PEMBALASAN ANAK HARAM

PEMBALASAN ANAK HARAM
George Maven dan Jaxon Maven


__ADS_3

Dua pengawal itu langsung mencari keberadaan nona muda mereka ke rumah sakit terdekat. Namun sebelum itu dia menghubungi Tuan mereka, bahwa Nona mudanya mengalami kecelakaan. Walaupun sebelumnya mereka takut akan kemarahan tuannya karena tidak bisa menjaga nona mudanya dengan baik, tapi bagaimanapun mereka harus mengabari, yah walaupun setelah ini mungkin mereka akan mendapatkan hukuman yang berat.


"Hallo tuan,"


"Ada apa?" Tanya George Maven, ayah dari gadis berusia 15 tahun yang di tolong Lucifer.


"Tuan sebelumnya saya minta maaf. Saya ingin mengabari jika Nona muda saat ini mengalami kecelakaan,"


"Apa!!!" Geogre yang saat ini bekerja di kantor langsung berdiri dari kursi nya karena keterkejutannya mendengar putrinya mengalami kecelakaan. "Bagaimana bisa?" 


"Maafkan kelalaian kami tuan,"


"Aku akan segera kesana. Dimana kalian sekarang."


"Kami ada di rumah sakit Lenox Hill tuan," jawab Pria itu yang kini sudah menemukan keberadaan nona mereka. 


"Baiklah aku akan langsung pergi kesana," 


George langsung menghubungi ayahnya yang berada di Australia, bahwa cucunya mengalami kecelakaan. Tuan Jaxon Maven yang mendengar langsung pergi tanpa menunda, menggunakan pesawat jet pribadinya. Tidak ingin kehilangan cucunya, cukup satu cucu yang menghilang darinya.


.


.


Dua pengawal yang telah menemukan nona mudanya kini menunggu bersama dengan Lucifer di luar ruangan operasi. Mereka sangat cemas, berharap tidak terjadi sesuatu dengan nona mudanya. 


"Semoga tidak terjadi sesuatu dengan nona muda," 


"Ya, aku juga berharap  seperti itu,"


"Oh ya tuan, terimakasih karena anda telah menolong nona muda," 


Lucifer mengangguk, "Karena anda sudah ada disini, saya pergi dulu. Semoga nona muda anda baik-baik saja,"


"Tunggu tuan, tidak bisakah anda tunggu sebentar sampai tuan kami datang? Kami ingin anda bertemu dengan tuan kami, agar tuan kami bisa berterimasih dengan anda."


"Tidak perlu. Saya masih ada urusan. Saya pergi dulu," Lucifer beranjak dari tempat nya untuk pergi. Sedangkan dua pengawal itu tidak bisa berkata sama sekali karena tidak bisa menahan Lucifer.

__ADS_1


Luciger berjalan menuju mobilnya, tapi tiba-tiba seorang pria datang tergesa-gesa hingga membuatnya menabrak bahu Lucifer, membuat mereka saling pandang.


"Maaf, maaf. Aku tidak sengaja,"


"Tidak masalah," jawab Lucifer dan pergi.


Pria yang menabrak Lucifer melanjutkan langkahnya. Tiba-tiba berhenti, kembali menoleh dengan kening berkerut menatap pinggung Lucifer yang mulai menjauh.


"Mungkin hanya perasaan ku saja," Pria itu kembali melanjutkan langkahnya  menuju tempat dimana putrinya saat ini berada.


Sedangkan Lucifer telah pergi, kambali kekediaman Evan. Pakaian yang di gunakan telah terkena darah gadis itu, ia merasa risih dan memilih untuk kembali.


Pria yang menabrak Lucifer yang tak lain adalah George kini berada di depan ruang operasi putrinya.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kanapa bisa seperti ini?" Tanya nya menatap tajam kedua pengawal putrinya.


"Maafkan kami tuan," keduanya menunduk. Walaupun mereka berkata jujur tentang putri tuannya yang nakal selalu ingin kabur dari pengawasannya, mereka tidak berdaya, karena mereka hanya bawahan, salah atau tidak pastinya akan tetap salah. Lebih baik diam dan tidak banyak berkata.


"Dasar tidak berguna?" Marahnya dengan tatapan tajam. "Lalu siapa yang membawa putri ku kesini?" Yakin jika kedua pengawal itu bukanlah yang menyelamatkan putrinya. Karena jika iya, pasti di pakaian mereka pasti ada noda darah. 


"Kalian tidak tahu siapa namanya?" 


Mereka berdua menggeleng, "Tidak tuan, pria itu buru-buru pergi. Padahal kami sudah meminta nya untuk tinggal sementara menunggu kedatangan anda,"


George diam, berpikir, mengingat apakah bertemu dengan seseorang pemuda saat masuk rumah sakit. Sekelebat ingatan tentang pemuda yang di tabrakan. Pemuda yang memiliki wajah seperti orang yang di kanalnya. 


"Apakah pemuda itu sekitar berumur 19 tahun?"


"Banar tuan, di pakaian nya ada noda darah. Noda dari darah milik nona," 


"Cari tahu siapa pemuda itu."


" Baik tuan," jawab mereka kompak.


.


.

__ADS_1


.


Malam harinya, Tuan Jaxon Maven tiba di rumah sakit bersama dengan penbawalnya. Dengan langkah tuanya dia menuju dimana tempat cucunya di rawat saat ini.


Cklek….


George menoleh ke arah pintu, di lihatnya ayahnya telah datang.


"Pa, kenapa tidak menghubungi ku jika papa telah datang,"


"Kelamaan, aku bisa datang dengan mereka," tunjukanya pada beberapa pengawal yang menjaganya. "Bagaimana dengan keadaan cucu ku," 


"Kondisinya masih kritis. Grace banyak kehilangan darah, beruntung seorang pemuda cepat membawa nya kerumah sakit."


Jaxon mengangguk. Dia harus berterimakasih kepada pemuda itu karna telah menolong cucunya. "Lalu dimana pemuda itu? Papa harus mengucapkan terimakasih karena menyelamatkan nyawa cucu ku,"


"Pemuda telah pergi sebelum aku datang." Jawab George dan Jaxon mengangguk. Jadi dia tidak bisa berterimasih, sayang sekali. "Pa, ada yang ingin ku katakan pada papa. Kita duduk dulu," 


George membawa papanya duduk di sofa yang ada di ruangan itu. George ingin berbicara tentang pemuda yang di temuinya di halaman rumah sakit tadi. Pemuda yang mungkin saja penyelamat putrinya.


"Ada apa? Sepertinya ada hal penting yang ingin kamu bicarakan,"


Mm, George mengangguk. "Saat aku datang kesini tadi tak sengaja aku bertemu dengan seorang pemuda, dan ku yakin pemuda itu adalah yang menolong Grace,"


"Bagus jika kau bertemu dengannya, jadi tidak susah untuk kita mencari sperti apa wajah pemuda itu."


"Masalahnya ini rentang hal lain,"


"Tentang apa?" Tanya Jaxon penasaran. Pasalnya putranya itu seperti ingin berbicara sungguh-sungguh. 


"Aku seperti melihat Joice Maven,"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2