PEMBALASAN ANAK HARAM

PEMBALASAN ANAK HARAM
Siuman


__ADS_3

Di perjalanan,  Adam lebih dulu berada di depan. Sedangkan Bobby berada di belakang, sedikit jauh dari mobil yang dikendarai Adam.


"Hubungi anak buah mu untuk bersiap, buat mobil Adam kecelakaan," 


"Baik tuan," jawab Bart dan langsung menghubungi anak buahnya yang berada di depan, menunggu perintah dari tuannya untuk mencelakai Adam.


"Lakukan," perintah Bart pada anak buahnya. Dan anak buah yang menunggu perintah itu langsung bersiap untuk membuat musuh tuannya celaka.


Mobil yang dikendarai Adam kini sampai di tempat yang sepi. Tiba-tiba dari arah depan beberapa mobil terlihat oleng, sopir Adam panik dan membanting setir untuk menghindari tabrakan. Berhasil,  namun sialnya lagi ada satu mobil lagi dari depan yang menurutnya mobil itu sangat aneh. Evan mengambil pistolnya dan membidikkan senjata, tapi belum juga peluru itu melesat, sebuah peluru menembus ban mobil dan membuatnya pecah


Daaar….


Mobil langsung oleng. Sang sopir mencoba membuat mobil itu tenang, namun sialnya dari arah belakang ada sebuah mobil menabrak dengan kuat.


Adam menoleh, di lihatnya mobil milik Bobby.


"Sialan!" Umpat Adam kesal. 


"Kenapa ini terjadi? Kemana perginya anak buah yang mengawalnya? Adam terus bertanya-tanya. Tanpa di ketahui olehnya, anak buahnya kini sedang bertarung dengan anak buah Bobby di belakang.


Saat mencurigai tuannya dalam bahaya, anak buah Adam hendak menolong, namun tiba-tiba dihentikan oleh beberapa mobil yang menghadangnya dan akhirnya pertarungan pun terjadi, membuat mereka tidak bisa membantu tuannya yang lebih dulu berada di depan.


Sedangkan Bobby sudah menyiapkan segalanya,  membuatnya berhasil untuk  mencelakai Adam.


Ciiit…..Braaak…..Duuar…..


Sopir Adam mencoba menghentikan mobil namun tetap tidak bisa dan akhirnya mobil itu terjatuh di jurang dan membuat Mobil hancur.


Bobby yang melihat langsung keluar dari mobil, melihat keadaan di bawah sana, apakah Mobil Adam hancur atau tidak.  Dan ternyata mobil musuhnya hancur dan terbakar.


Hahahaha……


Tawa menggema dari mulut Bobby, puas akhirnya dapat membunuh Adam secepat ini.


"Ini akibat jika bermain dengan ku," Tangannya terkepal, mengingat masa-masa lalu. Dia begitu benci dan dendam bagaimana bisa semuanya selalu di menangkan Adam sedangkan dirinya selalu kalah dan menjadi bayangan.


Mengingat masa-masa itu, darah Bobby mendidih, apalagi saat mengingat wajah seseorang. Membuat kemarahannya semakin memuncak dan ingin mencincang tubuh Adam.


Setelah memastikan Adam pasti mati, Bobby dan anak buahnya pergi dari tempat itu, tidak ingin ada polisi yang mengetahui bahwa dirinya terlibat dalam kecelakaan Adam. Sedangkan Adam dan Evan serta sopir mereka selamat. Sebelum mobil itu terjun, mereka melompat keluar dan jatuh tak jauh dari ledakan mobil tersebut. Dan mendapatkan luka yang cukup parah.


Evan dan sopir yang yang masih bisa bertahan, mendekati tuan mereka yang tak sadarkan diri. Evan menghubungi polisi untuk evakuasi mereka. Dan tak lama polisi datang dan membantu mereka. 

__ADS_1


Mereka bertiga di bawa kerumah sakit tak jauh dari tempat kejadian. Mereka mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakit tersebut. Anak buah Adam yang tersisa menghubungi beberapa rekannya untuk membantu menjaga tuan mereka takut musuh datang dan mencoba membunuh tuan mereka. Dan tak lama setelah itu, rekan mereka langsung datang, menjaga ruangan tuan mereka berada.


"Bagaimana keadaan Tuan?" 


"Cukup parah. Tuan mengalami beberapa patah tulang di tubuhnya, beruntung tuan masih bisa bertahan."


"Lalu untuk Tuan Evan,"


"Tuan Evan juga selamat. Namun lukanya tak separah milik Tuan, mungkin esok Tuan Evan sudah sadar,"


"Baguslah. Lalu kenapa kamu dan rombongan mu tidak menghentikan kecelakaan itu?"


"Ada sekelompok orang yang menghadang ku dan itu membuat kami tidak bisa menolong tuan," Pria itu marah karena tidak bisa mencegah tuannya mengalami kecelakaan. Jika saja tidak ada musuh yang menghentikannya, kecelakaan itu tidak akan terjadi. "Sial!" Umpatnya begitu kesal.


"Sudah lah jangan menyalahkan diri. Mungkin persiapan musuh memang sudah matang untuk mencelakai tuan."


Semua mengangguk. Yakin musuh sudah merencanakan dengan matang.


Sedangkan di lain tempat, Bobby yang mendapatkan kabar Adam tidak mati, menggebrak meja dengan kuat. Marah karena Adam tidak mati. 


Brak….


"Sialan! Kenapa badjingan itu tidak mati," marahnya dengan nafas memburu dan wajah begitu mengerikan. 


"Se…sepertinya sebelum mobil itu meledak, mereka melompat dari mobil tuan, membuat mereka semua selamat," jelas pria bawahannya itu.


Brak….


"Kenapa nyawa Adam ini susah sekali di singkirkan? Apa dia memiliki nyawa 9. Setiap kali aku membunuhnya selalu saja dia berhasil lolos dari maut," gumam Bobby mengingat kejadian-kejadian sebelumnya dirinya mencoba membunuh Adam. Namun setiap kali akan berhasil, Adam selalu saja selamat. Dan itu semakin membuatnya membenci dan ingin melenyapkan.


"Apa rumah sakit tempatnya di rawat di jaga ketat?"


"Benar tuan, rumah sakit itu di jaga ketat oleh anak buah Adam. Apa anda ingin membunuhnya, tuan,"


"Terlalu beresiko. Biarkan saja dia selamat untuk saat ini. Tapi tidak untuk lain kali. Oh ya, usahakan agar Adam tidak jadi mengirim barang pada Tuan Max,"


"Baik tuan," jawab bawahan itu dan pergi.


.


.

__ADS_1


.


Satu minggu berlalu namun Adam belum sadarkan diri juga. Berbeda dengan Evan yang sudah sadarkan diri sejak dua hari setelah kecelakaan. Dan kini Evan tinggal dalam masa pemulihan. Sedangkan Lucifer yang berada di lain rumah sakit, kini mengerjapkan mata, sadar dari komanya. 


Beberapa Dokter yang merawat Lucifer langsung memberikan penanganan terbaik, mengecek seluruh tubuh Lucifer agar kondisi tubuh Lucifer semakin baik.


Lucifer yang kondisinya masih lemah, hanya diam saja. Menerima perawatan itu, menurut karena itu terbaik untuk kesembuhan nya.


Dokter tak lupa menghubungi Evan, bahwa pasien yang di titipkan mereka kini telah sadar. Evan ingin sekali menjenguknya, namun kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan tidak bisa untuk melihat Lucifer.


"Saya titip dia pada kalian. Aku belum bisa datang untuk menjenguknya,"


"Baik tuan," jawab Dokter itu. 


Lucifer yang mendengar Dokter itu berbicara memicingkan mata. Siapa orang yang di hubungi dokter itu. Dan Lucifer juga bertanya-tanya dimana dia berada saat ini? Beberapa Dokter itu orang bule, dia yakin saat ini tidak berada di Indonesia.


"Dok," panggil Lucifer 


"Ada yang bisa saya bantu tuan. Apa ada sesuatu yang ingin anda katakan?"


"Saya hanya ingin bertanya, dimana saat ini saya berada. Maksud saya negara apa ini?"


"Oh, anda saat ini ada berada di Amerika tuan,"


"Amerika?" Gumam Lucifer bingung. Kenapa dia bisa berada di Amerika? Bukankah sebelumnya dia berada di Indonesia.


Lucifer mengingat. Tiba-tiba terlintas kejadian yang menimpanya. 


Deg…


Beberapa teman di markas mafia nya menghiyanatinya. Entah apa alasannya sampai mereka melakukan penghianatan itu. Rahang Lucifer mengeras, mengepalkan tangan dengan kuat. Tidak menyangka dirinya akan mengalami hal seperti ini. 


Lucifer teringat dengan kakaknya, yakin jika kakaknya pasti menghawatirkannya. 


Hah, Lucifer menghela nafas. Dia akan membuat perhitungan pada teman penghianatnya itu. Dia tidak akan melepaksannya dan akan membuat perhitungan pada mereka, membunuhnya dengan keji. 


.


.


.

__ADS_1


Bersambung 


__ADS_2