


" Mas...mas...kamu kenapa, Bagun lah mas."


Dani yang pingsan segera dibawa ke kamar tamu, dibantu oleh ayahnya dan Gilang yang kebetulan juga berkunjung kerumah Sinta.


Sinta mengeluarkan pakaian Dani yang masih tersisa beberapa potong dirumahnya, Sinta menyerahkan pada Gilang untuk membantu mengganti pakaian Dani.


" Sinta, berikan teh hangat ini pada Dani."


Sinta meletakkan minyak kayu putih yang semula dipakai ke Dani.


" Mas, bangunlah. minum lah teh hangat ini. agar kondisi mu membaik."


Dani yang masih lemas, berusaha membuka matanya. dan melirik kearah Sinta yang membantunya meminum teh hangatnya.


" Mas minumlah obat ini."


Sinta membuka bungkusan obat, yang dulu sering diminum Dani, karena dia sudah hafal dengan penyakit dan daya tubuh Dani yang rentan terhadap penyakit pancaroba.


Setelah meminum obat Dani tertidur kembali, Sinta membantu menyelimuti tubuh Dani. Rayanza seakan paham, dia menatap Dani sambil sesekali tersenyum mengulurkan tangannya untuk minta digendong oleh papanya itu.

__ADS_1


" Sebaiknya, kita biarkan Dani istrahat dulu." ucap ibu.


semua pergi meninggalkan kamar Dani, Sinta menutup pintu secara perlahan. dan kembali berkumpul diruang tamu.


"Ibu kasihan melihat kondisi Dani yang sekarang."


" Sepertinya mas Dani tertekan, aku harus mencari informasi tentang permasalahan yang dihadapinya sekarang." Sinta menghubungi mama Dani yang sekarang dirumah sakit menunggui Lani dan bayinya.


Sinta ditemani oleh Gilang, segera pergi kerumah sakit tempat Lani dirawat. Sinta ikut terenyuh saat melihat Lani yang terbaring tidak berdaya. begitu juga dengan bayinya.


" Gilang, aku merasa bersalah dan sudah memaafkan mereka, bagaimana pun juga, tidak ada yang sempurna. aku juga merasa bersalah dalam hal ini." ucap Sinta.


" Apa rencana mu setelah ini Sinta."


" Gilang, aku akan membagi dua perusahaan mas Dani dengan ku. bagaimana pun juga aku melihat sendiri perjuangan mas Dani merintis perusahaan itu. dan aku juga tidak mempunyai hak jika menguasai semuanya, termasuk perusahaan induk."


" Tapi Sinta, apa kamu yakin."


" Yakin sekali Gilang, dan aku akan melunasi semua hutang-hutang mertuaku dulu nya terhadap perusahaan mu Gilang."


" Tidak perlu Sinta, anggap saja semua sudah lunas. aku malu pada diriku. kamu begitu tulus dan pemaaf, Sinta."


" Gilang kita hanya manusia biasa, Allah saja memaafkan kesalahan umatnya. apa lagi kita yang hanya manusia biasa."


Sore itu juga, Sinta melunasi biaya-biaya pengobatan Lani. dan juga membawa Dani kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan juga.

__ADS_1


__ADS_2