Pelakor Cantik Itu, Aku

Pelakor Cantik Itu, Aku
Sekongkol


__ADS_3

" Mas cepat bangun, ini udah hampir sore. kapan kita berdua bisa jalan-jalan. aku udah nggak sabar lagi pengen belanja, jangan bilang mas lupa ya janji-janji mas."


Dani yang masih kecapean, dan ngantuk habis percintaan panjang barusan. mengucek matanya perlahan.


" Ayo mas, nanti keburu Bu Sinta pulang. dan rencana kita kembali gagal."


" Iya, mas siap-siap dulu."


Setelah kembali bersih dan rapi, pasangan selingkuh itu berjalan bergandengan meninggalkan lokasi hotel, senyum terukir indah dibibir Lani ketika Dani yang royal membelikan apapun barang-barang mahal yang diinginkan nya.


" Sudah sayang?"


" Belum mas, aku masih ingin ponsel keluaran terbaru. seperti punya Bu Sinta."


Dani mulai resah, sesekali dia melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


" Mudah-mudahan saja Sinta belum pulang, kalau nggak bisa berabe melihat aku pulang bareng Lani dengan membawa banyak belanjaan mahal." gumam Dani sambil mengusap wajah.


" Mas aku pengen ponsel yang ini, warnanya juga mirip dengan ponselmu. gimana menurutmu mas, bagus tidak?"


" Bagus sayang,"


" Mas aku ambil yang ini ya." ucap Lani pada pelayan konter.


Setelah menerima ponsel barunya, Lani terlihat sangat bahagia, pulang membawa belanjaan yang cukup banyak termasuk Hp baru dengan harga belasan juta. yang mustahil didapat kan Lani jika tidak dengan cara seperti ini.


Dani melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia harus sampai dirumah, sebelum Sinta pulang.


" Syukurlah."


Dani tersenyum lega saat melihat belum ada mobil Sinta yang terparkir dihalaman rumah mereka.

__ADS_1


"Cepat masuk ke kamarmu Lani, berhubung Sinta belum pulang."


" Baiklah mas Dani ku sayang."


Lani mencium sekilas bibir dan pipi Dani, namun tindakan mereka terlihat oleh pelayan mereka yang lain. kepalang tanggung, Dani pun memanggil mereka dan menyuruh untuk berkumpul diruang tengah, termasuk bi jah, pelayan yang paling dekat dengan Sinta selama ini.


" Ada apa Tuan?"


" Aku rasa kalian semua pasti sudah tahu tujuan ku mengumpulkan kalian disini, apa kalian masih betah bekerja dirumah ku?" tanya Dani tegas, menatap satu persatu wajah mereka.


" Masih Tuan."


" Kalau begitu tutup mulut kalian semua, apapun yang kalian lihat tentang aku dan Lani. jangan sampai ketahuan oleh Sinta. terutama kamu bi jah, aku akan menaikkan gaji kalian 25 persen dari biasanya, tapi ingat tutup mulut, kalian mengerti!"


" Mengerti Tuan."


" Bahkan saya akan memberikan bonus, bagi kalian yang mau aku ajak kerjasama."


" Sekarang kalian boleh pergi dan lanjutkan pekerjaan kalian masing-masing."


Lani dan Dani tersenyum senang, sekarang mereka aman dengan keberadaan pelayan, tinggal Sinta yang masih perlu waktu bagi Dani untuk membujuk dan meluluh istrinya itu. agar nantinya dia juga mau menerima Lani untuk dijadikan istri keduanya.


" Lani, berhubung Sinta belum balik. kita main bentar ya, aku belum puas dan ketagihan terus dengan permainan mu itu."


" Gimana jika Bu Sinta tiba-tiba pulang mendadak dan memergoki kita berdua mas."


" Makanya kita main dikamarmu saja, biar nanti nggak ribet."


" Oke mas Dani ku,"


Lani langsung menarik tangan Dani untuk masuk ke kamarnya, dia juga sudah ketagihan dengan aktivitas haram mereka itu, karena sesuatu yang salah, akan terasa jauh lebih nikmat dan memacu adrenalin, dari pada hubungan yang sah.

__ADS_1


" Sayang, bentar. mas akan suruh mang Ujang untuk berjaga-jaga, jika Sinta tiba-tiba pulang."


"Ide yang menarik mas."


Lani masuk ke kamar, mengganti pakaian dengan lingerie yang baru dibelinya. sedangkan Dani memanggil manggil Ujang.


Dani berbisik-bisik ditelinga laki-laki paruh baya tersebut, sambil menyelipkan beberapa lembar uang kertas ketangan mang Ujang.


" Ingat mang, langsung gedor pintu jika mobil Sinta tiba-tiba masuk perkarangan rumah nantinya."


" Siiip Tuan, tugas pertama siap dilaksanakan." jawabnya seraya mencium uang pemberian Dani dengan semangat.


Tanpa pikir panjang lagi, Dani langsung masuk ke kamar Lani, dan mengunci pintu. dia tertegun begitu melihat penampilan Lani yang tengah memakai lingerie, terbaring pasrah menunggu nya. mata Dani melotot seakan ingin keluar dari sarangnya.


" Sayang...sayang kamu benar-benar cantik dan seksi."


" Tentu mas, karena aku tidak sabar pengen punya anak darimu."


Semangat dan gairah Dani semakin memuncak, mendengar Lani ingin punya anak darinya. karena Dani juga ingin membuktikan jika dia tidak mandul dan seorang laki-laki normal.


Mereka berdua mulai bergumul dan melakukan kembali, Lani terus berusaha memberikan servis terbaik nya untuk Dani, sehingga dia berharap Dani tidak akan berselera lagi terhadap tubuh dan permainan Sinta. dan lebih memilih dirinya yang lebih unggul segala nya.


" Aku yakin Sinta tidak pernah memuaskan mas Dani seperti ini, dia itukan sok alim. berfikir jika dia adalah perempuan paling baik, padahal sesungguhnya dia itu juga gila hartanya mas Dani." gumam Lani mencibir.


***


Didapur Bi jah terlihat resah, perempuan paruh baya itu dilema. mengingat tawaran uang yang diberikan Dani, membuat dia benar-benar tergiur. sehingga dia berusaha untuk mengeyampingkan perasaan nya sebagai wanita, meskipun sesungguhnya dia menyayangi Sinta yang selama ini begitu baik.


"Mulai sekarang, kita harus menuruti perkataan Tuan Dani, agar hidup kita kedepannya bisa lebih baik lagi." ucap mang Ujang suami bisa jah.


" Iya mas, aku setuju."

__ADS_1


__ADS_2