PEMBALASAN ANAK HARAM

PEMBALASAN ANAK HARAM
Mengetahui Kenyataan


__ADS_3

Lucifer menatap tajam kelima orang itu. Dia begitu marah dengan orang yang berani bermain dengannya. Apa mereka tidak tahu akibat jika menganggu dirinya.


"Bawa mereka bertempat. Akan ku urus yang satu ini," perintahnya meminta membawa 4 orang tersebut dan menyisakan sayu orah untuk di tangani Lucifer sendiri, sungguh orang yang tidak beruntung.


"Lepaskan aku," ronta ke empat orang tersebut. Tidak ingin ikut dengan orang yang menyeretnya, karena tahu pasti mereka akan menyiksa bahkan membunuhnya. 


Mereka di seret paksa keluar dari ruangan itu, meninggalkan Lucifer, Rey dan satu orang yang kini masih di tahan dengan tubuh di ikat. Kini tingggallah mereka bertiga di sana. 


Rey, mengambilkan kursi untuk tuannya duduk. Dan Lucifer duduk, menghadap pria yang ada di depannya, menatapnya dengan tatapan dingin.


"Siapa nama mu?" 


Pria itu diam, tidak menjawab pertanyaan Lucifer. Malah memberikan tatapan tajam pada Lucifer.


Lucifer yang melihat tersenyum menyeringai. 


Klak….


Sebuah pistol mengarah tepat berada di depan wajah pria itu.


"Aku mempunyai pilihan untuk mu, kau bisa hidup dan aman bersama ku atau mati di tangan ku,"


Pria itu mengerutkan kening, menatap Lucifer. Mencerna maksud yang di katakan pria di hadapannya.


"Apa maksud mu?"


Lucifer tersenyum kecil. "Kau pasti tahu apa akibat setelah ini, karena berani menyerang ku bukan? Aku yakin kau tidak bodoh." Lucifer beranjak dan berjalan mengatari pria itu. "Aku memiliki dua pilihan untuk mu. Jika kau bisa bekerja sama dengan ku, maka aku akan membiarkan mu hidup. Tapi jika tidak, saat ini juga aku akan membunuh mu. Ah tidak, aku tidak membunuh mu, melainkan menyiksa mu dengan lama dan membuat mu putus asa," 


Lucifer berada di tepat di depan wajah pria itu dengan seringainya. 


"Aku ingin kau memutuskan nya sekarang, ingin tetap hidup atau mati?"


Pria itu menatap Lucifer dengan mata memicing, menyelidik. Apakah yang di katakan pria itu benar atau tidak.


"Apa aku bisa mempercayai mu?"


"Tentu saja."


Pria itu diam, memikirkan apa yang di katakan Lucifer. Seakan percaya dan tidak percaya. Pria itu kembali menatap Lucifer yang duduk bersedekap dada dan menyilangkan kaki, menunggu jawaban pria tersebut.


"Lalu, apa yang kau inginkan dari ku?"

__ADS_1


"Aku hanya ingin kau menjawab semua pertanyaan ku. Tapi jika ku ketahui kau berbohong, aku tidak segan menembak isi kepala mu,"


"Baiklah, asal kau tidak membunuh ku, aku akan menjawab semua pertanyaan ku." Pria itu berpikir, hanya menjawab pertanyaan saja tidak ada susahnya. Lebih baik dia bekerjasama, menjawab apa yang ingin di ketahui pria di hadapannya.


"Siapa nama mu?"


"Kai," 


"Kai, baiklah. Aku akan bertanya beberapa pertanyaan pada mu. Ku harap kau menjawab dengan jujur,"


"Apa alasan kalian menyerang ku?"


Kai diam, berpikir. Benarkah dengan keputusannya ini?


"Jawab atau ku lubangi isi kepala mu ini?" Lucifer mengarahkan pistolnya tepat di kening Kai. 


"Aku akan menjawabnya, singkirkan pistol mu dari hadapan ku,"


"Itu tergantung dari dirimu sendiri."


"Ka..kami di perintah oleh bos untuk membunuh mu,"


"Membunuh ku? Apa alasannya?"


"Jawab atau ku bunuh sekarang juga," tatapan Lucifer begitu tajam, membuat Kai menelan ludah. Tatapan itu sungguh mengerikan, bahkan lebih mengerikan dari tuannya.


"Ka…ka….kami hanya pernah mendengar, bos tidak ingin melihat anda. Dan dia tidak ingin anda mengacaukan hidupnya."


Hahahaha……


Lucifer yang mendengar tertawa keras saat tahu, orang yang menjadi ayahnya ternyata  begitu menginginkan kematiannya. Dan ternyata alasannya hanya tidak ingin hidupnya di ganggu olehnya. Huh, sungguh orang tua yang konyol.


"Katakan lagi apa yang kau tahu?" Tanya Lucifer menatap semakin mengerikan. Tidak ingin membuang kesempatan alasan lainnya kenapa sampai ayah kandungnya ingin sekali menyingkirkannya. Bukankah seharusnya seorang ayah tidak melakukan itu. Tapi ini apa? Bahkan dia sangat-sangat menginginkan dirinya tiada di dunia ini.


"Saya juga pernah mendengar, tentang ibu anda?"


"Ibu ku?" Lucifer mengerutukan kening, apa maksudnya, "Katakan,"


Kai menatap Lucifer. "Tuan, tapi jika saya mengatakan, ku mohon jangan bunuh saya. Saya masih ingin hidup."


"Hm, bukankah sudah ku katakan sebelumnya, itu tergantung diri mu sendiri bisa memuaskan pertanyaan ku atau tidak,"

__ADS_1


"Baiklah, saya akan menjawab semuanya," jawab pria itu pasrah, berharap dia tidak mati walaupun sudah mengatakan semuanya nanti.


"Sekarang katakan apa maksud mu barusan tentang ibu ku,"


"Sebenarnya kematian ibu mu ada kaitannya dengan bos besar. Aku pernah mendengar bahwa kematian Joice adalah ulah bos, dan alasannya karena bos tidak ingin bertanggung jawab dengan kematiannya."


Baik Lucifer dan Rey begitu terkejut, seolah ada petir yang menyambar di tubuhnya mendengar kenyataan yang tidak pernah mereka ketahui selama ini, alasan bagaimana ibunya bisa di bunuh dengan kejam. Bahkan siapa yang membunuhnya dia sama sekali tidak tahu. Dan ternyata itu adalah ulah dari ayah kandungnya. Pantas saja informasi itu tertutup rapat, ternyata pelakuknya adalah orang yang memiliki kuasa tinggi dan seorang yang berbahaya.


Lucifer mengepalkan tangannya dengan erat, bahkan buku-bukunya memulihkan karena kuatnya cengkramannya. Rahangnya juga mengeras begitu dengan tatapannya yang tajam dan nyalang dengan mata memerah. Lucifer tidak menyangka akan mengetahui hal pahit ini. 


Dia anak yang tidak di harapkan, bahkan ingin di bunuh oleh ayahnya sendiri. Dan ibunya pun bahkan di bunuh oleh pria yang menjadi ayah kandungnya. Sungguh permainan takdir yang mengerikan.


Tubuh Lucifer seakan lemas, tidak kuat menopang tubuhnya mendengar kenyataan pahit tersebut. Memiliki seorang ayah yang kejam, dan mengerikan. 


Hah…hah….hah….


Rey yang melihat begitu kasihan dengan takdir tuannya. Selama dari kecil tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tua, bahkan orang tua angkatnya. Kini dia mengetahui kenyataan yang lebih menyakitkan, ibunya di bunuh oleh ayah kandungnya. 


Lucifer memejamkan mata, mengingat informasi dan foto yang di dapat anak buahnya saat penyelidikan kematian ibunya yang sangat mengenaskan. Rahangnya mengeras, menahan amarahan dari dalam dirinya. Tiba-tiba Lucifer tertawa keras, terdengar menggelegar di ruangan itu, bahkan sampai terdengar di luar ruangan, membuat anak buah Lucifer yang mendengar bergidik ngeri. Tawa itu tawa yang membuat mereka takut, karena jika tuannya tertawa seperti itu pasti sedang menahan amarahanya dan ingin segera di ledakkan.


"Rey, apa kau mendengarnya?"


"Saya mendengarnya tuan,"


"Katakan pada ku sekali lagi apa yang bari saja kau dengar,"


Rey seakan ragu, tapi karena itu permintaan tuannya, dia tidak bisa tidak menjawab, "Ayah anda tidak menginginkan anda, dan bahkan dia menjadi pembunuh ibu anda, tuan,"


Door….


Door….


Door….


Lucifer menembak asal untuk meredakan amarahnya. Rey dan Kai yang melihat begitu takut, takut Lucifer salah menembak dan membunuh mereka.


"Dasar tua bangga sialan! Beraninya kau ingin membunuh ku! Tak akan ku biarkan keinginan mu tercapai, tapi sebaliknya kau lah yang akan mati di tangan ku. Bahkan aku akan membuat kematian mu lebih mengerikan dari kematian ibu ku,"


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2