PEMBALASAN ANAK HARAM

PEMBALASAN ANAK HARAM
Menemui Alezza


__ADS_3

Mmm…..


Gadis itu sungguh ketakutan, takut jika orang yang membekapnya berbuat tidak baik dengannya. Dan benar saja, pria itu mengendus lehernya dan memberikan ciuman lembut, membuat gadis itu meronta minta dilepaskan.


Lucifer tidak seperti biasanya melakukan hal itu pada wanita, hanya wanita masa lalunya ini saja dia melakukan nya. Mungkin karena memang dia menyukai atau entahlah, Lucifer sendiri yang tahu akan perasaannya. 


.


.


Mmm…..


Gadis itu mencoba melepas diri dari pria yang tidak diketahui siapa namanya. Sungguh lancang dan berani sekali pikirnya.


Gadis yang bernama Ezza menginjak kaki Lucifer dengan kuat membuat Lucifer melepas tangannya. 


"Aduh, kamu kasar sekali,"


Azza membalikkan tubuhnya menatap tajam pria yang ada di hadapannya. Tidak kenal. Siapa pria di depannya ini, beraninya menyentuh tubuhnya. Bahkan pujaan hatinya saja belum pernah menyentuh tubuhnya. Dan ini, dasar pria kurang ajar, pikirnya.


"Siapa kau?" Tanya Ezza dengan tatapan tajam. Namun apa yang dilakukan Ezza tidak membuat Lucifer takut, malam Lucifer tersenyum. Menurutnya wajah Ezza malah semakin menggemaskan. 


Lucifer tidak menjawab, dia malah menarik pinggang Ezza dan memeluknya.


"Lepaskan aku badjingan! Siapa sebenarnya kau ini? Jika kekasih ku tahu, aku yakin kau akan mati di tangannya."


"Oh benarkah?"


Lucifer mengusap wajah itu dengan jarinya, lembut. 


Ezza yang melihat keberanian pria itu sungguh sangat marah. Wajahnya sudah memerah ingin menampar badjingan sialan di depannya. 


"Dasar kurang ajar! Lepaskan aku," 


Tubuhnya di himpit, membuatnya susah untuk bergerak. Hanya bisa memukul dada itu dengan pelan.


Lucifer tidak memperdulikan. Dia hanya terus menatap wajah cantik di depannya. Wajah gadis yang dulu dia acuhkan.


"Lepaskan aku breng-sek!"


"Kenapa kamu kasar sekali dalam berbicara hm…? Aku tidak suka mendengarnya."


"Persetan kau suka atau tidak. Lepaskan aku sialan!"


Mendengar kata-kata Ezza semakin kasar dan membuat telinganya sakit, Lucifer langsung membungkam mulut itu dengan bibirnya. Dan melu-matnya.

__ADS_1


Mmmm……


"Apa yang kau lakukan? Dasar badjingan sialan!" Ezza mengumpat dalam hati tentang apa yang dilakukan pria itu padanya. Ciumannya yang akan diberikan pada pujaan hatinya kini di renggut oleh pria sialan yang tidak dikenalnya.


Air mata Ezza mengalir di pipi dan itu disaksikan oleh Lucifer yang sedang melu-mat bibirnya.


"Kenapa menangis? Apa kau tidak suka?"


Pertanyaan apa itu? Jelas saja Ezza tidak suka. Kenal saja tidak, bagaimana dia menyukainya. Ciuman yang di jaganya hingga saat ini harus di renggut oleh pria yang tak tahu diri di depannya. 


"Dasar pria mesum kurang ajar, beraninya kau menciumku. Apa kau tidak tahu selama ini aku menjaganya hanya untuk pria ku. Tapi kau….!"


Ezza melayangkan tangannya ingin menampar Lucifer, tapi dengan cepat Lucifer menahannya membuat tangan itu menggantung. Lucifer yang mendengar tersenyum. Ternyata Alezza selama ini menjaganya untuknya. 


"Ale, apa kau tidak mengenali ku?"


Lucifer mengecup tangan itu dengan lembut, tangan yang semula ingin menampar wajahnya. Ezza yang mendengar panggilan yang hanya satu orang memanggilnya dengan sebutan Ale, mengerutkan kening. Siapa pria ini?


"Siapa kau?" Tanya Ezza menyelidik.


Lucifer tersenyum dan menarik tubuh itu menempelkan di tubuhnya. Mereka begitu dekat dan terlihat intim. 


"Kau sungguh melupakan ku Ale?"


"Katakan siapa kau ini sebenarnya?" Ezza terus memberontak untuk lepas. Tapi Lucifer tidak semudah itu melepaskan nya. Dirinya yang tidak bisa mengontrol sesuatu pada dirinya tidak akan melepaskan Ezza begitu saja. Entah apa yang terjadi pada dirinya, Lucifer menginginkan Ezza.


"Ale, bukankah kau merindukan pria di hadapan mu ini? Selama Bertahun-tahun tidak bertemu, dan kini aku menemui mu lebih dulu, tapi ternyata kau tidak mengenalku,"


Ezza mengerutkan kening, menatap wajah tampan di hadapannya. Matanya, mata yang sangat dikenal dan dirindukan. Tapi jika itu dia, kenapa pria itu banyak bicara. Bukankah dia tidak banyak bicara dan terlihat datar dan dingin? Mereka yakin dan tidak, Ezza terus bergelut dengan pemikirannya, takut salah orang.


"Apa dengan ini kau akan mengenalku," Lucifer menunjukkan sebuah gelang yang diberikan Ezza terakhir kali. Saat mata itu menatap gelang yang di kenalnya, Ezza menatap pria dihadapannya. Benarkah ini dia? 


"Kamu?"


"Ya, apa kau tidak merindukan pria yang kamu klaim milikmu ini?" 


Mendengar itu, Ezza langsung memeluk Lucifer dengan erat, menangis karena merindukan pria yang sampai saat ini masih setia bertahta di hatinya.


"Apa ini beneran kamu?"


"Tentu saja, siapa yang kau beri gelang dan berani mencium ku terang-terangan."


Wajah Ezza langsung merona mengingat hari itu. Ezza melepas pelukannya dan menatap wajah Lucifer.


"Jika dulu aku hanya mencium pipi mu, maka aku sekarang lebih berani lagi mencium bibir mu,"

__ADS_1


"Oh ya," 


Merasa di tantang,  Ezza langsung mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Lucifer. Lucifer yang melihat tersenyum menyeringai, dia suka gadis nakalnya.


Lucifer pun membalas ciuman itu, dan mereka saling melu-mat dan menye-sap, merasakan bibir manis keduanya. Tak hanya itu saja yang mereka lakukan, Lucifer memasukkan lidahnya, meminta Ezza menyambutnya dan kini lidah itu saling berbelit dan menikmati rasa yang belum pernah mereka rasakan.


Lucifer mengelus punggung itu dengan lembut, memberikan sentuhan yang membuat tubuh Ezza menyukainya. Ezza tidak menyangka akan bertemu dengan Lucifer saat ini. Dia begitu senang. 


Di ruang ganti itu, suara cecapan ciuman terdengar memenuhi telinga mereka. Mereka saling menikmati bertukar saliva membuat keduanya menyukai kegiatannya. 


Lucifer melepas ciumannya dan bibirnya turun di leher jenjang nan putih itu, memberikan ciuman lembut membuat Ezza tidak bisa menahan suara desa-hannya. 


Aaaaah….


Saat wajah itu mendongak, dia melihat CCTV di tempat itu, membuat Ezza mendorong tubuh Lucifer.


"Ada apa Ale?"


"Ada CCTV di ruangan ini?"


Lucifer mendongak dan benar kata Ezza. "Sialan! Jangan ganti disini, aku tidak ingin tubuh mu di lihat orang lain," Lucifer membawa Ezza keluar dari tempat itu dengan wajah kesal. Dia akan merusak CCTV itu setelah ini, tidak akan membiarkan ada yang melihat apa yang barusan mereka lakukan. 


Brak….


Lucifer membanting pintu mobil dengan keras membuat Ezza sampai kaget. Dia menatap wajah Lucifer yang dingin, wajah yang dulu selalu dilihatnya.


"Mobil ku masih disana,"


"Minta sopir mu untuk mengambil nya,"


"Lalu kita akan kemana?"


Lucifer tidak menjawab membuat Ezza menghela nafas, sudah hafal akan sikap Lucifer. Jika marah pria itu tidak suka berbicara.


Ezza yang banyak akal dan tidak ingin melihat prianya marah, bertingkah nakal. Mengelus wajah Lucifer, jakun dan dada, tak lupa juga sebuah kecupan di pipi.


.


.


.


Bersambung 


 

__ADS_1


 


__ADS_2