Pelakor Cantik Itu, Aku

Pelakor Cantik Itu, Aku
Kelakuan Bi jah


__ADS_3

" Astaghfirullah, Sinta. kamu kenapa, Nak?"


"Mas Dani ma, dia marah dan pergi membawa pakaianya hu.hu..." Sinta menghambur memeluk mama, saat ini hatinya benar-benar sangat rapuh.


" Sudahlah sayang, kamu yang sabar ya nak."


Mama yang baru balik dari rumahnya sendiri, mengelus lembut punggung Sinta. hatinya ikut sakit dan merasa bersalah terhadap menantu nya.


" Maafkan mama Sinta, kamu menderita begini karena perbuatan Dani, anakku. mama malu dan sangat marah padanya. jangan takut sayang, mama akan selalu bersama dan mendukungmu."


" Iya, ma." balas Sinta tersendat-sendat.


Setelah melihat Sinta tidak terisak-isak lagi, mama membawa ketaman depan rumah duduk bersantai, mungkin dengan menghirup udara segar, pikiran Sinta akan sedikit lebih nyaman dan juga tenang.


" Bi jah, tolong bersihkan dan rapikan kamar Sinta seperti semula."


" Baik nyonya."


Bi jah, bergidik ngeri melihat perabotan berserakan dilantai. bahkan ada yang pecah. peralatan makeup Sinta bertebaran. semua habis diporak-porandakan Dani.

__ADS_1


" Ya Tuhan, sehancur ini kah rumahtangga mereka setelah kedatangan Lani ." gumam bi jah ikut sedih, bagaimana pun juga dia ikut membantu perselingkuhan mereka.


Namun meskipun sudah berusaha berbuat baik dan berubah, yang namanya uang ataupun harta, akan membuat seseorang mudah tergoda. tangan Bi jah maju saat melihat salah satu perhiasan Sinta yang ikut jatuh dilantai.


Meskipun semula agak ragu, perlahan namun pasti tangannya maju untuk mengambil dan langsung menyelundupkan masuk kepakaian dalam untuk menutupi buah dadanya, diumurnya yang sudah tidak muda lagi, Bi jah belum juga berniat untuk bertaubat , meskipun hati kecilnya sendiri bertolak belakang dengan pikiran nya yang masih sangat mencintai dunia.


Bahkan kehidupan Bi jah dan suaminya cukup dikatakan layak, setelah bekerja dengan keluarga Dani yang sesungguhnya sangat baik.


Bahkan Dani dan Sinta tidak mempermasalahkan jika mereka berdua ingin pensiun, namun mereka tidak ingin berhenti, karena perkejaan dirumah besar ini tidak terlalu berat dan santai.


" Syukurlah, Bu Sinta selama ini tidak pernah memasang camera cctv dikamarnya, sehingga tidak ada yang akan mengetahui perbuatan ku, lagian dia mempunyai banyak perhiasan, jadi dia tidak akan mengetahui jika hilang satu." pikir bi jah kembali melanjutkan pekerjaannya.


***


Besok pagi aku ingin pulang, paling tidak dengan berada disisi kedua orang tua kandung ku, aku akan mersa jauh lebih tenang," gumam Sinta selepas sholat malam, tiba-tiba dia merindukan sosok kedua orang tuanya.


" Bapak, ibu aku merindukan kalian."


***

__ADS_1


Pagi-pagi sekali selepas sholat subuh, aku mengemasi beberapa pakaian ku, tidak banyak cuma seperlunya saja. yah, semalam aku sudah membulatkan tekad untuk pulang sementara waktu kerumah orang tuaku, paling tidak aku ingin tenang disana dalam beberapa hari ini.


" Sinta, kamu rapi sekali pagi ini. memangnya kamu mau pergi kemana nak?"


" Sinta mau pulang ke kampung ma."


" Pulang, kenapa nak. disini kan ada mama yang akan menemanimu beberapa hari ini."


"Maaf ma, tapi Sinta pengen tenang dulu dikampung. lagian sudah lama juga nggak pulang, Sinta kangen bapak dan ibu disana."


Mama Manarik nafas dalam-dalam, keputusan Sinta terlihat sudah bulat. dia tidak bisa melarang lagi.


" Baik lah nak, tapi kamu diantarkan sopir pribadi mama ya kesananya, mama tidak ingin kamu kenapa-napa dijalan, apalagi kondisimu yang hamil dan ada masalah seperti ini. mama kawathir terjadi sesuatu nantinya dijalan."


" Sinta akan hati-hati kok, ma."


" Ya sudah, sarapan dulu ya nak."


Aku dan mama sarapan bareng, kami berdua larut dalam pikiran masing-masing, tidak banyak obrolan yang terlontar seperti biasanya.

__ADS_1


__ADS_2