
Setelah pertemuan itu, Alex begitu marah. Saat sampai di kantor dia membanting apapun yang ada di sana, membuat ruangan itu sangat kacau. Asistennya yang melihat hanya diam, tahu saat ini tuannya sedang tidak bisa dicegah karena amarahnya memuncak setelah bertemu dengan pria yang sangat di bencinya.
"Dasar anak haram sialan!"
Prang…
Gelas minum yang ada di meja pecah karena dibantingnya dengan kuat, membuat pecahan itu berserakan di lantai.
Nafas Alex tersengal-sengal masih dengan kemarahannya yang menggebu.
"Tuan,"
"Apa kau tidak tahu bahwa pemilik itu adalah anak haram itu?"
"Tidak tuan, saya tidak tahu. Saya hanya tahu bahwa sebelumnya perusahaan itu milik Tuan Abraham, bukan milik Tuan Lucifer."
Alex duduk di kursi mengusap wajahnya dengan kasar, mengingat janjinya pada papanya bahwa yakin akan bisa bekerja sama dengan Abraham Group.
Ddrrrt….Ddrrrt…..
Alex mengambil ponselnya, terlihat nama papanya memanggil dan Alex yakin bahwa papanya pasti akan bertanya tentang kerjasama dengan Abraham Group.
Tut….
"Ya, hallo pa,"
"Bagaimana? Apa kau berhasil bekerja sama dengan Abraham Group?" Tanya Bram antusias ingin mengetahui keberhasilan itu.
Hah….Alex menghela nafas. "Aku gagal, Abraham Group menolak kerjasama ini,"
"Apa….!!! Bagaimana bisa?"
"Karena ternyata CEO Abraham Group adalah anak haram itu pa,"
Bram sungguh terkejut saat mendengar apa yang di katakan putranya, bahwa CEO Abraham Group adalah Lucifer bukan Abraham, pria tua yang selama ini dia tahu.
"Apa yang kau katakan benar?"
"Benar pa, bahkan aku bertemu dengan badjingan sialan itu. Dan papa tahu dia menolak dengan mentah-mentah kerjasama ini dengan seringainya yang menjijikkan itu."
"Pasti dia sengaja melakukan itu."
"Aku juga merasa seperti itu. Aku yakin dia ingin membalas dendam dengan apa yang kita lakukan selama ini."
__ADS_1
"Seharusnya dia tidak melakukan itu. Urusan perusahaan tidak bisa di campur adukkan dengan masalah pribadi. Dia benar-benar sialan dan badjingan. Aku tidak bisa memaafkan nya, kita harus buat dia menyesal telah melakukan ini pada kita."
"Lebih baik papa hubungi orang itu untuk mempercepat membunuh Lucifer. Aku tidak sanggup melihat dia semakin sukses seperti ini."
"Baiklah. Papa akan meminta mama mu untuk menghubungi mereka. Untuk mempercepat rencana mereka."
"Aku tidak sabar melihatnya mati mengenaskan seperti ibunya." Seringai muncul di bibir, tidak sabar melihat Lucifer mati.
"Kau tenang saja, papa pastikan dia akan mati secepatnya."
.
.
Bram kini bersama dengan Ana, memberitahukan semuanya pada istrinya tentang apa yang terjadi hari ini. Ana yang mendengar begitu geram, marah dengan Lucifer yang menurutnya sangat berani.
"Berani sekali dia. Lihatlah aku tidak akan membiarkan nya senang setelah ini,"
Ana menghubungi orang tersebut, mengatakan untuk mereka segera mempercepat pekerjaannya. Dan orang itu menyetujui, karena menurutnya terlalu lama menunda tugas akan berdampak buruk pada mereka.
"Baiklah, kalian tenang saja, semuanya akan berakhir dan kalian tidak perlu khawatir tentangnya, karena kami akan segera menyelesaikan tugas ini,"
"Kami tunggu kabar itu,"
"Lihat saja anak haram. Ini akibat karena kau berani pada kami,"
Tawa dua orang menggelegar di ruangan itu, tidak sabar menanti kematian Lucifer.
.
.
Lucifer pulang dari kantor dengan perasaan bahagia karena yakin telah membuat Alex marah. Tapi kebahagian itu tidak berlangsung lama, karena saat di perjalanan tiba-tiba mereka di serang oleh seseorang.
Door…
Door…
Tembakan melesat menghantam mobil yang di kendari Lucifer dan Rey. Lucifer yang melihat ada penyerangan langsung mengeluarkan senjata, mengisi peluru dan membuka kaca mobil, menembak mobil yang menyerangnya.
Door…
Door….
__ADS_1
Door….
Tembakan menghantam mobil musuh, membuat kaca depan mobil tersebut pecah.
Pyaaar….
Seringai muncul di bibir Lucifer.
Door..
Satu tembakan lagi di lesatkan ke arah ban mobil itu, membuat ban itu meledak dan mengakibatkan mobil oleng.
Ciiiittt…..
Door..…
Door…..
Door…..
Beberapa tembakan melesat ke arah mobil itu, anak buah Lucifer datang membantu untuk meringkus dan membunuh musuh.
Lucifer yang melihat anak buahnya datang membantu meminta Rey untuk melanjutkan perjalanannya. Lucifer yakin anak buahnya mampu mengurus mereka semua.
"Tuan, sepertinya mereka dari kelompok XLOVENOS,"
"Em, aku juga berpikir seperti itu. Hubungi anak buah mu untuk membawa mereka, aku ingin tahu alasan mereka menargetkan ku."
"Baik tuan,"
Rey menghubungi anak buahnya yang kini sedang meringkus beberapa orang yang menyerang tadi, memintanya membawa ketempat mereka. Dan anak buah Licifer mengangguk dan akhirnya membawa mereka sebagai tahanan.
Di lain tempat, rekan dari orang yang menyerang Lucifer kini marah besar saat beberapa orang yang di tugaskan membunuh dan membawa Licifer gagal melakukan tugasnya, bahkan kini mereka ada di tangan anak buah Lucifer.
"Bang*sat sialan! Bagaimana bisa mereka kalah begitu saja," kesal orang yang memimpin kelompok itu.
"Mungkin jumlah mereka lebih banyak dari kita Tuan, sehingga membuatnya mudah mengalahkan rekan kota,"
"Sial, jika seperti ini aku yakin tidak akan bisa membawa dan membunuh anak itu,"
"Jika memang kita menginginkan tugas ini lebih cepat selesai, lebih baik kita menghubungi rekan kota yang lain untuk membantu kita disini,"
"Ya, kau benar. Aku akan menghubungi mereka. Lagian tugasnya ini tugas bersama, karena ini perintah langsung dari bos kita,"
__ADS_1
Pria itu menghubungi rekan lainnya di markas. Meminta bantuan dalam misi ini. Dan mereka siap membantu untuk menangkap Lucifer. Tak menunda lagi, mereka langsung terbang ke indonesia dengan jumlah yang cukup banyak hanya untuk menangkap satu orang. Mereka melakukan itu karena ada alasan lain, yaitu Lucifer tidak mudah di tangkap dan di bunuh karena anak buah Lucifer selalu berada di dekat target mereka.