
Rey membawa mobil itu melaju menuju perusahaan yang lama tidak tuannya urus. Kesibukannya mengurus urusan bisnis di luar negeri membuat Lucifer harus merepotkan kembali Abraham untuk mengurus perusahaan tersebut. Abraham pun tidak mempermasalahkan, karena tahu Lucifer mencoba mendirikan kerajaannya di sana.
"Bagaimana tentang penyelidikan mu?"
"Untuk masalah Mafia XLOVENOS, mereka benar-benar terlibat dengan orang yang ada disini, tuan."
"Kau tahu orangnya?"
"Mereka adalah Keluarga Bramestyo,"
"Keluarga Bramestyo? Kenapa mereka terlibat dengan mereka?"
"Saya tidak tahu tuan. Hanya saja sepertinya mereka sudah lama bekerja sama mengincar anda."
"Apa mereka tidak takut berurusan dengan orang itu. Sebenarnya apa rencana mereka?"
"Yang jelas keluarga itu bekerjasama dengan mereka karena tidak menyukai anda. Mungkin saja mereka meminta bantuan mereka untuk membunuh anda. Bukankah selama ini mereka menginginkan kematian anda?"
"Hm….kau betul. Tapi apa mereka tidak ada kerjaan lain selain menginginkan kematian ku. Aku bahkan tidak membuat masalah pada mereka. Tapi jika mereka memang memiliki rencana itu, aku tidak akan segan lagi menghancurkan mereka."
"Bener tuan, jangan biarkan mereka melakukan hal itu pada anda. Bila perlu, andalah yang lebih dulu menghancurkan mereka."
"Kita lihat dulu apa yang akan mereka lakukan,"
Mereka kini telah sampai di perusahaan raksasa milik Abraham. Di bangunan tinggi dan besar itu terpampang jelas nama Abraham Group. Lucifer tidak berencana mengganti nama itu, karena dia ingin sampai kapan pun, nama itu terpampang jelas disana. Jika suatu saat Abraham telah mati, dia ingin mengenang bahwa perusahaan itu adalah milik pria tua yang sudah dianggapnya seperti kakeknya.
"Mari tuan,"
Rey membukakan pintu untuk tuannya keluar. Di depan pintu masuk perusahaan, beberapa staf dan karyawan berdiri disana, menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang dan bergabung di Abraham Group tuan,"
Semuanya sudah tahu siapa yang akan datang hari ini, cucu dari Abraham yang akan menggantikan posisi CEO di sana. Hanya saja saat melihat wajah bos baru mereka, mereka seakan tidak percaya, jika pengganti Tuan Abraham masihlah muda, dan apalagi begitu tampan dan sempurna.
Karyawan dan staf wanita yang melihat wajahnya langsung bersemu merah melihat ketampanan Lucifer, apalagi terlihat bos mereka sungguh tegas, dingin, datar dan cuek. Uh, semakin membuat jantung bergelora.
Rey yang melihat tersenyum kecil, sudah hafal dengan pandangan seperti itu. Dimanapun tuannya berada pasti banyak wanita yang tergila-gila padanya. Tapi tuannya tidak sedikitpun menghiraukan keberadaan mereka.
Menurut bosnya makhluk seperti wanita itu sungguh sangat merepotkan. Apalagi jika merajuk, marah tidak jelas dan tiba-tiba menangis, huh….sungguh membuatnya pusing. Seperti halnya wanitanya. Dan yakinlah wanitanya bosnya ini jika tahu bosnya ada di Indonesia pasti tidak lama lagi akan sampai dan memintanya untuk dijemput. Siapa lagi jika bukan Nona Alezza.
__ADS_1
Lucifer kini ada di ruangannya bersama dengan seseorang yang selama ini mengurus perusahaan Abraham. Siapa lagi jika bukan orang kepercayaan Abraham.
"Apa anda sudah mengerti tuan?" Tanya pria itu pada Lucifer. Dan Lucifer mengangguk, bahwa dia sudah paham. "Baiklah karena anda sudah mengerti, saya pamit undur diri tuan,"
Setelah kepergian pria itu, kini gantian Rey meminta izin untuk masuk. Rey mengatakan jika hari ini akan bertemu dengan klien dan ini adalah klien pertama tuannya saat memegang perusahaan Abraham Group.
"Siapa klien kita?"
"Anda akan terkejut jika anda mendengarnya tuan,"
"Katakan,"
"Perusahaan Bramestyo Group Tuan. Perusahaan yang kini di pegang oleh putranya Bram Bramestyo, Alex Bramestyo,"
"Perusahan Bramestyo? Hahaha…..sungguh sangat kebetulan bukan. Aku yakin mereka akan membuat ulah jika mereka tahu aku pemilik perusahaan ini. Hmmm….aku tidak sabar untuk bertemu dengan mereka." Senyum seringai muncul di bibirnya. Namun senyum itu tidak berlangsung lama, karena ada satu makhluk memusingkan muncul di hadapannya.
Ckleek….
"Sayang…" Teriak seorang gadis yang tak lain adalah Alezza.
Saat tahu dari bawahannya Lucifer terbang ke indonesia. Alezza yang tidak ingin Lucifer kepincut wanita lain, langsung ikut terbang ke indonesia menyusul pria nya.
Lucifer dan Rey tentu saja terkejut melihat Alezza berada di hadapannya. Pikir mereka butuh beberapa hari lagi Alezza akan mengetahui keberadaan mereka. Tapi ternyata tebakannya salah, wanita secepat kilat mengetahui keberadaan mereka, mungkin saja wanita itu mengirim mata-mata di sekitar mereka.
Ezza duduk di pangkuan Lucifer, memeluk leher itu dan memberikan kecupan di bibir pria yang dirindukanya. Rey yang melihat langsung menunduk, sudah hafal dengan tingkah nonanya itu.
"Kenapa secepat ini mengetahui aku ada di Indonesia?" Cubit Lucifer pada hidung mungil Ezza.
"Tentu saja aku tahu. Mana mungkin aku tidak mengetahuinya. Mata-mata ku ada di mana-mana, jadi jangan macam-macam dengan ku,"
"Baiklah tuan putri. Lagian aku terlalu takut jika macam-macam denganmu, bisa-bisa kau akan memakan ku dan menghabiskan semuanya."
Tawa Ezza nyaring di ruangan itu mendengar apa yang dikatakan Lucifer. Sungguh ini yang dia suka, walaupun tahu Lucifer kesal, tapi Lucifer selalu menunjukan sikap baiknya di hadapannya.
"Aku semakin menyukaimu."
Rey yang tidak nyaman melihat kemesraan mereka, meminta izin untuk permisi. Tapi sebelum itu, Rey mengingatkan bahwa satu jam lagi merasa akan menemui Klien mereka.
"Pergilah, kabari aku jika sudah waktunya."
__ADS_1
"Baik tuan,"
Rey pun pergi, kini tinggallah sepasang kekasih di ruangan itu. Ezza yang masih duduk di pangkuan Lucifer, dan Lucifer yang memeluk pinggang itu.
"Apa papa tahu kamu pergi kesini?"
"Tentu saja tahu."
"Pasti kamu memaksanya kan?"
"Sudahlah, kau seperti tidak hafal dengan ku. Lagian jika tidak memaksa, papa pasti tidak akan mengizinkan. Lagian aku datang kesini karena ingin menyusul menantunya," Senyum manisnya ditunjukkan pada Lucifer, memperlihatkan barisan gigi putihnya yang rapi.
"Selalu saja nakal,"
"Tapi kamu suka kan?"
"Tentu saja,"
Lucifer menarik kepala itu dan mendaratkan ciuman di bibir manis yang sudah menjadi candunya. Setiap kali bertemu, Lucifer akan selalu melakukan rutinitas itu, menyalurkan perasaannya pada wanita yang selalu membuatnya pusing, menempel terus padanya. Tapi walaupun seperti itu, Lucifer sangat mencintainya. Mungkin itulah caranya mencintai wanita bernama Alezza.
Ezza yang bibirnya dicium langsung memejamkan mata, mengalungkan tangannya di leher kekasihnya. Memperdalam ciuman mereka. Saling melu*mat, menye*sap dan bertukar saliva.
Uh….
Lenguh Ezza saat tangan nakal Lucifer masuk dalam baju Ezza, mengelus punggung kecil itu dengan gerakan lembut.
Lucifer melepas ciumannya dan menatap mata Ezza dengan lekat. Ezza yang di pandang seperti itu salah tingkah. Ada apa dengan kekasihnya ini?
"Kenapa menatapku seperti itu? Kau membuat ku takut."
"Kenapa pake baju seperti ini? Kau tahu kan ini kantor, banyak mata pria yang melihat. Aku tidak suka mereka melihatmu dengan pakaian seperti ini. Kau hanya milikku dan tubuh ini juga hanya milik ku. Aku tidak suka jika milikku ditatap lapar oleh pria lain,"
"Aku tadi buru-buru karena kangen dengan mu,"
"Untuk lain kali tidak boleh. Jika kau bersama denganku tidak masalah, tapi jika…."
"Iya iya, aku tahu. Maafkan aku. Tapi yakinlah aku hanya untuk mu,"
.
__ADS_1
.
Bersambung