
Aku sangat bahagia begitu mengetahui berita kehamilan ku ini, begitu juga mas Dani, yang sekarang mempekerjakan seorang pelayan untuk membantu ku, mas Dani sangat sibuk akhir-akhir ini.
Perusahaan mas Dani yang diambang kehancuran, membuat dia bekerja tanpa lelah, berangkat pagi dan pulang sudah sangat larut, aku kasihan melihat mas Dani yang banting tulang bekerja, sedangkan aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu nya.
Kebencian ku bertambah setiap melihat perubahan Sinta, dia terlihat tenang dan semakin cantik. bahkan dia tidak terlihat terbebani dengan permasalahan yang tengah dihadapi mas Dani.
Siang ini mas Dani pulang lebih awal, tapi dia terlihat begitu panik sambil memegang sebuah surat panggilan, aku duduk disebelah nya sambil mencuri-curi pandang pada isi surat tersebut.
Sontak mataku membulat, surat tersebut adalah surat sidang perceraian mas Dani dan Sinta. bagaikan mendapatkan durian runtuh. aku tersenyum senang, bahkan hatiku saat ini terlonjak bahagia, mengingat setelah ini aku akan memiliki mas Dani seutuhnya.
Termasuk harta kekayaan mas Dani, yang sebentar lagi akan beralih menjadi milikku dan anakku yang aku kandung, aku sangat yakin perusahaan mas Dani pasti akan kembali bangkit dan berkembang, dan disaat itulah aku akan tersenyum senang melihat kehancuran dan rasa penyesalan Sinta, yang pergi meninggalkan mas Dani saat dia terpuruk dan hancur seperti ini.
Perlahan aku memijid bahu mas Dani, sambil memancing obrolan.
__ADS_1
" Mas, apa mbak Sinta jadi minta cerai pada mu?"
" Ya Lani."
" Kamu yang sabar ya mas, masih ada aku yang setia mendampingi mu dalam suka dan duka, aku yakin sebentar lagi kamu pasti sukses seperti sedia kala. karena kamu laki-laki pekerja keras mas, tetap semangat ya sayang."
" Terimakasih Lani atas motivasi dari mu."
" Tentu mas."
Pada semester pertama kehamilan ku, tidak menunjukkan permasalahan berarti, tapi semakin bertambah nya usia kandungan ku. Aku mulai sering merasa sakit, terutama dibagan organ intim ku ini. namun sebisa mungkin aku menyembunyikan dari mas Dani, karena berfikir jika ini hal biasa yang sering dialami oleh perempuan yang sedang mengandung.
Bahkan aku juga mengalami keputihan yang banyak, kondisi fisikku juga semakin menurun. Termasuk selera makan yang selalu berkurang. sering aku ingin memberitahukan pada mas Dani, namun selalu gagal, mengingat dia juga pusing dengan masalah perceraian dan perusahaan nya yang belum juga menunjukkan perubahan berarti.
__ADS_1
Malam ini aku merasa perutku sakit banget, aku bingung harus mengadu pada siapa lagi selain suamiku mas Dani. Perut dan area pribadiku sangat sakit dan tersa panas, bahkan terlihat sedikit bengkak.
“ Halo mas.”
“ Lani, mas sudah sering peringatkan untuk tidak menghubungi mas jika sedang lembur seperti ini.” bentak mas Dani terdengar emosi.
“ Aku tahu mas, tapi perutku benar-benar sakit banget mas.” Ucap ku sambil meringis menahan rasa perih nya yang teramat sangat, bahkan aku berkeringat dingin.
“ Sakit kenapa, apa kamu salah makan sehingga bayi kita kepanasan?”
“ Tidak mas, aku sering merasakan hal ini, tapi tidak sesakit ini sebelumnya, bahkan ******** ku sangat sakit dan ada flek nya juga mas.” Suaraku bergetar menahan rasa perih tersebut, dan mengganti kembali ****** ***** yang aku kenakan dengan yang baru.
“ Lani tunggu ya, mas akan segera pulang, Malam ini kita akan periksa langsung kerumah dokter spesialis kandungan mu.”
__ADS_1
" Baiklah, mas."