
" Sinta, kamu sangat cantik dan mempesona."
Gilang memperhatikan dari balik ruangan kerja gedung perusahaannya, nampak dari kejauhan Sinta dan Dani turun dari mobil. yang sengaja diparkir didepan deretan mobil karyawan Gilang yang lain.
Gilang sudah dapat menduga sebelum nya, jika Dani dan Sinta pasti bakal menemui nya secara khusus. mengingat perusahaan yang dulu pernah dipimpin Sinta terancam jatuh ke tangan Gilang, jika mereka tidak mengembalikan hutang-hutang yang sudah dilakukan oleh papa Dani.
"Ayo sayang."
Dani menjulurkan tangannya, dia ingin membimbing Sinta berjalan menuju ruangan Gilang. namun refleks Sinta mengelak.
" Ingat mas! aku mau membantumu bukan berarti kita baikan lagi, tapi ingat janjimu. jika aku berhasil mempertahankan perusahaan itu, maka aku dan calon anakku ini, akan menjadi pemilik sah Nya."
" Iya sayang, bahkan mas akan lebih tenang jika itu jatuh ke tangan mu dan anak kita." ucap Dani terlihat sangat tenang.
Seiring dengan langkah Sinta, yang sudah semakin mendekat keruangan Gilang. detak jantung Gilang sudah berpacu dengan tidak normal lagi, wibawa dan ketegasan nya semula seakan ingin roboh. dia benar-benar gugup setelah sekian lama tidak bertemu, sekarang dia kembali melihat cinta pertama nya datang menemuinya.
" Tahan dirimu Gilang, bersikap tegas dan jaga wibawa mu. jangan sampai kamu terlihat lemah dihadapan Sinta, terutama suaminya yang merupakan laki-laki brengsek yang tidak jauh beda dengan ayahnya Hendrawan." gumam Gilang berusaha mengendalikan perasaannya yang saat ini begitu ingin menarik Sinta kedalam pelukannya saking rindu nya pada sahabat masa kecilnya itu.
__ADS_1
Setelah Dani menemui asisten Gilang, mereka berdua diantar keruangan Gilang yang mewah dan luas. Gilang berpura-pura menyibukkan dirinya dengan beberapa berkas kerjasama dihadapan nya ketika pintu ruangan di ketuk.
Tok...tok..tok..
"Mmhhm....masuk."
Degh....Sinta tercekat, dia seakan tidak percaya jika CEO tampan dihadapannya ini benar-benar Gilang. namun dia berusaha bersikap profesional, begitu juga dengan Gilang yang menyambut kedatangan mereka, berpura-pura seolah-olah dia belum mengenal Sinta, sedangkan hatinya saat ini bergemuruh bagaikan genderang mau perang.
Setelah mempersilahkan keduanya duduk di sofa yang terdapat ditengah-tengah ruangan mewah ini. Gilang mulai bersuara.
" Maaf kalian berdua siapa, dan untuk apa menemuiku?"
"Ooo...jadi anda berdua anak dan menantu Hendrawan?"
" Ya, Dia adalah ayahku. laki-laki tua yang kamu jebak dan iming-imingi uang untuk melancarkan aksi busukmu yang menginginkan perusahaan kami." Dani yang masih terbakar emosi, langsung berbicara pada pokok permasalahannya.
" Ha...ha... sekarang apa yang kalian inginkan?" Gilang masih terlihat tenang, sesekali dia melirik Sinta.
__ADS_1
"Kami ingin kamu mengembalikan surat-surat berharga perusahaan ku." ucap Sinta mulai bersuara.
Detak jantung Gilang semakin berpacu, setelah sekian lama merindukan suara lembut Sinta. meskipun saat ini terdengar tidak bersahabat.
"Oke, perkara mudah bagiku. tapi ada syaratnya." Gilang sudah mempunyai rencana besar setelah ini, yaitu akan membuat bangkrut induk perusahaan yang dipimpin Dani.
"Syarat?"
"Lunasi hutang-hutang papamu."
" Baik, tapi beri kami waktu."
" Aku punya pilihan untuk kalian berdua."
" Pilihan apa?"
"Aku tahu jika perusahaan cabang ini akan dikelola istri mu, dan aku juga akan memberikan surat-surat ini pada kalian sekarang. termasuk mendanai perusahaan indukmu yang sedang dalam masa kehancuran."
__ADS_1
"Jangan bertele-tele, katakan apa pokok pembicaraan mu."
" Aku beri kalian berdua waktu satu tahun, untuk mengembalikan dana dan modal yang akan aku berikan untuk induk perusahaan mu, tapi jika dalam waktu satu tahun kamu gagal. maka perusahaan induk tersebut jatuh ke tangan ku. bagaimana tuan Dani apa kamu setuju?"