
" Dokter, wanita itu terlihat kumuh dan kotor. bisakah saya meminta bantuan salah seorang perawat untuk memandikan dan membersihkan nya, dan tolong ganti pakaian nya dengan yang baru saya belikan ini." terang Rey, merasa prihatin.
"Baiklah tuan, saya bersedia membantu. karena ini juga sudah tugas saya." perawat wanita tersebut mengambil bungkusan dari tangan Rey.
" Tapi Tuan." Perawat wanita tersebut tiba-tiba terlihat ragu.
" Ya, kenapa?" Rey mengerutkan keningnya bingung.
" Maaf sebelumnya, tapi aku takut jika wanita ini terkena gangguan jiwa, dan akan mengamuk jika aku menyentuhnya nanti."
" Tidak, dia terlihat kotor dan berantakan seperti itu. karena kecelakaan mobilku, dia jatuh bertepatan dengan genangan air disebelah nya." ucap Rey, karena dia berfikir ibu tersebut kotor dan berantakan benar-benar murni kecelakaan.
" Baiklah, kalau Begitu."
__ADS_1
Perawat yang bernama Rani, memberanikan dirinya untuk masuk. meskipun dalam hatinya terus berdoa.
***
Dari dalam ruangan perawatan ini, aku mendengar semua percakapan dia orang yang terdengar dari depan pintu masuk ruangan ku.
" Ternyata, aku berada disebuah rumah sakit, aku harus bersikap tenang agar mereka berfikir aku bukan salah seorang pasien yang kabur dari rumah sakit jiwa." gumamku sambil kembali memejamkan mata berpura-pura tidur ketika pintu masuk ruangan ku hendak dibuka dari luar.
" Cekklek..., pintu terbuka, seorang perawat wanita berpakaian putih, terlihat ragu-ragu melangkah mendekati ku.
Aku langsung membuka mata, sambil tersenyum kearah nya.
" Boleh, silahkan nak."
__ADS_1
Aku menurut saja, ketika tangan lembut perawat itu mulai membersihkan tubuh dan wajah ku. bahkan setelah dibersihkan diapun membantu menyisir dan merapikan rambut ku, sehingga Wajahku yang asli, kembali terlihat. bahkan aku sendiri hampir lupa dengan bentuk wajahku, mengingat setelah sekian lama aku tidak pernah mengurus diriku sendiri, tapi semenjak bertemu dengan seorang gadis yang aku pikir adalah Berliana kecilku, semangat ku kembali bangkit. bahkan aku ingin menjadi manusia yang dianggap normal, agar bisa bebas, berusaha menegakkan emosi dan perasaan marah yang sering meledak-ledak jika teringat Anakku.
" Subhanallah, ibu sangat cantik. bahkan ibu terlihat bukan orang Indonesia asli." tutur perawat itu kagum.
Aku hanya tersenyum lembut, menanggapi ucapan perempuan dihadapan ku ini, pikiran ku kembali menerawang pada beberapa tahun silam. sehingga tanpa sadar aku mulai menceritakan perjalanan hidup ku pada perawat yang tidak aku kenal sama sekali, ucapan ku terlontar begitu saja.
Ketika rumahtangga ku yang indah hancur. ditambah lagi hinaan orang-orang yang beranggapan jika aku ini adalah pelakor. satu hal yang sama sekali tidak pernah aku lakukan.
Malam indah, saat menjamu kolega bisnis, suamiku. sengaja memintaku untuk menemaninya, diluar dugaan. aku yang sedang hamil muda, diperkosa dan dijadikan bahan taruhan oleh suamiku sendiri, untuk memenangkan sebuah proyek besar, sehingga membawa perubahan yang besar pada kekayaan kami.
Setelah kejadian buruk itu, aku merasa tidak terima dengan kenyataan dan sangat membenci laki-laki yang sudah menjadi suamiku, hingga aku pun memutuskan untuk meminta cerai darinya, setelah bercerai, suamiku malah membalikkan fakta didepan publik untuk menjatuhkan nama baikku, dia dendam terhadap ku dan menuduh ku selingkuh dengan sopir pribadiku sendiri, bahkan anak yang aku kandung merupakan hasil perselingkuhan.
Aku mendapat cacian dan penghinaan semua orang, penderitaan ku tidak cukup sampai disitu, saat anakku lahir. diapun diculik dan dibawa pergi oleh perempuan, yang aku yakini istri dari sopir pribadi ku sendiri yang tidak mengetahui kejadian dan kenyataan yang sesungguhnya.
__ADS_1
"Perjalanan hidup ibu, begitu menyedihkan." perawat yang bernama Rani Tanpa sadar menangis, begitu juga dengan Rey, dia seakan ingin mati berdiri didepan pintu, saat secara tidak langsung dia mendengar kan semua nya.