PEMBALASAN ANAK HARAM

PEMBALASAN ANAK HARAM
Penjelasan Rifky


__ADS_3

Bug….


Tubuh seseorang yang di lempar itu hanya diam, karena sudah tidak ada lagi kekuatan untuk merintih ataupun mengeluh.


Mesya, Dion dan Hamdan yang melihat tentu saja terkejut dengan apa yang ada di hadapannya. Rifky, ya orang yang mereka kenal kini berada di depan mereka dengan keadaan begitu mengenaskan. 


.


.


"Rifky!" Teriak mereka bersama saat melihat Rifky.


Mereka mendekati, melihat apa yang terjadi dengan Rifky. Wajah mereka langsung sedih, melihat bagaimana keadaan Rifky yang memprihatinkan. Wajahnya babak belur, tubuhnya terdapat beberapa luka, dan semua itu adalah perbuatan Lucifer yang menghajar Rifky, mengira Rifky adalah pengkhianat itu.


"Rifky, apa yang terjadi? Kenapa kau seperti ini?" Tanya Dion tidak tega.


Rifky hanya diam, menatap dengan mata sayu. Dion, Hamdan dan Mesya yang melihat menangis. Sebenarnya apa yang terjadi.


"Katakan pada ku, apa mereka yang melakukan ini?"


Rifky menggeleng, memang kenyataannya bukan mereka pelakunya. 


"Air.." gumamnya lirih. Dia begitu kehausan.  Dari mulia rumah sakit sampai di tempat saat ini dirinya berada, mereka tidak memberikannya minum sedikit pun, dan itu membuatnya begitu kehausan.


"Air?" Gumam Dion. Dia mencari di sekitar. Namun sialnya tidak ada air sedikit pun di sana. "Sial!" Umpatnya dan beranjak. 


Dion menggedor-gedor pintu, memanggil mereka. Meminta air untuk nya saat ini. 


"Woy, yang ada di luar, tolong berikan aku air," teriaknya dengan keras, berharap ada yang mendengarnya.


Dua orang yang berjaga di luar mendengar saling pandang. Air, enak saja dia meminta. Tanpa izin dari bos mereka tidak akan memberikannya.


"Biarkan saja dia, biar mereka mati kehausan," ucap di antara mereka.


"Tolong, berikan air, kumohon," pinta Dion kembali berteriak.


Dion terus berteriak meminta air, namun tetap saja tidak ada yang memberikannya. "Sial! Jika ku bisa keluar nanti, aku akan membunuh kalian," gumamnya dan mendekati Rifky lagi.


"Maafkan aku, Rif. Tidak ada air yang kau minta, aku sudah meminta kepada mereka, tapi mereka tidak memberikannya."

__ADS_1


Rifky hanya diam. Dia tahu Dion sudah berusaha. Tapi karena mereka tidak memberikannya, dia hanya bisa diam. Tak masalah dia kehausan, semoga saja dia tidak mati sebelum bertemu dengan Lucifer dan menjelaskan semuanya.


"Biar aku yang meminta," ucap Mesya. Walaupun Mesya berpikir, Rifky dalang semuanya tapi dia tidak tega melihat Rifky yang mengenaskan seperti ini.


Mesya menggedor pintu dengan keras dan berteriak meminta minum, tapi orang yang berada di luar tetap mengabaikan, membuat Mesya begitu marah.


"Berikan aku air. Jika tidak aku akan bunuh diri, dan saat bos kalian tahu, aku yakin kalian akan di bunuh saat itu juga," ancam Mesya, entah bagaimana bisa dia memiliki pemikiran itu, yakin ancamannya pasti berhasil. Dan benar saja, pintu di buka. Sebuah botol berisikan air di lempar begitu saja. 


"Jika kalian berisik lagi, aku tidak segan untuk membuat kalian babak belur," ancam pria itu tidak mau waktunya di ganggu oleh keberisikan mereka.


Mereka tidak memperdulikan ancaman itu. Untuk saat ini yang lebih penting adalah memberikan minum untuk Rifky agar Rifky bisa bertahan.


Minumlah dengan pelan," Dion dan Hamdan membantu Rifky untuk meminum air yang barusan mereka dapat.


Dengan pelan, Rifky meminum air itu. Rasa lega dirasakannya. Dirinya lebih baik. Dion dan Hamdan membantu Rifky berbaring.


Mereka bertiga duduk mengelilingi Rifky, ingin bertanya sesuatu, tapi melihat keadaan itu, mereka tidak tega.


"Tidur lah lebih dulu. Jika diri mu sudah lebih baik, kita akan bicara,"


Mereka semua akhirnya beristirahat. Waktu yang menunjukkan malam hari membuat mereka mengantuk. Mereka seakan tidak peduli saat ini dimana. Tidur di lantai menurutnya tidak masalah, asalkan orang yang membawa mereka tidak melakukan kekerasan kepada mereka berempat.


"Apa mereka akan memberikan kita makan?" Tanya Mesya pada Dion dan Hamdan yang sudah lebih dulu berada di sana.


"Biasanya kami di beri makan, yah walaupun hanya nasi saja,"


"Mereka hanya memberikan itu?" Tanya Mesya tidak percaya.


"Ya, apalagi. Tidak mungkin kita meminta ikan atau yang lainnya. Bisa-bisa bukannya mendapatkan apa yang kami minta, tapi malah kami mendapatkan yang lainnya,"


Mesya diam, sungguh kejam sekali mereka. 


Pukul delapan pagi, mereka di berikan makanan, dan itu hanya nasi saja. Mesya ingin marah dan mengumpat mereka, tapi dengan cepat Hamdan menahannya, berharap kakaknya itu tidak memprovokasi mereka.


"Lebih baik habiskan yang ada dan jangan membuat keributan," jelas Dion. 


Semuanya mengangguk, Dan mereka dengan terpaksa menikmati makanan tanpa lauk itu.


Setelah kenyang, kini mereka mengintrogasi Rifky. Walaupun Rifky masih lemah, mereka akan mendengar dengan sabar dan telaten.

__ADS_1


"Sekarang katakan pada ku, sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa kamu bisa seperti ini? Siapa yang melakukannya?" Tanya Dion beruntun.


Rifky menarik nafas dalam- dalam. Walaupun tubuhnya lemah dan malas berbicara, Rifky tetap akan menjelaskan agar mereka tahu sebenarnya apa yang terjadi. 


"Aku seperti ini karena Lucifer,"


"Apa!!!" Teriak mereka kompak. "Bagaimana bisa Luci melakukan ini?" Tanya  Hamdan. Dia tidak percaya jika Lucifer melakukan hal gila itu, membuat Lucifer menghajar Rifky.


"Mungkin Lucifer mengira Rifky seorang  penghianat,"


Rifky menceritakan semuanya apa yang terjadi selama ini. Dari mulia Lucifer yang menghilang, dan di susul dengan Dion serta Hamdan.


Semua yang mendengar tidak percaya, terutama Mesya. Dia selalu menggeleng kepala tidak percaya jika semua yang terjadi karena ulah suaminya.


"Tidak, ini tidak mungkin! Kenapa Mas Farhat melakukan itu?" Air mata Mesya luruh, dia sungguh kecewa. 


"Kak, maafkan aku yang menyembunyikan ini pada mu. Aku tahu selama ini kau curiga pada ku. Tapi aku melakukan nya karena ada alasan lain. Jika aku mengatakan semuanya, pria sialan itu akan berbuat nekat, membunuh Dion, Hamdan dan Zahra. Aku tidak ingin itu terjadi. Maafkan aku,"


"Tapi seharusnya kau mengatakannya agar aku mencurigai mu, begitupun dengan Lucifer,"


"Tidak masalah kalian menuduh ku berkhianat selama ini, asalkan tidak ada korban nyawa aku rela melakukannya,"


Mesya yang mendengar tentu saja menangis. Dia tidak menyangka Rifky melakukan itu semua demi melindungi nyawa semua nya. 


"Maafkan aku, maafkan aku yang selama ini mencurigai mu," Mesya memeluk Rifky dengan menangis.


Kini mereka tahu dengan jelas siapa pelaku sebenarnya. Dan mereka hanya bisa menunggu semoga ada keajaiban dan bisa selamat dari tempat itu. Berharap Lucifer datang menyelamatkan mereka.


.


.


.


Bersambung 


 


 

__ADS_1


__ADS_2