
Lucifer membawa Ezza di sebuah pantai, hari ini dia ingin menikmati waktunya bersama wanita tersebut. Entah apa yang di rasakan, dia hanya ingin bersama untuk hari ini. Perasaan yang tidak jelas membuatnya bingung merasakan.
"Apa kau suka?"
"Ya, aku menyukainya," jawab Ezza matanya tak lepas dari pamandangan indah itu, tak lupa tangannya merangkul lengan Lucifer, tak berniat sedikitpun untuk melepaskannya.
Lucifer membawa Ezza berkeliling membuat wanita itu sangat senang. Melihat sebuah kursi panjang kosong, Lucifer membawa Ezza duduk di sana dan melihat pemandangan indah sore hari.
"Luci bagaimana kau tahu aku ada di Paris?"
"Tidak sulit untuk ku menemukan mu. Dimanapun kamu berada mudah untuk ku menemukanmu,"
"Benarkah? Kau tidak memata-matai ku selama ini kan?" Ezza menatap Lucifer dengan selidik.
Lucifer melirik, melihat wajah yang matanya saat ini sedang memicing penuh selidik padanya.
"Memang kenapa jika aku memata-matai mu, apa kau melakukan sesuatu yang aneh?"
"Tidak! Aku tidak pernah melakukan sesuatu yang aneh."
"Oh benarkah?" Kini giliran Lucifer yang penuh selidik.
"Ish, aku ini setia ya, tidak seperti mu. Mungkin saja banyak wanita yang sudah kau kencani,"
"Terserah apa yang kau pikirkan." Lucifer mengacak rambut panjang itu dengan gemas.
Cukup lama mengobrol dan waktu sudah menunjukan malam, Lucifer mengantar Ezza pulang ke kediamannya. Di depan rumah yang cukup besar, mobil itu berhenti di depan pintu gerbang.
"Apa kau tidak masuk?"
"Aku ada urusan setelah ini. Lain kali aku akan mampir,"
"Baiklah,"
Ezza sedikit kecewa lantaran Lucifer tidak mau mampir sebentar saja ke rumahnya. Wajahnya di tekuk dengan bibir mengerucut kesal. Lucifer yang melihat hanya menyunggingkan senyum kecilnya. Menarik kepala Ezza dan mencium bibir itu dengan lembut. Melu-mat dan menye-sapnya.
Kedua saling bertukar saliva saat bibir dan lidah itu saling berbelit, menikmati rasa manis yang membuat mereka candu.
Cukup lama mereka berciuman dan Ezza kehabisan nafas, Lucifer melepas, menempelkan keningnya di kening Ezza dengan mata memejamkan, menikmati ciuman yang baru saja terjadi.
Perlahan mata itu terbuka, menatap wajah cantik Ezza yang bersemu. Tangannya terulur mengusap bibir yang basah akibat salivanya.
"Masuklah dan istirahat. Aku tahu kau lelah hari ini. Aku akan menghubungi mu nanti,"
__ADS_1
Ezza mengangguk. Walaupun sebenarnya dia ingin Lucifer mampir sebentar saja, tapi dia tidak berani memaksa.
Ezza membuka pintu hendak keluar. Tapi saat Ezza akan menurunkan kakinya, Lucifer kembali menarik tubuh itu dan menciumnya kembali. Entah kenapa Lucifer tidak ingin melihat Ezza pergi.
Kali ini ciuman Lucifer sedikit berbeda, lebih kasar dan menuntut. Ezza sampai gelagapan dengan apa yang di lakukan Lucifer.
Mmm….
Ezza memukul dada itu karena kehabisan nafas.
Lucifer yang tahu langsung melepas ciumannya, menatap Ezza yang cemberut.
"Kenapa menciumku seperti itu? Aku tidak bisa bernafas," kesalnya dengan cemberut.
"Maafkan aku, aku tidak bisa mengontrolnya," ucap Lucifer begitu lembut.
"Baiklah, aku akan maafkan. Tapi setelah ini jangan lakukan itu lagi. Jika kau meminta nya aku akan memberikan nya. Aku tidak suka kamu bersikap kasar,"
Lucifer mengangguk dan setelah itu Ezza keluar dari mobil masuk dalam rumahnya. Sedangkan Lucifer masih setia disana menatap Ezza hilang dari pandangan matanya.
Setelah Ezza menghilang dari pandangannya, Lucifer menyandarkan kepalanya di kursi dan mengusap wajahnya dengan kasar. Apa yang di lakukan barusan. Kenapa dia tidak bisa menahannya, menahan untuk mencium bibir ranum dan manis itu.
"Sial!" Umpatnya dan menyalakan mobil, meninggalkan tempat itu dan akan kembali ke markas James. Di perjalanan banyak uang dia pikirkan, terutama tempat dimana dia akan mendirikan markas untuk kelompoknya. Lucifer pun mengambil ponselnya dan mencari nomor Evan, meminta nya untuk mencarikan tempat yang aman dan luas untuk kelompoknya.
Tut…
Tut…
Tut…
"Dimana?"
"Aku sedang di Paris."
"Paris? Ngapain kamu disana?"
"Aku ada urusan penting. Oh ya, ada sesuatu yang ingin.ku katakan pada mu,"
"Katakan, ada apa?"
"Aku memerlukan lahan yang luas serta bangunan yang sangat besar. Aku ingin menjadikan tempat itu markas ku. Aku sekarang sudah memiliki banyak anggota, tolong carikan tempat yang baik untuk ku. Untuk tempat nya carikan di negara Italia, aku ingin negara itu menjadi tempat markas ku berada,"
"Baiklah aku akan menghubungi seseorang untuk mencarikan tempat sesuai permintaan mu,"
__ADS_1
"Mmm, aku tunggu kabarnya,"
Lucifer mengakhiri panggilannya.
.
.
.
4 tahun kemudian
Seorang pria tampan dengan wajah dewasanya turun dari pesawat yang barusan dia tumpangi. Kacamata hitam bertengger di hidungnya, dengan pakaian rapi berjalan begitu gagah. Dia adalah Lucifer, pria muda yang saat ini kembali kenegara asal, Indonesia. Negara yang sudah lama dia tinggalkan.
Hari ini ingin mengunjungi keluarga yang sudah lama ditinggalkan, keluarga kakaknya, Mesya.
Namun baru saja dia turun dari pesawat, sebuah kejadian membuatnya kesal dan marah. Seseorang menabrak dan memakinya. Lucifer yang tahu siapa orang itu mengepalkan tangan. Marah saat mengingat apa yang terjadi di masa lalu. Sebuah ingatan buruk yang tidak pernah ingin dia ingat lagi. Keluarga Bramestyo yang masih saja sombong dan congkak.
"Apa kau tidak punya mata?" Marah Ana, padahal sudah jelas dirinya yang salah karena tidak melihat jalan dengan benar.
"Andalah yang tidak punya mata, nyonya." Jawab Lucifer dengan nada dingin.
Ana menatap tajam pemuda di depannya. Namun saat menatap wajah dan mata itu, dia seolah mengenal pemuda di depannya. Tampak tidak asing.
"Kau….." Ana berpikir keras, mengingat siapa pemuda di hadapannya. Cukup lama mengingat, Ana pun ingat siapa pemuda tersebut, pemuda yang sangat dibencinya. "Anak haram. Oh, pantas saja aku tidak pernah melihat mu, ternyata kau tidak berada di Indonesia."
Lucifer yang mendengar sebutan Anak haram mengepalkan tangan, mengeraskan rahangnya. Menatap tajam wanita baya itu.
"Jaga mulut anda nyonya,"
"Apakah ada yang salah? Bukannya itu fakta, bahwa kau memang anak haram?"
Lucifer semakin mengeraskan rahangnya, menatap tajam wanita yang tidak takut dengannya. Geram dengan sebutan Anak haram keluar dari mulut wanita baya itu, tangan Lucifer terangkat dan mencekik leher Ana dengan kuat.
"Aku tidak seperti dulu yang kapanpun bisa kau injak Nyonya Ana. Jika kau tidak ingin mulutmu robek, maka jaga bicara anda," Lucifer menatap tajam dengan nada dingin. Membuat Ana yang melihat dan mendengar sedikit ketakutan, apalagi Lucifer tidak main-main dengan ucapannya. Terbukti pemuda itu berani mencekiknya saat ini.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1