
Aku tidak mampu meluapkan rasa bahagia ini, dan langsung mengabari kedua orang tuaku dan juga mertuaku. karena aku sangat yakin mereka juga sudah lama menunggu berita yang sangat membahagiakan ini.
Mama Dani, yang mendengar tentang kehamilan menantunya langsung dari mulut Dani, berlonjak kegirangan beberapa kali dia sujud syukur.
" Alhamdulillah, ternyata anak dan menantu ku tidak mandul, aku begitu bersyukur padamu ya Allah. meskipun sekian lama menunggu, akirnya engkau mengabulkan doa-doa kami."
Rasanya begitu indah membayangkan jika sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah, aku pun mencoba memperbaiki diri dengan memperlakukan istri ku sebaik mungkin.
Setelah Sinta sembuh, Aku sangat perhatian pada kesehatan istri ku, termasuk memberikan vitamin dan obat nya tepat waktu. memperlakukan nya dengan sangat baik termasuk kata-kata romantis agar suasana hatinya tetap stabil, bahkan kedua orang tuaku pun, sengaja pindah kerumah kami, agar bisa mengawasi Sinta agar selalu dalam kondisi sehat, mengingat siangnya aku harus bekerja kekantor.
Sikap Dani sangat manis dan penuh perhatian, membuat rasa sakit Sinta selama ini berangsur-angsur membaik. dan sudah bisa sering-sering tersenyum ceria kembali.
Dani bahkan sengaja mencari-cari alasan setiap Lani berusaha menghubungi nya. Jika dia tahu istri nya tidak mandul, Dani mungkin tidak akan meniduri Lani, meskipun misi semula hanya ingin membuktikan jika dia laki-laki subur.
__ADS_1
“ Ya, aku harus segera mengakhiri hubungan ini dengan Lani.”
Dani membulat kan tekadnya, dia menghubungi Lani dan meminta ketemuan empat mata, namun. tidak dirumah Lani lagi, melainkan ruangan khusus. dimana tidak seorang bisa mengetahui, sekarang Dani mulai merasa takut, takut kehilangan Sinta dan calon anaknya.
Dani meremas tangan nya, membulatkan tekad untuk mengakhiri hubungan terlarang mereka, diruangan VVIP ini dia mulai resah menunggu Lani, berharap gadis itu tidak keberatan menerima keputusan nya nanti.
Tidak lama menunggu, Lani sayang menemuinya. dan langsung ingin memeluk. tapi Dani berusaha menghindar.
“ Mas Dani, aku merindukan mu mas. Kamu kenapa sih mas, akhir-akhir ini berubah banget bahkan nggak pernah mengunjungi ku kerumah kita lagi.”
" Maafkan Lani."
"Maaf, untuk apa mas?"
__ADS_1
“ Lani, maafkan mas ya. Mungkin hubungan kita yang nggak jelas ini, harus kita akiri saja sampai disini.”
“ Mas kamu tidak becanda Khan, dan…apa maksudmu berbicara seperti ini mas. Hu…hu…hu….cepat bilang jika kamu hanya ngeprank aku mas.”
Lani seketika menangis, bahu perempuan cantik itu bergetar menahan isakan tangis, meskipun dia belum yakin jika ucapan Dani ini sungguh-sunguh.
“ Aku serius Lani, mungkin keputusan ku ini tidak adil bagimu, tapi aku benar-benar nggak punya pilihan lain. Sekali lagi mas minta maaf ya Lani.”
“ Semudah itu mas, aku sudah menyerahkan semuanya, dan kamu dengan mudah nya mengatakan ingin mengakhiri dengan ku. Tidak…tidak…mas aku tidak rela.” air mata Lani membanjiri wajahnya.
“ Lani, aku akan memberikan rumah itu atas namamu, dan modal usaha yang cukup untuk mu, aku rasa itu sudah sepantasnya kamu terima.”
Dani berjalan meninggalkan Lani, yang masih menangis, meskipun hatinya merasa bersalah terhadap gadis itu, kesehatan dan kehamilan Sinta adalah prioritas nya saat ini
__ADS_1
“ Ya Allah, aku adalah laki-laki yang paling berdosa, aku malu pada diriku sendiri. Apakah dengan kehamilan istri ku. Merupakan jalan untuk ku bertaubat.”