
Lucifer yang memperhatikan semua itu mengerutkan kening, kenapa ia melihat seolah Rifky tidak menyukai Farhat, mungkinkah Rifky memiliki niat buruk pada kakaknya. Atau takut Farhat mengambil alih bengkel miliknya dan itu membuat Rifky tidak senang. Banyak pemikiran negatif terlintas di otak Lucifer. Ia merasa rumit untuk mengurai semuanya.
Kenapa semakin memperhatikan kecurigaannya semakin jelas. Mungkin kah tak hanya temannya di markas yang berhianat, tapi juga temannya yang sangat di percayainya juga berhianat. Jika itu benar, Lucifer tidak bisa berkata lagi. Sungguh semuanya tidak bisa di percaya.
Lucifer mematikan laptopnya, tidak ingin melihat lebih lama wajah teman yang selalu ada untuknya selama ini. Lagi-lagi Lucifer menghela nafas. Tidak ingin merasa pusing, Lucifer keluar dari rumah dan menuju ke markas VOLDEMORT untuk melupakan emosinya melihat kenyataan barusan.
.
.
Di rumah sakit tempat Adam di rawat, Evan menceritakan semuanya tanpa kecuali tentang apa yang terjadi selama ini, termasuk tentang Lucifer dan bisnis yang mulai di ambil alih oleh Kelompok XLOVENOS. Evan tahu Bert mengambil alih semua pelanggan nya, namun Evan hanya diam, tidak bertindak dan seolah dia tidak mengetahui. Hanya saja dia diam, bukan berarti diam sepenuhnya, dia akan melakukan sesuatu setelah ini, tapi sebelum itu Evan harus memastikan sesuatu apakah pria itu mau membantu atau tidak.
"Apa kau yakin dia bisa?"
"Saya yakin tuan. Tapi sebelum itu saya akan bertanya terlebih dahulu padanya,"
"Baiklah. Jika memang dia benar-benar bisa kita tidak boleh melepaskannya. Lagian aku juga tertarik dengan nya setelah mendengar semua cerita mu. Buat dia nyaman bersama kita, jangan biarkan ada yang menyinggungnya,"
"Baik tuan. Sebelumnya saya sudah meminta Addy untuk memperkenalkan bahwa dia adik ku, jadi saya rasa tidak akan ada berbuat macam-macam dengannya,"
"Bagus. Jika dia bisa dan mau membantu, dengannya kita bisa menghancurkan Bobby sialan itu,"
"Benar tuan." Jawab Evan berharap semuanya berjalan seperti yang mereka inginkan.
Bila di rumah sakit sekarang sedang membicarakan Lucifer, Lucifer sendiri kini sedang berlatih dengan seseorang anggota VOLDEMORT. Lucifer mengeluarkan semua emosinya di pertarungan itu. Pertarungannya sangat sengit dan membuat lawannya kuwalahan dengan serangan Lucifer yang tidak ada hentinya.
"Tuan muda saya sudah lelah, kita istirahat ya," Pria itu ngos-ngosan meladeni kekuatan Lucifer.
Lucifer yang melihat wajah lelah dan babak belur pria yang menjadi lawannya, memgangguk, berasa iba karena ulahnya.
"Baiklah,"
Lucifer pergi dan mengambil botol minum yang di berikan seseorang disana. "Terimakasih,"
"Sama-sama tuan muda. Saya lihat anda semakin mahir dalam bertarung. Saya yakin kekuatan anda sudah bisa mengimbangi kekuatan Tuan Evan,"
"Apa Evan memang begitu kuat?"
"Benar tuan, kekuatan Tuan Evan begitu kuat, bahkan Tuan Adam kalah jika beradu kekuatan dengan Tuan Adam."
"Tentu saja dia akan kalah, pria itu lebih tua di bandingkan Evan," Baik Lucifer maupun pria itu terkekeh, menang kenyataannya benar seperti itu.
__ADS_1
.
.
.
Bert saat ini mendengar laporan tentang bawahannya yang diminta mencari seseorang. Seseorang masa lalu tuannya yang sampai saat ini belum di temukan keberadaannya.
"Tuan, wanita itu memang berada di negara Indonesia. Namun kami belum menemukan beradaannya dimana,"
"Temukan dimana dia tinggal sebelumnya. Aku yakin anak nya pasti berada disana. Jika ketemu bawa anak itu ke sini, biarkan tuan melihatnya. Jika anak itu menolak bunuh saja. Jangan biarkan dia mengetahui dan menjadi ancaman untuk tuan suatu saat nanti,"
"Baik tuan,"
Jika Bert tahu keberadaan wanita yang di cari tuannya dan belum menemukan anak dari wanita tersebut, berbeda dengan Jaxon, pria itu belum menemukan keberadaan anaknya. Dan kini hanya tahu mungkin saja seorang pria muda yang di lihat putranya mungkin saja anak dari putrinya.
"Apa kamu tahu siapa pemuda itu?" Tanya Jaxon pada anak buah George yang menyelidiki Lucifer.
"Namanya Lucifer tuan. Dia tinggal bersama dengan pria bernama Evan, Asisten dari Tuan Adam yang memiliki perusahaan Exela Corporation. Dan dia berasal dari Indonesia
Jaxon mendengar dengan seksama apa yang di katakan anak buah nya. Saat mendengar nama Negara Indonesia, kening Jaxon berkerut. 'Indonesia?' Jauh sekali. Apa mungkin anaknya pergi ke Negara Indonesia. Tapi kenapa malah ke Indonesia? Bukankah pria itu tidak berasal dari Indonesia?
Pertanyaan demi pertanyaan terlintas di otaknya. Seolah ini semakin sulit untuk menemukan keberadaan putrinya.
"Belum tuan. Saat saya mencari data lengkap pemuda itu, datanya tidak bisa di akses, hanya menampilkan nama dan dari mana asalnya," jelas bawahan itu karena data pribadi Lucifer memang dirahasiakan. Bahkan dia pernah tinggal dimana dan sekolah dimana tidak ada datanya sama sekali. Lucifer menyimpan datanya dengan rapat, tidak ingin ada seseorang di luar yang mencari tahu tentang dirinya.
"Baiklah, selidiki lebih lanjut. Bila perlu kirim seseorang untuk mencari tahu siapa pemuda itu,"
"Baik tuan," bawahan itu pergi meninggalkan Jaxon yang berpikir sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di kursi.
George yang ingin menemui ayahnya, dan melihat anak buahnya keluar dari ruangan, bertanya. Apa telah menemukan sesuatu yang di inginkan atau belum.
"Bagaimana pa?" Tanya George yang melihat papanya diam, seolah banyak pikiran.
"Pemuda itu berasal dari Indonesia. Namun siapa orang tuanya tidak di ketahui, karena datanya tidak bisa di akses sama sekali,"
"Benarkah?"
"Mmm….aku meminta anak buah kita untuk datang ke indonesia menyelidiki langsung agar mudah menemukan siapa sebenarnya pemuda itu. Apakah benar anak dari Joice atau bukan,"
"Ya itu lebih baik."
__ADS_1
.
.
.
Adam saat ini sudah di perbolehkan untuk pulang. Lucifer dan Evan menjemput tuan mereka di rumah sakit. Beberapa anak buah juga di bawa untuk menjaga ke amanan tuannya saat di jalan. Dan setelah sampai di kediaman, Adam duduk di sofa menatap Lucifer duduk berhadapan tak jauh darinya.
Harus seperti apa aku memanggil mu?"
"Terserah anda tuan," jawab Lucifer
"Baiklah, aku akan memanggil mu Cifer agar terlihat lain dari yang lain," Lucifer mengangguk, panggilan apapun tidak masalah untuk nya asalnya itu masih termasuk namanya.
"Apa kau kuliah?"
"Ya kemarin saya baru mendaftar di kampus yang ada di sini karena tidak memungkinkan saya untuk kembali melanjutkannya di indonesia."
"Keputusan yang bagus. Lalu apa kau sudah mendengar apa yang di katakan Evan?"
"Sudah tuan,"
"Apa keputusan mu. Ku harap tidak mengecewakan ku,"
"Saya menerimanya, asal tidak membatasi gerak saya. Saya tidak ingin terikat dengan kelompok anda. Jika anda butuh bantuan saya akan membantu selagi saya bisa."
Adam diam. Sebenarnya Adam ingin Lucifer resmi menjadi kelompoknya dan menjadi bawahannya. Tapi mendengar Lucifer tidak ingin terikat dan hanya akan membantu seperti saja, Adam berpikir keras. Tidak seperti keinginannya.
Adam yang ada di samping tuanya, berbisik. Dam setelah itu Adam menyanggupi.
"Baiklah, aku menerimanya. Aku tidak akan mengekang diri mu asalkan kau mau membantu ku," Lucifer mengangguk.
"Lalu apa yang ingin saya lakukan untuk anda?"
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung