PEMBALASAN ANAK HARAM

PEMBALASAN ANAK HARAM
Kematian Bram Bramestyo


__ADS_3

Jaxon yang mendengar Lucifer memanggilnya kakek tentu saja senang dan terharu. Air matanya tiba-tiba menetes, air mata kebahagian. Walaupun dia tidak bisa melihat putrinya lagi, tapi kini dia masih bisa melihat Lucifer, cucunya, anak dari Joice Maven.


.


.


Mereka kini berpelukan lagi, melepas rindu yang lama terpendam. Semuanya yang melihat begitu terharu, air mata mereka sampai menetes melihat semua itu. Ezza yang ada di sana mengusap air matanya. Dia begitu bahagia karena kekasihnya akhirnya menemukan keluarga kandungnya, keluarga yang selalu di inginkan oleh Lucifer.


Lucifer menerima mereka dengan senang hati, tidak mempermasalahkan mereka karena menemukannya begitu lama. Lucifer sendiri tahu tidak mudah menemukan keberadaan orang hilang, apalagi orang yang di carinya dengan pintar merubah identitas dengan baik agar tidak ada yang menemukan. Bahkan kematiannya pula di rahasiakan dengan sangat rapat.


"Apa kamu tidak marah karena kakek menemukan mu begitu lama?"


"Tidak, aku sama sekali tidak marah. Aku tahu tidak mudah menemukan informasi yang akurat,"


Jaxon semakin senang dengan sifat Lucifer, dua mengelus wajah itu dengan tangan keriputnya. 


"Wajah mu begitu mirip dengan ibumu, hanya saja mata dan bibir mu mirip dengannya,"  saat mengatakan itu wajah Jaxon berubah dingin, dia begitu membenci pria yang menyebabkan putrinya mati dan menyebabkan dirinya terpisah dengan cucunya.


Kebencian itu begitu besar, ingin sekali dia membunuh dan mencincang pria gila itu. Ya, Jaxon tahu siapa pelaku yang mengakibatkan anaknya mati.


"Ayah," George mengelus punggung itu. Dia tahu apa yang di rasakan oleh ayahnya. Kebencian kepada Bobby benar-benar memuncak. Tidak sabar untuk membalas perbuatan pria itu.


"Kek, ada apa?" Tanya Lucifer melihat perubahan wajah itu.


"Tidak ada apa-apa?" Jawab Jaxon menyembunyikan, tidak ingin pertemuan yang membahagiakan ini sirna lantaran dirinya malah memikirkan hal lain.


"Ada apa? Apa yang kakek pikirkan? Katakan pada ku, aku ini cucu mu. Siapa tahu aku bisa membantu kakek,"


Jaxon menatap Lucifer. Entah kenapa dia yakin cucunya akan mampu mengatasi kebenciannya pada Bobby Albern. Dia mengatakan semua tanpa menyembunyikannya sedikitpun. Berharap Lucifer membalaskan dendamnya pada Bobby tentang kematian Joice Maven.


Lucifer yang mendengar tentu saja langsung menjawab dan akan membantu, lagian saat ini memang dirinya sedang memiliki masalah dengan pria yang menjadi ayah kandungnya. Seorang ayah yang menargetkannya Dan menginginkan kematiannya.


"Kakek tidak perlu khawatir, aku akan mengatasi badjingan sialan itu. Tak akan ku biarkan dia hidup di dunia ini agar ibu tenang di alam sana," Lucifer yakin jika dirinya membunuh Bobby pasti Ibunya yang ada di langit akan senang dengannya karena dendamnya telah terbalaskan.


"Aku harap pria itu mendapatkan balasannya atas kekejamannya,"

__ADS_1


Semuanya mengangguk, berharap Bobby secepatnya mati di tangan Lucifer, anaknya sendiri. 


Setelah pertemuan itu, mereka tinggal bersama di kediaman Lucifer. Sebelumnya Lucifer sudah mengatakan bahwa mereka beberapa hari lagi akan kembali ke Amerika. Dan Jaxon serta George setuju, akan kembali bersama dengan Lucifer nantinya.


Di Negara Amerika, seorang pria yang tak lain adalah Bobby, dengan berembuk dengan Bart. Dia yakin anaknya itu bukanlah lawan yang mudah.  Apalagi saat mengetahui, anaknya yang memiliki kelompok cukup besar. Tak hanya itu masih ada kelompok lain yang pastinya akan membantunya, kelompok VOLDEMORT yang di pimpin oleh Adam, musuhnya. 


"Bart, hubungi Steven dan Morgan, minta padanya untuk membantu kita. Katakan jika kita berhasil aku akan memberikan Bar ku pada nya,"


"Baik tuan," jawab Bart mematuhi. 


Bart pun menghubungi teman tuannya, Steven dan Morgan, meminta bantuannya untuk melawan kelompok Lucifer dan Adam, dan pastinya masih ada kelompok lain yang tak lain adalah Kelompok milik Jaxon.


Walaupun jumlah kelompok Jaxon tidak sebesar milik Lucifer dan Adam, tapi itu masih bisa membantu, menambah pasukan mereka melawan Bobby.


Steven dan Morgan yang mendapatkan panggilan tersebut dan mendengar imbalan yang di berikan Bobby jika mau membantunya, mereka menyetujui, karena tahu Bar milik Bobby begitu besar dan pastinya selalu mendapatkan uang dalam jumlah banyak. Mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan akhirnya mengambil tawaran tersebut.


"Baiklah, kami akan membantu mu,"


"Saya tunggu kedatangan kalian di Amerika. Saya harap kalian tidak terlambat. Jangan sampai dia datang lebih dulu menghancurkan tuan ku,"


"Kau tenang saja. Kami akan langsung berangkat saat ini juga," Bart mengangguk dan panggilan berakhir. 


"Lihat saja, kau akan mati di tangan ayah mu ini,"


Entah kenapa Bobby begitu tidak menginginkan Lucifer. Padahal seharusnya dia senang karena memiliki seorang penerus nantinya. Bobby tidak berpikir Jika hidupnya di dunia hanya sementara, yang dia pikirkan hanya karena tidak ingin kehilangan miliknya satu persen pun. Dasar ayah tak berotak.


Kelompok Steven dan Morgan langsung berangkat ke Amerika, dia tidak ingin Bobby marah karena keterlambatannya. Oleh sebab itu, saat mendengar permintaan itu mereka tidak menunda lagi, yakin Bobby dalam keadaan mendesak dan butuh bantuannya.


Sedangkan Lucifer dan lainnya kini telah bersiap untuk kembali ke Amerika. Dia menggunakan jet pribadinya berangkat kesana. Tapi sebelum itu, dia menemui Bram dan Ana terlebih dahulu, melihat keadaan mereka. Dan saat sampai disana, dilihatnya Ana sudah tergeletak tak berdaya, lemah dan mungkin saja mati. Sedangkan Bram sendiri masih sadar. Yah, walaupun tubuhnya begitu lemah.


Bram yang melihat kedatangan Lucifer, menatap dengan sayu. Dia mengangkat tangannya berharap Lucifer mau berbicara dengan nya.


"Luci," panggilnya begitu lirih.


Lucifer yang memasang wajah dingin dan datar mendekat dan berdiri tepat di depan Bram sambil bersedekap dada. Ingin mendengar apa yang di katakan Bram padanya.

__ADS_1


"Ma…afkan pa…pa," ucapnya dengan lemah, tidak memiliki tenaga.


Dua kata yang paling di benci Lucifer saat Bram mengatakan itu. Maaf, kenapa kata maaf itu tidak keluar saat dulu, kenapa harus sekarang. Dia membenci Bram mengatakan itu. 


Dari lubuk hati yang paling dalam, Lucifer sebenarnya tidak tega, apalagi saat mengingat dulu dia hidup dari uang milik Bram. Yah, walaupun mereka selalu kasar padanya, tidak membuang kenyataan bahwa dia diasuh oleh Bram.


"Baiklah, aku memaafkan mu. Ku harap setelah ini kau bisa tenang."


Tes….


Air mata itu menetes di sudut mata Bram. Dia menyesal. Ya, sangat menyesal. Kenapa dulu dia begitu jahat pada anak kecil itu, anak yang kini sudah tumbuh besar dan sukses. Jika dulu dia tidak melakukan hal jahat, mungkin sekarang dia tidak akan mengalami hal seperti ini.


"Teri..ma…kas…sih," ucapnya dan setelah itu menghembuskan nafas terakhirnya. Bram Bramestyo dinyatakan mati saat ini. Di depan anak angkat yang dulu sangat di bencinya.


Lucifer yang melihat menghembuskan nafasnya dengan berat. Tidak ada kenangan sedikitpun yang menyenangkan saat bersama Bram, yang ada hanya kesedihan, rasa pilu. 


Lucifer memanggil anak buahnya untuk mengurus kematian Bram, dia ingin Bram di kubur dengan layak. Yah, walaupun membenci, Lucifer tidak tega jika tubuh itu diberikan pada binatang buas di hutan. Bagaimanapun Bram adalah orang yang memberikan hidup saat dia masih kecil.


"Kuburkan dia dengan kayak."


"Baik tuan, lalu bagaimana dengan wanita itu?"


"Buang mayat nya di hutan. Biarkan tubuhnya di makan binatang buas. Dia pantas mendapatkan nya,"


"Baik tuan,"


Anak buah Lucifer melakukan tugas dari tuannya, memakamkan Bram di tempat pemakaman umum. Lucifer menemani hingga anak buahnya selesai. Dan setelah itu, dia berjongkok menyentuh nisan bertuliskan mama Bram Bramestyo, wafat 5 agustus 2017 dan berkata dengan lirih. 


"Ku harap kau tenang disana. Maafkan aku karena kejam telah membuat mu mati di tangan ku. Ku harap kau bertemu dengan ibuku disana dan menjelaskan semuanya."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung 


 


__ADS_2