
Pagi-pagi sekali Sinta berusaha untuk kuat, dia sengaja tidak memberitahu tentang kepergian nya pada bi jah. Mengingat Dani pasti menanyakan keberadaan nya pada bi jah jika pulang nanti, Sinta ingin menyembunyikan kondisinya pada semua orang, terutama Dani.
Sinta langsung menuju rumah sakit tempat sahabatnya Dita bekerja, karena sudah memberi tahu terlebih dahulu, sehingga Sinta tidak perlu untuk mengantri dan bisa langsung menuju ruang dokter. Dia mengikuti saran dari sahabat nya itu, yang akan memeriksa langsung kondisi sekarang.
“ Sinta, pa kabar. Tumben kamu minta aku untuk periksa, emang kamu sakit apa sih.” Ucap Dita yang merupakan dokter kandungan.
“ Aku akhir-akhir ini sering pusing dan mual, bahkan aku merasa banyak perubahan aneh yang aku rasakan, tapi aku takut untuk berharap lebih, sehingga aku lebih nyaman jika kamu yang menangani ku.”
Dita menggangguk pelan, nampak dia sedang berfikir, meskipun belum memeriksa Sinta secara medis.
“ Sinta, kapan terakhir kami mens?”
“ Coba aku ingat-ingat dulu.” Sinta menegang pelipis nya, mengingat kembali terakhir periode haid datang bulannya.
“ Aku sudah telat tiga Minggu Dit.”
“ Berbaringlah Sinta, aku akan memeriksa mu.”
Sinta mengikuti perintah Dita, dia diam saja, saat gel berwana bening itu dioleskan diperut nya, kemudian Dita langsung melakukan USG.
“ Oya Dit, bukankah ini pemeriksa untuk orang yang sedang hamil?”
__ADS_1
“Iya Sinta, karena berdasarkan keluhan-keluhan mu barusan, aku memprediksi jika kamu tengah hamil muda, untuk lebih jelas nya kita langsung USG saja.”
“Degh…” detak jantung Sinta berpacu kencang, tangannya terasa dingin. harap-harap cemas menunggu hasil pemeriksaan sahabat nya.
“Alhamdulillah, Sinta. Kamu benar-benar hamil.”
Aku tercekat mendengar penuturan sahabatku, sudah sekian lama aku menantikan saat-saat indah seperti ini, tanpa sadar air mata menetes dikedua belah pipiku.
“Alhamdulillah, aku bahagia banget, meskipun tanpa ada mas Dani lagi disampingku nanti. Seandainya pelakor itu tidak hadir ditengah-tengah pernikahan kami, mungkin ini berita yang paling membahagiakan bagi kami berdua.” Ucap ku diantara rasa bahagia dan sedih yang sedang bercampur aduk dihatiku yang sedang galau.
“ Sinta, bagaimana dengan suamimu sekarang. Ehm …maksudku, apa mereka masih berhubungan?” Tanya Dita hati-hati.
“ Ya Dita, aku sudah mengusirnya dari rumah, dan semenjak kejadian itu sikap mas Dani juga mulai berubah.“
“ Iya Dita, Aku akan menjaga dan menyayangi anakku sebaik mungkin, dialah sumber kebahagiaan dan harapan ku saat ini, terimakasih ya Dita, Aku pamit pulang dulu.”
“ Aku akan memberikan, beberapa vitamin dan obat, agar rasa mual dan pusing mu bisa sedikit berkurang. Jaga kesehatan dan kehamilan mu sebaik-baiknya ya.” Pesan Dita.
Sinta kembali pulang, sampai dirumah, nampak Dani tengah resah menunggu kepulangan nya.
“ Dari mana saja kamu?”
__ADS_1
“ Aku Cuma pergi sebentar kerumah Dita, mas.”
“ Untuk apa? Kamu yakin hanya pergi kerumah Dita atau bertemu dengan laki-laki lain?”
“ Apa maksudmu mas, kamu pikir aku perempuan apa. Aku tidak serendah dirimu mas.”
Aku tidak mampu menahan cairan bening yang sudah ingin tumpah, tega mas Dani menuduh ku seperti ini.”
“ Sinta, dengar aku jika sedang bicara.” Teriak mas Dani.
Aku tidak menghiraukan nya, aku menenggelamkan wajahku di bantal lalu menangis sesenggukan, aku merasa rugi mengeluarkan air mata untuk laki-laki seperti mas Dani. Tapi tuduhan nya barusan membuatku benar-benar sakit.
Melihat air mata Sinta, timbul rasa bersalah di hati Dani, dia berjalan mendekati Sinta yang masih menangis.
“ Sayang, maafkan mas. Mas Cuma sangat kawathir melihat mu pergi keluar rumah sendirian, apa salah nya hubungi mas buat nganterin atau sopir.”
“ Gimana aku bisa ngubungi mu mas, kamu terlalu sibuk. Bahkan seperti nya kamu sudah lupa jika mempunyai istri.”
“ Bukan seperti itu Sinta, mas benar-benar minta maaf.”
“ Mas aku ingin sendiri dulu, tolong tinggalkan aku.”
__ADS_1
“ Baiklah sayang.”