PEMBALASAN ANAK HARAM

PEMBALASAN ANAK HARAM
Menemukan Kedimaan Bramestyo


__ADS_3

Setelah Evan pergi ke kantor, Zack mengetuk pintu kamar Lucifer. 


Tok….


Tok….


Tok….


"Tuan muda," panggil Zack namun tidak ada yang menyahut.


Tok….


Tok….


Tok….


Zack kembali mengetuk pintu tersebut. Tak lupa juga terus memanggil, berharap tuan mudanya bangun.


"Tuan muda, hari ini anda harus kuliah. Sekarang sudah jam setengah delapan, harap anda segera bangun agar anda tidak terlambat,"


Lucifer yang masih memejamkan mata sayup-sayup mendengar suara Zack. Matanya mengerjap  dan perlahan terbuka. 


"Tuan muda," panggil lagi Zack dan Lucifer kini tahu suara siapa yang memanggilnya.


"Ya," jawab Lucifer dari dalam kamar.


"Apa anda sudah bangun Tuan muda?" Tanya Zack masih berada di depan pintu kamar Lucifer 


Hoaah….


Lucifer menguap. Tidur terlalu pagi membuat dirinya masih sangat mengantuk.


Lucifer turun dari ranjang dan membuka pintu. 


Cklek…


Terlihat Zack menatapnya dengan senyum khas pria tua itu.


"Selamat pagi tuan muda," sapa Zack dengan ramah.


"Hm, ada apa?" Tanya Lucifer begitu lemas, masih mengantuk.


"Pagi ini adalah hari pertama anda masuk kuliah, saya harap anda tidak lupa tuan muda,"

__ADS_1


Lucifer langsung membuka matanya dengan lebar saat mengingat hari ini hari apa. Ya hari ini adalah hari pertama Lucifer akan masuk kuliah.


"Kenapa baru membangunkan ku pak Zack? Sekarang jam berapa?"


"Jam tujuh empat puluh menit,"


"Apa! Aku kan mandi lebih dulu. Siap kan mobil untuk ku,"


Brak….


Lucifer menuntut pintu dengan keras dan pergi mandi, mengabaikan Pak Zack yang diam di depan pintu karena terkejut dengan suara kerasnya pintu di tutup.


"Huh, untung tidak memiliki penyakit jantung," Pak Zack mengelus dadanya dan pergi menyiapkan mobil untuk tuan mudanya.


Di dalam kamar, Lucifer bergerak cepat agar semuanya selesai. Memakai pakaian dan menyiapkan keperluan lainnya. Setelah selesai Lucifer turun dari lantai atas. Di bawah Zack sudah menunggunya, menatap Tuan muda hya yang menuruni anak tangga.


"Tuan muda, silahkan anda sarapan terlebih dahulu. Saya sudah menyiapkan sarapan pagi untuk anda,"


"Aku sudah terlambat, harus segera pergi."


"Tapi tuan muda,"


"Aku akan sarapan di kampus saja. Tidak usah khawatir,"


Lucifer pergi dan keluar rumah, masuk mobil yang sudah di siapkan Pak Zack sebelumnya.


Di perjalanan, Lucifer mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang tak lain adalah Evan.


Evan yang sedang di kantor dan melakukan rapat bersama tuannya dan Kliennya mengabaikan panggilan itu. Karena tidak mungkin untuknya, mengangkat panggilan di saat waktu penting.


"Kemana dia?" Lucifer bergumam karena panggilan nya tidak di jawab oleh Evan. "Aku akan mengirim pesan padanya saja,"


"Apakah uang nya sudah masuk dalam rekening mu dan tuan mu itu? Jika sudah jangan lupa bonus untuk ku, 30% tidak boleh kurang,"


Setelah mengirim pesan pada Evan, Lucifer fokus pada jalanan, berharap dirinya tidak terlambat. Saat dirinya menatap kaca spion, terlihat satu mobil seperti mengikutinya. Kening Lucifer berkerut, siapa mereka?


Lucifer menginjak pedal gasnya dan mobil semakin melaju cepat, berharap mobil itu tidak mengikuti.  Tapi ternyata dugaannya benar, bahwa mobil itu memang sebenarnya sedang mengikutinya.


"Kenapa mobil itu mengikuti ku? Apakah dia musuh Evan?" Lucifer berfikir mungkin saja itu musuh Evan yang ingin membunuh karena melihat mobil milik Evan yang saat ini di kendarai olehnya. 


Lucifer kembali menginjak pedal gasnya. Dan semakin mempercepat mobilnya. Mobil yang mengikuti juga melakukan hal sama, menginjak pedal gas dan mengejar Lucifer. Kini dua mobil itu saling kejar, Lucifer tidak ingin berurusan dengan mereka, dan orang yang mengikuti tidak ingin kehilangan jejak.


"Sialan!" Umpat Lucifer. 

__ADS_1


Mobil yang di bawa bukanlah mobil balap membuat Lucifer mengumpat kesal karena menurutnya mobil itu cukup lelet untuknya.


Dua mobil melaju dengan cepat, dan saat melihat kampus hampir sampai, Lucifer menambah kecepatan untuk meloloskan diri. Hari ini dia begitu malas meladeni orang yang membuatnya kesal. Lucifer memutar setir mobil, membalikkan ke arah pintu gerbang kampus, membuat suara derita ban mobil begitu nyaring karena Lucifer melakukan dengan mendadak dan masih dengan kecepatan yang sama.


Ciit…..


Semua siswa yang berjalan kaki langsung menyingkir saat mobil Lucifer masuk halaman kampus.


Ciit…..


Lucifer menghentikan mobilnya di parkiran, berjejer dengan mobil lainnya dan setelah itu keluar dengan tampilan keren dan wajah tampan.


Para siswa wanita yang baru melihat Lucifer terpesona dan kagum akan ketampanan pemuda yang baru dilihatnya. Apalagi saat mengingat betapa keren Lucifer mengendarai mobil, membuat para wanita yang melihat semakin terpesona, seolah dimata mereka ada bentuk love berwarna merah muda.


"Uuaah tampan sekali dia,"


Kagum beberapa wanita membuat pada pemuda lainnya yang melihat kesal. Menurutnya Lucifer sangat biasa dan berpikir mereka lebih gampang dari pemuda yang di kagumi beberapa wanita itu.


"Cih, pemuda itu sangat jelek, dari matanya kalian melihat bahwa dia tampan," 


Mendengar ada yang mengatakan Lucifer jelek, semua mata wanita yang ada disana langsung menatap tajam pria tersebut, tidak terima jika pemuda yang mereka katakan tampan di sebut jelek oleh teman laki mereka.


Heh,


Seolah ada banyak pisau yang ingin membunuhnya membuat pria itu cengengesan karena apa yang di katakan ternyata membuat para wanita tidak terima. 


"Hehehe…aku hanya bercanda,"


Sedangkan Lucifer tidak peduli dengan tatapan kagum dari banyak wanita. Menurutnya para wanita itu biasa saja. Lucifer menoleh ke arah pintu gerbang, dilihatnya mobil yang mengajarkan tadi berhenti di sana dan yakin orang di dalam mobil itu memperhatikan nya.


Lucifer tersenyum menyeringai, dan pergi membuat dua orang yang ada di dalam mobil diam dengan wajah biasa.


"Apa kita akan menunggunya?"


"Tidak perlu. Setelah kampus tutup kita temui Rektor meminta data pemuda tadi. Semoga saja kita bisa mendapatkannya sesuatu yang penting dengan data dirinya yang asli."


Temannya mengangguk dan setelah itu mereka pergi. Lucifer yang masih bisa melihat arah pintu gerbang, diam dengan pandangan dingin dan datar. Dan setelah itu menemui seorang Dosen disana.


Di Negara Indonesia,  orang suruhan Bert kini mencari tahu keberadaan seseorang. Seseorang yang ikut andil dengan seorang wanita yang di carinya, Keluarga Bramestyo. Dua orang suruhan itu menatap kediaman Bramestyo, tempat dimana mereka akan tahu fakta dari wanita tersebut, tentang anak yang di kandung sebelumnya. Apakah masih hidup atau telah mati.


.


.

__ADS_1


Bersambung 


 


__ADS_2