
Brug…
Lucifer melempar tasnya di meja. Duduk dan membuka ponselnya, tidak peduli dengan tatapan sekuat murid di kelas.
"Hei, bukankah ini pria tadi yang ada masalah dengan Ethan Maherson kan?"
"Ya, dia orang nya. Aku tidak tahu kenapa anak ini bisa berurusan dengan putra Maherson. Dan malah dengan beraninya dia melawannya. Apa dia tidak takut keluarga Maherson membuat masalah lain dengannya,"
"Biarkan saja. Aku malah ingin melihat keseruan ini. Lagian aku yakin pria miskin ini akan ketakutan dan memohon ampun saat tahu keluarga itu,"
Bisik- bisik terus terdengar di telinga Lucifer. Namun Lucifer tidak memperdulikannya. Ia malah fokus dengan ponselnya. Hal seperti itu tidak perlu dipikirkan, karena menurutnya tidaklah penting.
Drrt…
Drrt…
Ponsel Lucifer bergetar tanda sebuah panggilan masuk.
"Pria tua."
"Kenapa dia menghubungi ku? Apa ada suatu hal yang terjadi?"
Lucifer menggeser tombol hijau dan panggilan tersambung.
"KAU SUDAH MELUPAKAN PRIA TUA INI BADJINGAN!" Maki pria diujung panggilan membuat Lucifer menjauhkan ponselnya takut gendang telinganya pecah.
"Berhentilah berteriak, aku takut setelah ini kau akan mati,"
"Dasar bocah sialan!" Kesalnya pada Lucifer. Namun tidak benar-benar kesal. Hanya sebagai tanda keakraban mereka.
Walaupun usia mereka berbeda jauh. Namun mereka saling cocok. Seringkali mereka berdebat tentang hal-hal kecil namun itu malah membuat mereka nyaman satu sama lain. Layaknya keluarga yang saling melengkapi.
Pria tua yang disebut Lucifer adalah seorang pria yang tidak memiliki keluarga. Pria itu semasa muda tidak tertarik sedikitpun dengan namanya hubungan. Dia suka bermain dengan banyak wanita, tapi tidak ingin berkomitmen. Hanya main, atau bisa disebut penjelajah wanita.
Di saat umurnya yang sudah tua, baru dia merasakan kesepian. Dan kesepian itu hilang saat dirinya bertemu dengan Lucifer di sebuah taman. Mereka bertemu dan mengobrol cukup lama dan akhirnya mereka pun menjadi sahabat.
Pria tua banyak bercerita tentang masa mudanya, bercerita tentang banyaknya wanita yang di kencani. Dia juga bercerita bagaimana caranya dengan mudah membuat wanita jauh ke ranjangnya. Namun semua itu tidak membuat Lucifer tertarik dan itu membuat pria tua kesal.
Memikirkan apa yang membuat Lucifer tertarik, akhirnya dia bercerita tentang keahliannya dalam ilmu peretas. Dan benar saja, Lucifer langsung tertarik.
Sejak saat itu Lucifer minta di ajari bagaimana caranya meretas. Dan dengan telaten pria tua akhirnya memberikan semua ilmu yang dipahaminya tentang meretas kepada Lucifer.
Lucifer yang otaknya memang cerdas mampu menyerap semua yang dipelajarinya. Namun semuanya belum digunakan karena menurutnya itu belum perlu. Jika waktunya sudah tiba, dia akan menggunakannya.
"Ada apa menghubungi ku?"
__ADS_1
"Apa aku tidak boleh menghubungi mu,"
"Aku lagi sekolah. Hari ini pertama aku masuk. Jadi jangan ganggu,"
Tut…
Panggilan diputus, membuat pria tua mengumpat kesal.
"Badjingan sialan! Awas saja kau!"
.
.
Waktu menunjukkan jam istirahat tapi Lucifer sedikitpun tidak tertarik untuk keluar. Dia menutup wajahnya dengan buku dan memejamkan mata, mengantuk karena tadi malam pulang dini hari.
Namun waktu yang ingin di gunakan untuk tidur tiba-tiba diganggu oleh seseorang yang datang dengan menggebrak meja dengan kuat.
Brak…
"Bangun kau anak miskin! Aku tahu kau tidak tidur!"
Lucifer malas menanggapi, dia malah santai dan tetap menutup wajahnya sambil memejamkan mata.
Melihat dirinya diabaikan, pemuda itu mengepalkan tangannya, marah. Pemuda bernama Roy itu mengambil buku Lucifer dan membuangnya ke lantai.
Namun tidak ingin terlihat kalah dan takut, Roy tersenyum menyeringai tepat di hadapan Lucifer yang masih menunjukkan sikap datar dan dingin.
"Aku dengar kau masuk kesekolah ini karena jalur prestasi, itu berarti kau adalah orang yang miskin. Tapi apa kau tidak tahu, di sekolah ini sebenarnya hanya menerima orang kaya bukan orang miskin sepertimu? Maka dari itu aku sebagai pemimpin dari kelas ini tidak mengizinkan mu berada di sini. Kau orang miskin tidak pantas berada di kelas bersama kami,"
Lucifer yang mendengar menguap, dan setelah itu tidur, menutup wajahnya dengan tangan.
Roy dan lainnya yang melihat menganga tak percaya. Bagaimana bisa orang miskin seperti ini mengabaikan Roy Januarta, putra dari seorang pengusaha properti. Sungguh penghinaan yang besar.
Brak…
"Hei, anak miskin! Beraninya kau mengabaikan ku!" Kesalnya dengan wajah memerah karena emosi.
Lagi-lagi Roy diabaikan dan akhirnya membuatnya tidak tahan. Roy melayangkan kepalan tinjunya untuk memukul kepala Kucifer agar benar dan takut padanya.
Saat tangan itu hendak menyentuh kepala, Lucifer dengan gerakan cepat menahan kepalan tangan Roy, dan menekan dengan kuat.
"Lepaskan aku!"
Roy mencoba menarik tangannya namun tidak bisa. Mencoba lagi tapi tetap tidak bisa. Dan akhirnya melayangkan satu tangannya lagi untuk memukul Lucifer agar Lucifer melepas tangannya.
__ADS_1
Lucifer mengelak membuat tangan Roy meleset dan tidak dapat memukul wajahnya. Dan hal itu digunakan Lucifer dengan baik, melepas tangan Roy dan meninju wajah Roy, membuat Roy langsung mimisan.
Semua murid yang melihat kejadian itu menutup mulut mereka dengan tangan karena keterkejutan mereka, tidak percaya melihat Roy dipukul oleh seorang anak miskin.
"Arg….! Apa yang kau lakukan?" Roy menyentuh hidungnya yang berdarah. Dia tidak menyangka akan diperlakukan seperti itu oleh anak miskin.
Lucifer seolah tidak bersalah. Dia kembali melanjutkan tidurnya yang tertunda karena Roy yang rese
.
.
Pulang sekolah, Lucifer menuju tempat parkir untuk mengambil motornya. Namun saat sampai disana Lucifer tidak melihat motor jambrongnya nya sama sekali. Lucifer melihat sekeliling, takut salah mengingat dirinya memarkirkan motor.
Namun cukup lama mengingat, dia tidak salah. Memang benar doa meletakkan motornya disana. Tapi kali ini motor itu benar-benar tidak ada.
"Kemana motor ku?" Gumamnya mencari.
Terdengar suara gelak tawa dari arah belakang. Lucifer yang mendengar langsung menoleh, melihat siapa mereka. Roy, Ethan dan beberapa anak kaya lainnya.
Mereka berdiri bersedekap dada sambil menatap remeh Lucifer.
"Apa kau mencari motor butut mu itu?"
"Apa kalian yang menyembunyikan motor ku?"
"Tentu saja tidak. Buat apa aku menyembunyikannya. Motor butut seperti itu membuat tangan ku akan alergi jika aku menyentuh dan menyembunyikannya."
Mata Lucifer memicing, tidak percaya sedikitpun dengan apa yang dikatakannya. Lucifer yakin di antara mereka ada yang menyembunyikan motornya.
Senyum seringai mereka masih mengembang, dan itu jelas mereka adalah pembuat ulahnya.
"Aku ingatkan pada kalian semua. Aku tidak memiliki kesabaran yang cukup jika kalian bermain-main dengan ku,"
"Youh, dia marah bro,"
Hahahaha…….tawa mereka kompak dan itu membuat Lucifer mengepalkan tangan. Kesabaran nya telah habis.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1