PEMBALASAN ANAK HARAM

PEMBALASAN ANAK HARAM
Penolong


__ADS_3

Tubuh Lucifer ambruk di lantai, tak sadarkan diri.


Beberapa temannya yang sekongkol membunuh Lucifer saling pandang, apakah keputusannya membunuh Lucifer adalah hal baik atau tidak mengingat Lucifer banyak membantu mereka selama ini.


"Apa tidak masalah kita membunuhnya?"


"Tidak masalah. Semakin cepat dia mati semakin bagus,"


"Baiklah. Lalu kita apakan mayat nya?"


"Buang saja."


Lucifer kini di bawa oleh beberapa anak buah teman-temannya, si buang di pinggir jalan dalam keadaan sekarat. Dan di tinggal tanpa perasaan.


Bugh….


Tubuh Lucifer jatuh di semak-semak yang sedikit rimbun. Hanya terlihat kaki yang sangat jelas.


.


.


.


Di kediaman Mesya, Mesya yang sedang mengambil air minum tiba-tiba perasaannya menjadi tidak tenang. Apalagi saat gelas yang di pegangnya tiba-tiba jatuh dan pecah.


Prang…..


Jantung Mesya berdetak lebih cepat…


"Apa yang terjadi? Kenapa perasaan ku tiba-tiba tidak tenang," Meysa menyentuh dadanya dan teringat dengan Lucifer. "Semoga tidak terjadi sesuatu dengannya" gumamnya dan kembali ke kamar.


Keesokan hari, Mesya menghubungi nomor Lucifer namun nomor itu tidak dapat di hubungi, tidak aktif.


"Kemana kamu dek?"


Meysa benar-benar gelisah. Farhat yang melihat istrinya mondar-mandir sambil memegang ponsel di tangannya bingung, sejak dirinya bangun, Farhat melihat Mesya yang seperti gelisah.


"Ada apa?" Tanya Farhat


"Aku khawatir dengan Luci,"


"Luci? Memang ada apa? Kenapa jamu khawatir dengannya? Luci pasti baik-baik saja."


"Aku tidak tahu. Tapi entah kenapa perasaan ku tidak enak. Aku selalu kepikiran Luci, apalagi sejak tadi nomornya tidak bisa di hubungi. Aku semakin khawatir dengannya."


Farhat diam, memang tidak seperti biasanya Lucifer mengabaikan panggilan istrinya.


"Coba kamu hubungi Rifky, apa Lucifer bersama dengannya,"


"Ah, Kenapa aku melupakannya." Mesya mencari nomor ponsel milik Rifky dan menghubunginya.


Tut….


Tut….

__ADS_1


Tut….


Panggilan terhubung. Dan tak lama Rifky pun menjawab panggilan dari kakaknya itu.


"Hallo kak, ada apa?"


"Kakak hanya ingin bertanya saja. Apa kamu bersama dengan Luci?"


"Luci? Tidak, aku tidak bersama dengannya. Mungkin dia tidur di kontrakannya. Memang kenapa kak?"


"Aku sudah menghubungi nya berulang kali, namun nomornya tidak aktif. Aku kira dia bersama mu makanya kakak menghubungi mu,"


"Nomor nya tidak aktif? Tidak seperti biasanya Lucifer mematikan ponselnya." Gumam Rifky. "Nanti aku akan mencoba menghubunginya. Jika tetap tidak bisa, aku akan pergi ke kontrakannya,"


"Baiklah, kakak tunggu kabar dari mu. Soalnya perasaan kakak tidak tenang sejak tadi malam,"


"Akan ku hubungi nanti,"


Rifky langsung menghubungi Lucifer. Dan benar saja, nomor ponsel Lucifer tidak aktif.


"Kemana anak itu?" Gumam Rifky. Merasa khawatir, Rifky menyambar jaketnya dan kunci motor, pergi dari apartemen dan menuju ke kontrakan Lucifer.


Setelah sampai, Rifky langsung mengetuk pintu kontrakan, tapi tidak ada jawaban. Kosong. Kontrakan itu seperti nya tidak ada pemiliknya.


"Kemana dia?" Bingung Rifky karena tidak tahu Lucifer selalu pergi kemana selain bersama dengannya, Dion dan Hamdan.


Rifky pergi dari tempat Lucifer dan pergi menuju tempat Hamdan dan Dion, saat sampai disana juga tidak menemukan keberadaan Lucifer. Dan hilangnya kabar Lucifer membuat ketiga temannya bingung kemana Lucifer saat ini.


"Jika Luci tidak bersama kalian, lalu dimana dia saat ini?"


"Aku juga tidak tahu. Jika kamu tidak mencarinya, mana kami tahu kalau Lucifer hilang," jawab Dion.


"Ide bagus. Lebih baik kita lapor polisi. Siapa tahu lebih mudah mencari keberadaan nya,"


"Ayo kita pergi sekarang. Oh ya, jangan bilang sama kak Mesya tentang hilangnya Lucifer. Aku tidak ingin membuatnya khawatir," Semuanya mengangguk dan akan merahasiakan tentang hilangnya Lucifer.


Rifky, Dion dan Hamdan kini melaporkan apa yang terjadi. Polisi pun akan membantu mencari keberadaan Lucifer yang tidak di ketahui keberadaannya.


Sedangkan yang mereka cari kini sedang berbaring di rumah sakit dengan banyak alat dokter yang menempel di tubuhnya.


"Bagaimana keadaannya Dok?" Tanya seorang pria yang menolong Lucifer saat di buang di pinggir jalan.


"Keadaannya masih kritis tuan."


Pria itu diam. Dirinya hanya beberapa hari di negara ini. Jika tuannya memintanya kembali bukankah harus meninggalkan pemuda itu? Tapi jika di tinggalkan sendirian, dirinya tidak tega. Apalagi dirinya begitu tertarik dengan pemuda tersebut.


"Dok, jika saya membawa pasien ke luar negeri apa tidak masalah? Soalnya mungkin beberapa hari lagi saya akan kembali,"


"Sebenarnya belum bisa tuan, karena kondisi pasien belum stabil. Tapi jika memang tuan ingin membawanya, kami akan memberikan pendamping penanganan saat di perjalanan. Hanya saja___"


"Saya akan menanggung biaya semuanya."


"Berapa hari tuan akan kembali?"


"Mungkin dua hari lagi,"

__ADS_1


"Semoga dua hari kemudian pasien bisa melewati masa kritisnya tuan."


"Ya, semoga saja." Jawab pria itu.


Pria yang menolongnya bernama Evan kini kembali untuk menemui tuannya, karena barusan tuannya mengirimkan pesan untuk menemuinya.


Tok…


Tok…


Tok…


"Masuk,"


Evan masuk kedalam kamar hotel tuannya. Di sana tuannya sedang memainkan ponsel dengan kaki menyilang, terlihat tampan dan berwibawa. Walaupun usianya sudah berumur, tapi tidak menghilangkan kadar ketampanan nya.


"Tuan,"


"Apa kau dari rumah sakit?"


"Benar tuan,"


"Kita kembali dua hari lagi, abaikan saja dia."


"Tapi tuan___"


Mendengar bantahan asistennya, tuan itu menatapnya tajam. Evan yang melihat menunduk, takut akan tatapan tajam tuannya yang menurutnya sangat mengerikan.


.


.


.


Di mansion tempat tinggal Mesya.


Mesya menangis saat Lucifer tetap tidak di temukan.


"Hiks….hiks….kamu dimana? Kenapa tidak ada kabar?"


"Tenang sayang. Mungkin Lucifer sedang bepergian bersama teman lainnya, makanya nomornya tidak aktif. Tapi percayalah, Lucifer pasti baik-baik saja." Farhat menenangkan, tidak tega melihat istrinya yang sedih akan keberadaan Lucifer yang tidak di ketahui keberadaan.


Tak terasa dua hari berlalu, tapi tetap saja mereka tidak menemukan. Bahkan polisi juga tidak menemukan keberadaanya, karena Lucifer sendiri sudah berada di Negara Amerika bersama dengan Evan yang meminta izin kepada Tuannya. Dengan alot dan penuh permohonan, akhirnya tuan itu memberikan Izin untuk Evan membawa nya.


Satu minggu kemudian, Mesya, Rifky dan lainnya mendapatkan kabar bahwa Licifer pernah berada di rumah sakit, mereka langsung pergi, berharap Lucifer masih berada di sana. Namun harapan nya pupus ternyata Lucifer sudah pergi bersama seseorang yang tidak mereka kenal.


"Dok, apa anda tahu kemana perginya tuan itu?"


"Tidak, saya tidak mengetahui. Bahkan namanya saja saya tidak tahu. Saya kira mereka memang saudara, jadi saya tidak terlalu memperhatikan."


Tubuh Mesya luruh, lemas. Kemana dia akan mencari keberadaan adiknya. Dia bukanlah orang yang berkuasa. Tidak mudah untuk nya mencari keberadaan adiknya yang pergi entah kemana.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2