Pelakor Cantik Itu, Aku

Pelakor Cantik Itu, Aku
Rencana Dani


__ADS_3

Kondisi Lani sekarang mulai agak baikan, sehingga dia sudah diperbolehkan untuk pulang, tapi dia terlihat bingung melihat tingkah suaminya, laki-laki itu berjalan mondar-mandir dihadapan Lani, sambil sesekali mengusap kasar wajahnya.


Dani terlihat resah, seperti ada sesuatu yang penting ingin dia sampai kan kepada Lani. tapi terlihat keraguan dari sikap yang ditunjukkan nya.


" Mas, ada apa?"


" Lani, mas ingin buka usaha baru untuk masa depan kita, kamu tahu sendirikan semua aset mas sudah habis. sedangkan kita butuh uang untuk pengobatan dan biaya persalinanmu nantinya. yang mungkin jumlah nya tidak sedikit."


" Baguslah mas, aku sangat mendukung keinginanmu tersebut."


" Tapi mas butuh modal, Lani. apa kamu bisa membantu mas."


"Mas, uang tabunganku tidak terlalu banyak, dan perhiasan ini juga pemberian mu, dan aku rasa ini tidak mungkin cukup."

__ADS_1


" Sebaiknya, uang itu kamu simpan sendiri. buat jaga-jaga. gimana kalo rumah ini kita jual. karena biaya untuk membuka usaha franchase makanan itu butuh dana besar, termasuk sewa tempat yang strategis."


" Aku nggak mau mas, kita mau tinggal dimana?"


" Kita berdua akan pindah kerumah mama, dia juga setuju jika kita tinggal bareng dia."


" Kenapa harus rumah ini mas, kenapa tidak rumah besar mu dengan Sinta saja yang kamu jual."


" Jaga ucapan mu Lani, masih Untung Sinta tidak menuntut dan memenjarakan kita. aku tidak akan mengambil rumah itu, Karena sudah menjadi milik anakku Rayanza."


" Maka, justru karena itu aku ingin kita buka usaha baru Lani, mas sudah tidak punya apa-apa lagi, papa sudah menghamburkan uang dan hutang, atas nama perusahaan. sekarang kita harus berjuang. mas tidak ingin merepotkan dan meminta bantuan Sinta. mas tidak punya muka untuk itu."


Lani terhenyak, dia menangis dalam diam. satu persatu harta yang dia dapatkan bersama Dani mulai lepas, termasuk rumah ini.

__ADS_1


" Kenapa harus rumah ini, mas." ucap Lani lirih, diiringi isakan tangis nya.


" Kita tidak punya pilihan lain, Lani."


" Gimana, jika aku bantu kamu cari uang, dengan ikut mencari kerja mas."


"Tidak Lani, lihat perutmu sudah tidak memungkinkan untuk bekerja lagi. sebaiknya kamu fokus untuk senam hamil dirumah, biar nanti pas kamu melahirkan kamu tidak kesulitan, moga saja kamu juga bisa melaluinya dengan proses normal seperti keinginan mu itu." Dani memberikan pengertian penuh dengan kesabaran, sehingga Lani bisa menerima alasannya dengan tenang.


Sorenya, mama Dani ditemani sopir pribadinya membantu kepindahan Lani dan Dani, meskipun dia tidak menyukai Lani untuk menjadi menantunya, tapi dia juga tidak mempunyai pilihan lain, mau tidak mau. Lani sekarang sah menjadi menantunya dan mengandung cucu keduanya setelah Rayanza, anak hasil dari pernikahan Sinta dan Dani.


Hari itu, mereka juga terpaksa memberhentikan Bi jah untuk bekerja dirumah mereka. meskipun berat, tapi bi jah terpaksa menerima keputusan Dani, dari pada tetap bertahan. tapi tidak diberi gaji, juga percuma. sehingga diapun memutus untuk pulang ke kampung nya saja.


Sebelum pulang ke kampung, Bi jah menyempatkan diri untuk menghubungi Sinta. meminta maaf kepada wanita itu sekalian pamit, Sinta yang berhati tulus menerima dengan ikhlas termasuk perkataan Bi jah yang berterus terang mengakui kesalahannya.

__ADS_1


"Iya Bi, aku sudah memaafkan mu dengan ikhlas. semoga dengan kejadian ini. memberikan pelajaran berharga dalam kehidupan kita. agar bisa menjadi insan yang lebih baik lagi."


" Iya, terimakasih banyak Bu. semoga ibu selalu sehat dan diberikan kebagian lahir batin dari Allah." mereka pun menutup Panggilan singkat itu.


__ADS_2