
"Kalian,"
Mesya memeluk mereka berdua. Mesya menangis, ternyata selama ini Dion dan Hamdan berada di sini. Dia mengira Dion dan Hamdan pergi untuk belajar mandiri ternyata semuanya salah. Dion dan Hamdan ternyata selama ini hidup menderita.
.
.
"Katakan pada kakak, kenapa kalian bisa berada disini? Bukankah kalian…..?"
"Tidak, selama kami tidak ada disana, kami memang ada disini kak. Aku ingin mengabari mu, tapi aku tidak bisa. Tidak ada yang bisa kami lakukan, selain kami tidak memiliki ponsel kami akan selalu di siksa jika mengetahui ingin kabur dari tempat ini." Jelas Dion.
Mesya menatap sedih, begitu menderita dan tersiksanya ternyata mereka selama ini.
"Lalu siapa mereka? Kenapa mereka menangkap mu?"
"Aku tidak tahu siapa mereka, bahkan aku tidak mengenalnya,"
"Lalu kenapa kalian ada disini? Mungkinkah kalian pernah menyinggung mereka?" Tanya Mesya bingung. Jika mereka berdua tidak mengenal, kenapa mereka menangkap Dion dan Hamdan. Ini sungguh aneh.
Dion dan Hamdan menggeleng, tidak tahu alasan orang-orang itu menyekapnya. Tapi satu yang membuat mereka curiga, semua itu pasti ada sangkut pautnya dengan pria itu.
"Lalu kenapa kakak ada disini?"
"Aku tidak tahu. Tiba-tiba ada sekelompok orang bersenjata datang dan membawa aku serta mas Farhat pergi dan sini. Tapi saat kami di sampai di tempat ini, kami berpisah. Entah dimana sekarang Mas Farhat berada, aku sangat mengkhawatirkan nya. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengannya." Jawab Mesya sedih. Berharap orang-orang itu tidak menyiksa suaminya seperti yang mereka lakukan pada Dion dan Hamdan.
Dion dan Hamdan yang mendengar saling pandang. Kecurigaannya semakin jelas, bahwa pelakunya adalah orang itu. Ternyata dia bersekongkol dengan orang-orang mengerikan ini.
"Kak, aku ingin mengatakan sesuatu pada mu. Tapi ku harap kau tidak marah setelah mendengar ini. Bukan aku tidak menyukai atau membencinya tapi inilah kenyataannya." Ucap Handan.
Mesya yang mendengar mengerutkan kening, bingung. Sebenarnya apa yang hendak di katakan nya, sampai memintanya tidak boleh marah pada mereka.
__ADS_1
"Katakan, aku ingin mendengarnya,"
"Tapi kakak harus berjanji terlebih dahulu tidak akan membenci kita atau marah dengan kita,"
"Baik, aku berjanji."
Hamdan sebenernya ragu untuk mengatakannya. Dia menatap Dion, dan Dion mengangguk. Sudah saatnya Mesya tahu semuanya.
"Sebenarnya pelaku semua ini adalah orang yang selalu ada di samping mu kak,"
"Di samping ku? Apa maksud kalian?" Mesya semakin bingung. Siapa yang ada di sampingnya. Tunggu dulu, tidak mungkin itu suaminya kan?
"Orang yang menyebabkan semua ini terjadi adalah orang yang selalu ada bersama mu, dia adalah Farhat, pria badjingan yang gila dan menginginkan apa yang di miliki Lucifer. Entah apa yang motif sebenarnya, tapi kenyataannya dialah yang membuat kami seperti ini,"
"Tidak! Ini tidak mungkin. Tidak mungkin suami ku yang melakukannya. Kalian pasti salah. Ya, kalian pasti salah." Mesya menggelengkan kepala tidak percaya. Tidak mungkin suaminya yang melakukan ini, pasti mereka mengarang karena tidak menyukai suaminya.
"Jangan menuduh suami ku seperti ini. Dia bukan pelakunya, tidak mungkin Mas Farhat melakukan hal gila seperti ini. Kalian pasti ingin memfitnah suami ku. Sudah jelas pelakunya bukan dia, tapi sebaliknya teman kalianlah pelakunya, Rifky sialan itu,"
"Tapi aku mengatakan yang sejujurnya kak, dialah pelakunya. Selama ini kau tertipu dengan wajah lugunya. Tapi di balik itu dia sungguh sangat mengerikan. Bahkan dia tidak segan menargetkan kami, karena kami tahu rencananya."
"Tidak! Aku tidak percaya." Mesya tetap menolak untuk mempercayai apa yang di katakan mereka berdua.
"Ini kenyataan nya kak. Demi menginginkan apa yang di miliki Lucifer, bahkan dia tidak segan untuk menyingkirkan mu. Sebenarnya dia adalah seorang badjingan. Aku pernah memergokinya, dia ingin menguasai semuanya dan bahkan dia memiliki seorang wanita di belakang mu,"
"Cukup! Jangan menuduh suami seperti itu. Dia tidak seperti itu."
"Itu memang kenyataannya kak. Jika memang dia tidak ingin menyingkirkan mu dan tidak bersekongkol dengan orang-orang ini, pasti saat ini dia ada disini bersama mu. Tidak mungkin mereka akan memisahkan kalian jika mereka ingin kalian mati bersama. Aku yakin saat ini dia sedang bersenang-senang dan menunggu kematian mu,"
Dada Mesya terasa sesak, tidak mungkin suaminya pelakunya. Dia teringat dengan Rifky, dia begitu mencurigakan. Pasti Rifky lah sebenarnya pelakunya.
"Itu bukan suami ku, tapi Rifkylah pelakunya. Dia selama ini begitu mencurigakan, dan seperti nya dialah pelakunya. Bahkan aku sangat curiga, jika dia penyebab anakku menghilang,"
__ADS_1
"Apa Zahra hilang?"
"Ya, Zahra selama ini hilang. Aku tidak tahu dimana dia saat ini. Tapi aku yakin Rifky pelakunya."
"Tapi aku tidak percaya jika Rifky yang melakukannya. Entah kenapa aku merasa ini permainan Farhat,"
"Jangan menuduh suami ku. Jika memang suami ku pelaku dari semua ini, tidak mungkin dia membantu mencari kalian serta Lucifer?"
"Itu karena dia ingin menutupi perbuatannya. Dengan cara itu kakak tidak akan curiga. Untuk masalah Rifky aku yakin dia tidak terlibat. Jika kita bertemu padanya kita akan tahu semuanya." Uca Dion.
"Ya, jika kita masih hidup," jawab Hamdan yakin mereka akan mati setelah ini.
Mesya yang mendengar apa yang di katakan Dion dan Hamdan kini diam, berpikir keras. Tidak mungkin suaminya pelakunya. Dari sikapnya selama ini tidak menunjukkan bahwa Farhat melakukan hal ini. Malah sebaliknya dia begitu membantu apalagi setelah Lucifer menghilang, dialah yang paling sibuk mencari keberadaan adiknya itu.
Saat mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, pintu di buka, dan seseorang di lempar dengan kasar oleh dua orang yang tidak mereka kenal.
Bug….
Tubuh seseorang yang di lempar itu hanya diam, karena sudah tidak ada lagi kekuatan untuk merintih ataupun mengeluh.
Mesya, Dion dan Hamdan yang melihat tentu saja terkejut dengan apa yang ada di hadapannya. Rifky, yang orang yang mereka kenal kini berada di depan mereka dengan keadaan begitu mengenaskan.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1