
Lucifer yang mengetahui semuanya kini memiliki keputusan untuk melawan ayah kandungnya. Walaupun dia tahu itu adalah ayah yang dia harapkan selama ini bisa berada bersamanya, tapi tidak untuk sekarang. Dia berjanji dan bersumpah akan membunuh ayahnya yang kejam itu.
Lucifer menatap Kai, ingin bertanya hal lainnya lagi tentang keluarga Bramestyo. Bertanya tentang ada hubungan apa mereka dengan keluarga Bramestyo.
"Katakan pada ku, apa hubungan kalian dengan keluarga Bramestyo?"
"Keluarga Bramestyo?" Gumam Kai mengingat. Setelah mengingat tentang keluarga Bramestyo, Kai mengatakan semuanya bahwa keluarga Bramestyo bekerja sama dengan mereka karena ingin membunuh Lucifer.
Lucifer yang mendengar mendengus dengan seringai di bibirnya. Beraninya mereka ingin membunuhnya bahkan sampai bekerja sama dengan kelompok seperti itu hanya untuk menyingkirkan nya. Lucifer yang mengetahui tidak akan melepaskan mereka lagi. Menurutnya tindakan mereka yang ingin membunuhnya sudah melampaui batas. Apa tidak cukup selama ini menyiksanya sampai-sampai ingin melenyapkannya.
.
.
.
Lucifer kini berniat akan menghabisi mereka semua yang menginginkan kematiannya. Menurutnya orang-orang seperti itu tidak pantas hidup lagi, terlalu mengerikan.
"Lalu dimana temanmu yang lain bersembunyi?"
"Sebelumnya mereka ada di jalan YY, tapi kurasa mereka saat ini telah pergi, karena tahu kami kalian tangkap."
"Menurut mu mereka di mana?"
"Aku tidak tahu,"
Lucifer mencari tahu sendiri. Dan benar yang di katakan Kai, bahwa sebelumnya di rumah itu ada beberapa orang yang tinggal. Dari CCTV yang ada di jalan mereka berjumlah lebih dari sepuluh. Tapi sekarang telah pergi dari rumah itu setelah beberapa dari mereka ditangkap oleh Lucifer.
"Temukan mereka dan bunuh semuanya. Aku ingin pria tua bangka itu tahu bahwa berani menyinggung ku adalah kesalahan yang fatal,"
"Baik tuan,"
Kini anak buah Lucifer yang ada bersamanya bergerak mencari leberadaan mereka. Lucifer yang seorang Hacker tidak sulit mencari tempat persembunyian mereka. Dan kini semuanya berkumpul untuk menyerang orang yang tersisa, rekan Kai.
Lucifer juga ikut dalam penyerangan itu. Dia bersama Rey di dalam sebuah mobil, memantau kediaman yang cukup besar namun terlihat sepi.
"Tuan kita sudah berada di tempat anda tunjukkan. Apa benar mereka ada di sana?"
"Ya, perintahkan semuanya untuk masuk dan meringkus semuanya."
"Baik tuan," jawab Rey dan memberi perintah pada anak buahnya untuk segera masuk, mendobrak pintu gerbang itu dan menangkap semuanya. Jika mereka melawan, maka bunuh saja orang-orang itu.
Brak…..
Pintu gerbang roboh akibat di dobrak paksa dengan dua mobil. Suara nyaring yang terjadi di depan membuat penghuni rumah itu panik, berpikir siapa yang berani mengganggu mereka.
Hari ini hari dimana anggota lain dari markasnya akan datang untuk membantu, tapi sebelum mereka datang, ada sekelompok orang yang mencoba mencari gara-gara dengan mereka. Mereka yang tahu tidak akan melepaskan orang-orang tersebut, tanpa tahu bahwa itu adalah kelompok Lucifer.
Beberapa mobil hitam, berjejer rapi di halaman, dan banyak orang keluar dari dalam mobil, memakai pakaian hitam dan membawa senjata di tangannya.
"Geledah dan bunuh semuanya,"
Semuanya langsung bubar, masuk dan mengrebek tempat itu. Saat mereka masuk dalam rumah itu, tembakan langsung melesat menyapa mereka. Dan satu ajak buah Lucifer langsung mati di tempat.
Door…
Satu tembakan itu langsung membuat anak buah Lucifer menatap arah tembakan. Dan setelah itu balas menembak ke arah mereka yang secara sembunyi menyerang mereka.
__ADS_1
Door….
Door….
Door….
Tembakan melesat ke arah musuh. Anak buah Lucifer yang berjumlah lebih banyak membuat tembakan melesat dengan jumlah banyak, membuat musuh sedikit kewalahan dengan serangan tersebut.
"Sialan! Kenapa mereka mengetahui kita ada disini?"
"Lalu, bagaimana? Apa kita akan melawan mereka."
"Dasar bodoh! Apa kalian ingin mati?"
"Tapi jika kita kabur, kita juga akan mati. Mereka sudah mengepung kita,"
Semuanya diam. Melawan mati, kaburpun akan mati. Semuanya serba salah. Menunggu rekan lainnya datang, tapi masih beberapa jam lagi. Dan akhirnya mau tidak mau, mereka pun melawan anak buah Lucifer, yah walaupun kematian pasti akan menghampiri mereka.
Anak buah Lucifer yang melihat mereka keluar dari persembunyian tersenyum menyeringai, sungguh berani sekali mereka, pikir anak buah Lucifer.
Tanpa menunda lagi untuk menyelesaikan tugas, anak buah Lucifer menyerang, melesatkan tembakan-tembakan beruntun ke arah musuh. Mereka saling adu tembakan. Namun jumlah tembakan yang di lesatkan bawahan Lucifer lebih banyak, membuat musuh kuwalahan dan akhirnya beberapa dari mereka terkena tembakan dan mati.
"Sial!" Umpat mereka karena kalah jumlah.
Anak buah Lucifer menyeringai, meremehkan.
"Menyerahlah dan kalian akan selamat."
"Cih, kau pikir kami percaya,"
Door….
Door….
Door….
Argh….!
Teriak mereka terkena tembakan, menembus tubuh mereka dan darah mengalir membasahi pakaian yang di kenakan.
Pertarungan itu tak lama akhirnya berakhir, mereka kalah telak di tangan anak buah Lucifer. Anak buah Lucifer menggeledah tempat itu mencari barang yang menurut mereka penting, tapi ternyata tidak ada, hanya sebuah ponsel milik seseorang yang di ketahui sering menghubungi markas mereka.
"Tuan kami hanya menemukan ini," ucap seorang yang membawa ponsel itu dan menunjukkan nya Rey.
"Em, kita kembali," Rey mengambilnya dan mereka pun pergi dari tempat itu. Sebelum itu Lucifer sudah menghapus semua rekaman CCTV di sekitar, agar tidak ada masalah di kemudian hari dengan polisi.
Lucifer memeriksa ponsel itu, senyum seringai muncul, ternyata beberapa anggota XLOVENOS akan datang hari ini.
"Pantau mereka di bandara dan hadang mereka."
"Baik tuan," jawab Rey.
Lucifer mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang, dia tidak sabar melihat reaksi orang tersebut karena berhasil membunuh orang yang mereka perintah untuk membunuhnya.
Tut….
Tut….
__ADS_1
Tut….
Panggilan terhubung.
Seseorang di yang menerima panggilan itu mengerutkan kening, saat nomor asing menghubunginya.
"Siapa?" Gumamnya yang tak lain adalah Ana.
Tut….
"Hallo dengan siapa ini?" Tanyanya langsung tanpa basa-basi.
"Ku rasa anda tidak melupakan suara ini Nyonya Ana,"
Ana yang mendengar mengerutkan kening, suara yang tidak asing di pendengarannya. Dan tiba-tiba matanya melotot, dia ingat suara siapa itu
"Kau!"
"Oh, ternyata ingatan anda benar-benar masih tajam Nyonya Ana, ku kira kau sudah pikun," ucap Luciger dengan kekehan menghina.
"Sialan kau anak haram! Berani kau pada ku!"
"Kenapa harus takut? Apa anda berharap aku takut pada mu?"
"Heh, mungkin kau sekarang tidak takut dengan ku. Tapi setelah ini ku yakin kau akan memohon pada ku, mengatakan kau menyesal karena berani pada ku,"
Lucifer yang mendengar tertawa keras. Ibu angkatnya ini terlalu percaya diri, bahkan Lucifer menganggap Ana sudah gila karena begitu menginginkannya mati.
"Aku ingin tahu bagaimana cara anda membuat ku menyesal? Tapi ku rasa itu hanya khayalan anda saja. Jadi lekaslah bangun dan sadar deri mimpi mu."
Ana menyeringai, dia tidak sabar mendengar apanyang di lakukan orang-orang itu untuk membunuh Lucifer.
"Mungkin sekarang belum, tapi setelah ini yakinlah orang-orang itu akan membunuh mu dan kau tahu akan maksud yang ku katakan,"
"Orang-orang. Apa maksud anda adalah mereka?"
Lucifer mengirim sebuah Vidio pada Ana, yaitu kematian orang yang mereka kenal, beberapa orang yang berjanji akan membunuh Lucifer. Tapi saat Ana melihat, dia sungguh terkejut saat mereka mati dalam keadaan mengenaskan.
"Nyonya Ana, apa anda terkejut? Itu hanya beberapa orang saja, bahkan aku bisa membunuh lebih banyak lagi. Dan untuk kalian yang telah berani mengganggu dan berurusan dengan ku, tunggu saja tanggal mainnya. Ada waktunya untuk kalian merasakan apa yang mereka rasakan,"
"Badjingan sialan!"
Prang….
Ana membating ponsel itu dengan keras, membuat ponsel itu hancur saat mendengar Lucifer mengancamnya.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1