
"Tidak, saya tidak mengetahui. Bahkan namanya saja saya tidak tahu. Saya kira mereka memang saudara, jadi saya tidak terlalu memperhatikan."
Tubuh Mesya luruh, lemas. Kemana dia akan mencari keberadaan adiknya. Dia bukanlah orang yang berkuasa. Tidak mudah untuk nya mencari keberadaan adiknya yang pergi entah kemana.
.
.
"Sayang," panik Farhat menopang tubuh Mesya.
"Hiks…hiks...Luci mas, Luci. Dimana Luci mas?" Mesya menangis dan akhirnya pingsan.
Farhat yang melihat panik dan membawanya ke kamar rawat untuk di periksa. Dokter pun dengan cekatan memeriksa keadaan Mesya.
"Bagaimana Dok?"
"Nyonya hanya banyak tekanan pikiran. Setelah siuman usahakan untuk tidak berpikir yang berat-berat karena tidak baik untuk kesehatannya, apalagi nyonya juga habis melahirkan,"
"Baik Dok, terima kasih,"
"Kalau begitu saya permisi dulu."
Dokter itu pergi, sedangkan Farhat menatap wajah pucat istrinya yang masih tak sadarkan diri. Sedih rasanya melihat istrinya seperti itu.
Farhat mengusap kepala Mesya dengan lembut, "Kuatlah sayang, kita akan mencari Luci hingga ketemu."
Farhat tahu Lucifer adalah segalanya untuk Mesya karena Lucifer adalah keluarga satu-satunya istrinya miliki, wajar jika Mesya akan seperti saat tidak menemukan adiknya.
Rifki, Dion dan Hamdan hanya diam menatap kakaknya yang seperti itu. Tidak tega, tapi mau bagaimana, mereka pun juga tidak bisa menemukan keberadaan Lucifer saat ini.
Hah, mereka menghela nafas dan keluar dari ruang rawat Mesya, memberi ruang untuk sepasang suami istri tersebut.
"Bagaimana?" Tanya Dion.
"Bagaimana apa nya?" Tanya Rifky bingung.
"Tentang Lucifer. Apakah kita akan mencarinya hingga ujung dunia?"
"Kau saja," jawab Rifky membuat Dion dan Hamdan menoleh, apa maksudnya, pikirnya.
__ADS_1
"Loh, kok gitu. Kita kan sahabat, saat teman butuh bantuan seharusnya kita membantu dan mencari. Tapi kau__"
"Kau pikir mencari keberadaan orang hilang mudah? Kita bukan orang yang mempunyai kekuasaan tinggi, pastinya akan susah, bego,"
Dion dan Hamdan diam, membenarkan apa yang di katakan Rifky.
"Lalu bagaimana?" Tanya Hamdan.
"Kita sewa detektif saja," jawab Dion cepat langsung mendapatkan tonyoran dari Rifky.
"Kau pikir menyewa detektif tidak bayar. Kau mau bayar pake daun? Tolol kok dipelihara." Kesal Rifky. Memang benar jika menggunakan jasa Detektif mungkin bisa menemukan Lucifer. Namun untuk menyewa jasanya bukanlah hal mudah, butuh dana yang besar.
"Jika mereka mengumpulkan uang mereka menjadi satu, mungkin saja cukup. Tapi jika waktu yang di butuhkan sangat lama dan uang mereka habis bisa-bisa mereka menjadi gelandangan dan bengkel bisa jadi akan bangkrut.
"Aku tahu memberi upah pada detektif memang mahal. Tapi apa kita tidak berusaha sedikit pun untuk mencari keberadaannya. Bagaimanapun sebelumnya Lucifer selalu membantu kita," ucap Dion dan membuat Rifky diam. Benar kata Dion, Lucifer selalu membantunya selama ini. Dan saat Lucifer dalam keadaan tidak baik-baik saja, mereka seakan tidak peduli, sama sekali tidak berusaha mencari keberadaannya.
"Baiklah, kita akan mencarinya,"
Setelah berembuk, mereka akhirnya menyewa seorang detektif untuk mencari keberadaan Lucifer. Selama pencarian, mereka tetap menjalankan bengkel, mereka tidak ingin bengkel yang si bangun Lucifer hancur karena tidak adanya Lucifer.
Setelah menunggu hampir dua minggu, detektif yang disewa akhirnya memberikan laporan kepada mereka bertiga.
"Bagaimana?"
"Tidak ada di Indonesia?"
"Benar tuan. Seperti nya Tuan Lucifer di bawa pergi ke luar negeri,"
"Luar negeri? Lalu kau tahu dimana dia sekarang?" Detektif itu menggeleng, tidak tahu kemana orang tersebut membawa Lucifer. Karena saat menyelidiki di bandara, datanya sama sekali tidak ada dan itu yang membuatnya bingung. Sepertinya orang yang membawa Lucifer bukanlah orang biasa.
"Saya tidak tahu tuan. Hanya saja saya meyakini, orang yang membawa Tuan Lucifer bukanlah orang sembarangan,"
Semuanya kembali diam. Mereka tidak terlalu tahu siapa saja yang sering berkomunikasi dengan Lucifer. Oleh sebab itu tidak bisa membuatnya menerka-nerka.
"Baiklah, terimakasih sudah membantu kami. Ini bayaran pelunasan untuk anda," Rifky memberikan uang dalam amplop coklat dan Detektif itu tanpa ragu langsung mengambil bayarannya.
"Terimakasih. Jika anda butuh bantuan sesuatu, anda bisa menghubungi saya," Semuanya mengangguk dan setelah itu Detektif tersebut pergi meninggalkan mereka bertiga yang termenung.
"Bagaimana? Petunjuk sudah sangat jelas bahwa Lucifer mungkin dibawa keluar negeri. Apa kita akan melakukan penelusuran lagi hingga ketemu?" Tanya Rifky menatap kedua sahabatnya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Lucifer tidak jelas berada di mana. Jika melakukan pencarian hingga ketemu kita harus menyelidiki satu persatu negara dan itu akan memakan banyak waktu,"
Hah….semuanya menghela nafas.
"Sekarang kita kembali saja. Kita pikirkan selanjutnya besok pagi. Ini sudah malam, aku mengantuk."
Dion dan Hamdan mengangguk dan mereka pun bubar meninggalkan apartemen milik Rifky
Setelah mereka berdua pergi, sebuah panggilan masuk di ponselnya. Melihat nomor yang di kenalnya, Rifky langsung mengangkatnya.
"Bagaimana?"
………"
"Hm, baiklah. Temukan sampai dapat."
Setelah berbicara dengan seseorang, Rifky mengakhiri panggilannya dan setelah itu melempar tubuhnya di ranjang, merasa lelah.
.
.
.
Di Negara Amerika, Lucifer berada di rumah sakit masih dengan banyak alat yang menempel di tubuhnya. Evan mempercayakan beberapa Dokter untuk merawat Lucifer selagi dia sibuk bersama dengan tuannya karena tidak mungkin untuk dirinya selalu berada di samping Lucifer.
Tapi sebelumnya dia sudah berpesan kepada Dokter jika terjadi sesuatu dengan Lucifer mereka harus segera menghubunginya apapun itu yang terjadi.
"Aku percayakan dia pada kalian. Lakukan yang terbaik untuk nya,"
"Baik tuan, kami akan memberikan yang terbaik untuk Tuan Lucifer,"
Evan pergi dan kembali bekerja. Evan sebelumnya sudah izin kepada Tuannya untuk lebih dulu membawa Lucifer kerumah sakit, dan Tuan nya menyetujui dengan syarat hanya di berikan izin waktu selama 30 menit. Dan kini waktu itu telah habis, membuatnya harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan semua pekerjaan nya yang tertunda.
Evan mengendarai mobilnya menuju perusahaan Exela Corporation. Perusahaan yang sudah menjadi tempatnya mencari uang selama 10 tahun lebih. Bahkan tak saya disana, Evan juga menjadi bawahan tuannya langsung di sebuah organisasi besar, yaitu sebuah organisasi Mafia VOLDEMORT. Organisasi yang berkutat dengan perdagangan ilegal terbesar, pengendar senjata api dan Narkoba terbesar di Amerika.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung