
Lucifer terus masuk ke dalam, mengikuti Addy. Lucifer melihat kanan kiri tempat di mana ia lewati. Banyak ruangan dengan banyak pintu dan banyak pula ruangan yang luas. Lucifer yakin tempat itu sangat lah besar.
"Aku akan membawamu ke tempat biasa kami latihan, apa kau mau?"
"Em, aku ingin melihatnya,"
Mereka berdua kini menuju tempat dimana biasanya semua anggota latihan. Tempat itu berada di tengah-tengah bangunan markas VOLDEMORT yang dikelilingi bangunan lain.
Lucifer melihat halaman yang sangat luas, dan ada bangunan lain juga disana.
"Bangunan tempat apa itu?"
"Itu tempat tinggal para anggota. Pasti kau bingungkan saat melihat ada bangunan lain selain bangunan yang kita lewati tadi?" Lucifer mengangguk. "Ya seperti ini lah tempat kita. Jika di lihat mungkin hanya ada satu bangunan saja, tapi sebenarnya tempat ini sangatlah luas, bahkan mampu menampung ribuan anggota,"
"Ternyata kelompok kalian tidak lah kecil," Addy tersenyum dan membawa Lucifer ke tempat area latihan.
"Taruh tas mu di situ. Kita akan menghampiri mereka dan memperkenalkan mu," Addy menunjuk sebuah kursi biasa tempat Evan duduk mengamati bawahannya berlatih.
Lucifer meletakkan tas nya dan setelah itu ikut bergabung dengan anggota VOLDEMORT yang berlatih.
Plok…Plok….
Addy menepuk tangannya agar semua berhenti dan beralih padanya.
Semuanya melihat ke arah Addy dan pemuda asing. Dalam benak mereka bertanya-tanya siapa pemuda yang di bawa Addy.
"Ada apa? Siapa dia?" Tunjuk seorang teman Addy pada Lucifer.
"Perkenalkan dia tuan muda Lucifer, adik Tuan Evan," ucap Addy memperkenalkan Lucifer sebagai adik tuannya. Addy tidak ingin jika dirinya mengenal kan Lucifer sama seperti dirinya. Addy juga tidak ingin teman-temannya tidak menganggap Lucifer atau bikin ulah padanya, jika itu terjadi dirinya dalam masalah apalagi jika tuannya tahu, bisa-bisa dirinya akan di bunuh dan di binasakan selamanya.
Lucifer yang seperti harta karun bagi Evan pasti tidak akan membiarkan Lucifer di perlakukan seperti itu.
Semua yang mendengar bahwa pria muda di depan mereka adalah Tuan muda, adik dari Tuan Evan langsung menundukkan kepala tanda hormat.
__ADS_1
Lucifer yang melihat ingin protes, namun saat melihat tatapan Addy Lucifer langsung diam. Dia belum hafal dengan sikap mereka, lebih baik diam dan turuti saja apa yang di katakan Addy, bahwa dirinya adalah Tuan muda, tidak boleh ada penolakan sedikitpun.
"Selamat datang di Markas kita Tuan muda," sapa mereka semua kompak.
Lucifer mengangguk, dan Addy meminta mereka semua untuk menjaga, memperlakukan Lucifer dengan baik dan membuatnya nyaman di tempat ini. Semuanya mengangguk, mereka akan menjaga dan memperlakukan Tuan muda mereka dengan baik, seperti sama halnya memperlakukan Tuan mereka, Evan dan Adam.
"Tuan muda, saya harus pergi sebentar. Anda bisa bersama dengan mereka. Jika anda ingin berlatih, minta dari mereka untuk berlatih dengan anda,"
"Pergilah,"
Addy meninggalkan Lucifer bersama dengan yang lainnya. Lucifer yang sendiri langsung di hampiri oleh mereka, menyapa dan mengajaknya untuk berlatih.
"Tuan muda, apa anda ingin berlatih?"
"Hm, boleh. Lama juga aku tidak berlatih melemaskan otot."
"Baiklah, saya akan menemani anda berlatih. Sebelumnya perkenalkan, nama saya Toni." Lucifer mengangguk dan kini ada di tempat latihan pertarungan.
Kedua orang itu kini saling berhadapan, bersiap untuk saling bertarung. Baik Toni maupun Lucifer memasang kuda-kuda, siap melayangkan jurus mereka.
"Tuan muda sebelumnya saya minta maaf jika nanti saya melukai anda,"
"Santai saja, ini latihan. Tidak masalah jika terluka. Kerahkan semua kekuatan mu agar aku bisa melihat kekuatan mu,"
"Baik, jika itu mau anda. Saya tidak akan menahannya,"
Toni langsung maju, menyerang Lucifer, melayangkan pukulannya.
Bug…
Pukulan itu tahan oleh lengan Lucifer, senyum menyeringai muncul di bibir Lucifer.
Bug…
__ADS_1
Kaki Lucifer memberikan tendangan ke arah kaki Toni. Toni yang melihat menghindar dan mundur.
Toni yang melihat tersenyum. Tuannya ini tidaklah biasa.
Toni kembali maju, begitupun dengan Lucifer. Mereka saling maju dan menyerang. Pertarungan dua orang di arena bertarung cukup sengit. Semua yang melihat sangat senang dan semangat, apalagi peliharaan Tuan mudanya ternyata dapat mengimbangi kekuatan Toni yang termasuk kuat. Karena Toni merupakan pasukan Elit.
Bug…
Bug…
Bug…
Pukulan dan tendangan terus di layangkan untuk bisa melukai dan mengalahkan satu sama lain.
Baik Lucifer dan Toni terus bertarung, tidak ada yang mengalah. Kekuatan mereka seimbang. Walaupun Lucifer lebih muda dari Toni, Toni akui kekuatan Lucifer tidak main-main. Bahkan dirinya sangat kesusahan untuk mengalahkan pria muda itu.
Bug….
Satu pukulan Lucifer mendarat di rahang Toni, membuat Toni mengeluarkan sedikit darah di bibirnya. Semua yang melihat terkejut karena Tuan muda mereka dapat memberikan pukulan pada Toni. Toni yang mendapatkan pukulan akhirnya mengalah dan menyudahi latihan itu, mengakui bahwa kekuatan Tuan mudanya tidaklah kalah darinya.
Kini semuanya tahu bahwa Tuan muda mereka bukanlah pemuda biasa. Bahkan mereka yakin bukan hanya bertarung saja yang dikuasai, mungkin saja menembak juga di kuasai oleh Tuan muda baru mereka.
.
.
.
.
Bertarung.
__ADS_1