
"Siapa kau sebenarnya?" Tanya seorang pria yang masih tersisa.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Aku hanya ingin menyelamatkan wanita itu. Jadi lepaskan dia maka nyawa mu akan mati,"
Pria itu yang mendengar ucapan Lucifer terkejut. Apa maksud ucapan terakhirnya. Melepaskan maka dia akan mati? Tapi bukankah biasanya tidak seperti itu. Jika melepaskan maka akan selamat. Sungguh pria yang aneh.
Sedangkan gadis yang mendengar tidak percaya jika pria asing itu akan membantunya. Dia cukup senang karena akhirnya dia akan selamat. Dan setelah pria itu berhasil membunuh musuhnya, dia akan mengucapkan terimakasih, bila perlu dia akan menyerahkan dirinya pada pria yang menurut nya keren dan tampan itu.
.
.
Pria itu merasa geram dengan jawaban Lucifer. Tanpa menunggu lagi, dia maju dan menyerang Lucifer dengan pisaunya. Lucifer yang melihat malah menyunggingkan senyumnya. Pisau dan pistol, senjata mana dulu yang mampu membunuh.
Lucifer mengangkat pistolnya, mengarahkan tepat ke arah pria tersebut. Sedangkan pria yang menurut Lucifer bodoh terus maju dan berlari ke arah nya untuk menerima kematiannya. Lucifer orang yang tak segan membunuh orang tanpa ragu menarik pelatuknya dan menembak pria bodoh itu.
Door….
Satu tembakan tepat mengenai kening pria itu, membuat langkah pria itu menjadi pelan.
Lucifer tidak hanya melepaskan satu tembakan, dia melepaskan beberapa tembakan lagi ke arah pria tersebut berharap pria cepat mati.
Door….
Door….
Door….
Tubuh itu langsung jatuh dengan tengkurap tepat di depan Lucifer.
"Cih, begitu saja sudah mati. Dasar lemah,"
Lucifer menyimpan senjata kembali dan setelah itu berjalan menghampiri gadis yang berdiri tak jauh darinya dengan sebelah tangan memegangi lengannya yang berdarah. Mungkin saja akibat tembakan dari beberapa pria tadi.
"Anda tidak apa-apa?" Tanya Lucifer dengan wajah datar.
"Saya tidak apa-apa. Terimakasih telah membantu saya tuan,"
Lucifer mengangguk. "Lebih baik anda segera pergi dari sini. Tidak menjamin rekan mereka tidak datang kesini,"
Gadis itu mengangguk dan setelah itu Lucifer berbalik dan pergi meninggalkan gadis itu tanpa berniat membantunya.
__ADS_1
Gadis tersebut yang melihat terkejut saat melihat pria yang barusan membantu pergi tanpa berniat sedikitpun membantunya yang terluka. Dirinya yang sendiri dan tidak mungkin kembali dengan berjalan kaki dengan tubuh banyak luka, memanggil Lucifer dan menyusulnya.
"Tunggu, tuan,"
Lucifer tidak peduli, berurusan dengan perempuan sangat merepotkan. Cukup satu perempuan yang merepotkan nya. Perempuan yang sampai saat ini tidak bisa dia lupakan.
"Tuan, tunggu." Dengan jalan tertatih dan nafas menurut, gadis mencoba menyusul Lucifer yang berjalan dengan langkah lebar.
Brugh…
Tubuh gadis itu terjatuh karena tidak kuat lagi.
Hah…hah…nafasnya terengah-engah. Selain lelah, dia juga merasakan sakit disekujur tubuhnya.
Lucifer yang mendengar suara tubuh gadis itu terjatuh langsung menghentikan langkahnya dan menghela nafas. Berniat tidak ingin membantu hanya cukup membantu menyelamatkan nyawa saja, kini dirinya harus di repotkan kembali dengan gadis yang lemah itu.
Lucifer berbalik dan menghampiri. Tanpa meminta persetujuan, Lucifer mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya ke dalam mobil.
Brak…
Lucifer menutup pintu sedikit keras. Dan setelah itu masuk, pergi dari tempat itu. Dan akan membawa gadis itu ke rumah sakit karana tahu wanita itu banyak mendapatkan luka.
"Hubungi keluarga anda, karena tidak mungkin saya menemani anda nanti,"
Tapi sebelum seseorang yang di hubungi gadis itu datang ke Amerika, pria itu menghubungi seseorang anak buahnya yang juga berada di Negara Amerika untuk menemui putrinya.
"Papa sudah menghubungi om mu yang saat ini papa tugaskan untuk menyelidiki kepergian musuh. Dia akan datang beberapa menit lagi,"
"Baik pa,"
Lucifer kini membawa gadis itu ke rumah sakit yang sedikit jauh dari tempat kejadian. Karena tempat mereka bertarung tadi sedikit jauh dari kota.
Gadis itu di bawa ke ruang operasi untuk melakukan operasi pada luka yang ada di tubuhnya. Lucifer menunggu sesuai permintaan gadis itu, tidak memperbolehkan nya pergi sebelum om nya datang.
Lucifer sangat jenuh, dia akhirnya menghubungi seseorang yang ingin di temuinya sebelumnya. Karana alasan ini dia mengatakan membatalkan pertemuannya dan akan melakukan pertemuan lain waktu lagi untuk membahas kerja samanya.
"Tuan James maaf sebelumnya. Saya menghubungi anda karena saya ingin membatalkan pertemuan kita. Ada seuatu yang terjadi saat ini, jadi saya tidak bisa menemui anda sekarang." Ucap Lucifer berbicara lewat panggilan.
"Tidak masalah tuan, lagian saya juga ada keperluan mendadak yang tidak bisa saya tinggal,"
"Kalau begitu terimakasih. Maaf tidak menepati janji,"
__ADS_1
"Sama-sama tuan,"
Panggilan pun berakhir. Lucifer menatap ponselnya, membaca pesan masuk dari Evan yang menanyakan keberadaan nya saat ini ada dimana.
"Aku berada di Hoboken," jelas Lucifer membalas pesan.
Evan yang membaca pesan Lucifer tanpa menunggu lama langsung menghubungi, bertanya tentang apa yang di lakukan di Hoboken.
Tut…
Tut…
Tut…
"Ada apa?" Tanya Lucifer malas, yakin Evan akan mencecarnya. Dan benar saja Evan langsung menyerocos bertanya apa yang di lakukan di Hoboken.
"Apa yang kau lakukan di sana, katakan pada ku? Jika kau hanya beramin-main kenapa sampai disana. Apa kau tidak tahu khawatirnya aku jika terjadi sesuatu dengan mu."
Lucifer yang mendengar memutar bola matanya malas. Entah kenapa semakin hari Evan semakin aneh saja kepadanya. Begitu khawatir terjadi sesuatu dengannya. Tanpa Lucifer ketahui, Evan melakukan itu karena dia menyayangi dan menganggap Lucifer adik kandungnya sendiri. Hidup selalu sendiri dan kini ada Lucifer membuatnya merasa memiliki keluarga dan apapun yang terjadi Evan tidak akan membiarkan terjadi sesuatu dengan Lucifer.
"Aku baru saja melawan beberapa orang dan membunuhnya," jawan Lucifer memberi tahu apa yang terjadi dengan nya tadi. Evan yang mendengar tentu saja terkejut. Dia sangat khawatir, berpikir orang yang melawan Lucifer adalah anggota XLOVENOS yang telah mengetahui Lucifer anggota VOLDEMORT.
"Apa kau terluka?"
"Tidak. Bagaimana bisa mereka melukai ku,"
"Bagus, jangan biarkan mereka melukai mu. Aku selalu menyiapkan senjata di mobil mu. Apa itu anggota XLOVENOS?"
"Aku tidak tahu,"
Evan yang mendengar mengerutkan kening. Ah, mungkin saja Lucifer memang belum paham seperti apa anggota XLOVENOS.
"Kau harus berhati-hati, bila perlu sekarang langsung pulang. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan mu, karana aku yakin kau saat ini hanya sendirian tanpa ada pengawal yang mendampingi mu,"
Memang benar, Lucifer sendiri. Dia sungguh malas jika harus ada pengawal yang membuntuti nya. Terlalu menyebalkan.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung