
Semua yang mencari keberadaan mereka bertiga kini berpencar, menyusuri tempat itu. Sedangkan yang di cari kini berada di sebuah rumah kecil yang berada di antara penduduk tempat itu.
Kruyuk….
Bunyi perut Ana lapar karena setelah keluar dari rumahnya mereka belum makan sedikitpun.
"Mama lapar Lex,"
"Tapi kita tidak bisa keluar, ma. Takut mereka menemukan keberadaan kita," jawab Alex mengingatkan jika mereka sekarang menjadi buronan.
"Tapi mama sangat lapar, mama tidak tahan jika harus menahan rasa lapar ini,"
Alex diam dan menghela nafas. "Baiklah, akan Alex carikan makanan untuk mama, tapi saat Alex pergi jangan sekalipun kalian keluar dari tempat ini," Ana dan Bram mengangguk, akan menunggu Alex kembali.
"Berhati-hatilah, jangan sampai mereka melihatmu,"
Alex mengangguk dan pergi. Dengan waspada dan mencari jalan aman, Alex akhirnya bisa keluar dari tempat itu. Tapi saat dia melewati sebuah jalan, Alex terkejut melihat beberapa pria yang dikenalnya berada di tempat itu.
"Sialan! Bagaimana bisa mereka menemukan tempat ini secepat ini?"
Alex bersembunyi sambil mengintip mereka yang terus mencari keberadaan mereka.
"Bagaimana? Apa ada tanda-tanda keberadaan mereka?"
"Tidak ada, mungkin mereka tidak ada disini,"
"Baiklah, kita cari di tempat lain lagi,"
Semuanya mengangguk dan pergi dari tempat itu, membuat Alex yang sedang bersembunyi mereka lega. Alex begitu kesal karena ulah anak haram itu kini hidupnya harus seperti ini, bersembunyi demi menyelamatkan nyawanya.
Alex pergi dari tempat itu. Tapi saat berada sedikit jauh, dia teringat dengan mama dan papanya. Mungkinkah mereka akan menemukan mereka. Tapi jika dia kembali menyelamatkan mama dan papanya, pasti dirinya akan di tangkap oleh mereka.
"Tidak! Aku tidak ingin di tangkap oleh anak haram itu. Biarkan papa dan mama saja yang di bawa jika mereka menemukan mereka."
Alex memutuskan untuk tidak kembali. Jika pun Bram dan Ana akan di temukan oleh mereka, Alex tidak peduli. Pikirnya nyawanya lebih penting dari orang tuanya.
__ADS_1
Dan benar seperti dugaannya, anak buah Lucifer kini menemukan keberadaan Bram dan Ana. Mereka di bawa paksa oleh beberapa orang itu dan akan diserahkan kepada tuannya.
"Lepaskan aku!" Teriak Ana memberontak.
Tak hanya Ana, Bram juga memberontak minta di lepaskan. Namun semua itu sia-sia, karena tenaga mereka berdua kalah oleh anak buah Lucifer yang kuat dengan tubuh besar.
Ana dan Bram berharap Alex kembali dan membantu mereka. Tapi sampai mereka di bawa kedalam mobil, anak semata wayangnya itu tidak muncul batang hidungnya sama sekali. Entah kemana perginya mencari makanan, sampai dia tidak kembali dan membantunya.
Alex yang sebenarnya mengetahui mengepakkan tangan. Dia akan membalas semuanya pada Lucifer tentang apa tangkap di lalukannya.
"Lihatlah, setelah ini aku akan membuat mu menyesal anak haram,"
Alex pergi dari tempat itu tujuannya adalah pergi dari negara ini dan menuju tempat dimana dia bisa berlindung dengan orang yang juga ingin melenyapkan Lucifer.
Alex menghubungi seseorang, memintanya untuk menjemputnya, dan orang itu langsung menjemput Alex dimana dia berada. Tapi sebelum itu, mereka akan mampir kesuatu tempat, tempat di rumah sakit dimana seorang pria berbaring tak sadarkan diri di atas ranjang pasien karena di hajar habis-habisan oleh seseorang. Dia adalah Rifky yang kini di rawat di rumah sakit atas perintah Lucifer.
"Kita mau kemana?"
"Kita akan pergi kerumah sakit untuk membawa seseorang,"
"Rifky, kau pasti mengenalnya." Ucap orang yang yang tak lain adalah seorang yang pernah ikut andil dalam pembunuhan Lucifer waktu itu, sebelum di selamatkan oleh Evan.
"Kenapa kau membawanya? Itu akan berbahaya jika anak haram itu mengetahui,"
"Biarkan dia mengetahui, itu malah bagus jika dia tahu,"
Alex mendengus, entah apa yang dipikirkan oleh pria itu, Alex benar-benar tidak mengerti jalan pikiran mereka semua.
Mereka kini pergi ke rumah sakit. Mereka sudah menyewa seseorang untuk menyamar menjadi perawat untuk membawa Rifky pergi dari sana. Dan usahanya berhasil, mereka kini berada di bandara, masuk ke pesawat jet pribadi untuk pergi meninggalkan negara Indonesia.
Rifky yang di biarkan sendiri di rumah sakit membuat Lucifer tidak mengetahui jika pria itu kini telah menghilang. Lucifer kini sedang bersama dua orang yang berhasil di tangkap oleh anak buahnya, Ana dan Bram.
Byuuur….
Ana dan Bram langsung sadar dari pingsannya karena sebelumnya mereka di pukul oleh anak buah Lucifer hingga pingsan, karena mereka terlalu ribut, meminta untuk di lepaskan.
__ADS_1
Ana dan Bram gelagapan saat air itu menyiram wajahnya.
Ana dan Bram terkejut saat mata itu melihat jelas siapa yang ada di hadapannya. Anak yang dulu pernah di rawatnya, Lucifer.
"Kau…!"
"Kanapa, kalian terkejut?" Jawab Lucifer duduk santai di depan mereka berdua dengan tangan bersedekap dada, dan tatapan menyeringai.
"Apa yang kau inginkan? Lepaskan lagi!"
"Melepaskan mu setelah susah payah menemukan kalian? Hh…kalian pikir aku akan menuruti ucapan kalian, jangan mimpi!"
"Apa yang sebenarnya kau inginkan? Kita tidak memiliki urusan. Jadi lepaskan kami anak haram," ucap Ana marah saat mendengar Lucifer tidak akan melepaskannya.
Plak….
Satu tamparan keras mendarat di pipi Ana, membuat wajah itu memerah dan membekas. Bram yang melihat rercengang, bagaimana bisa Lucifer begitu berani menampar Ana di depannya.
"Kau!!" Ucap Ana geram, menatap tajam Lucifer, sedangkan satu tangannya menyentuh pipinya yang terasa kebas.
"Jika kau berani berkata seperti itu lagi, aku tidak akan segan untuk menampar mu lagi." Ucap Lucifer dengan nada dingin dan tatapan tajam.
Sekarang jawab pertanyaan ku, apa hubunganmu dengan mereka?" Tunjuk Lucifer pada sebuah foto saat Ana bersama dengan beberapa orang yang tak lain adalah Kelompok Mafia XLOVENOS.
Ana dan Bram yang melihat saling pandang. Jadi selama ini Lucifer memata-matai nya. Dasar sialan!
"Kenapa, apa kau mulai takut bahwa kami memiliki hubungan? Jika kau takut maka lepaskan aku. Maka aku akan mengampuni nyawa mu,"
Ana berpikir, saat dia mengatakan bahwa dirinya dan mereka memiliki hubungan, Lucifer tidak akan berani lagi padanya dan takut pada sosok di belakang mereka. Tapi pemikiran mereka salah, Lucifer malah tertawa kerasa seolah apa yang di katakan Ana sebuah lelucon.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung