PEMBALASAN ANAK HARAM

PEMBALASAN ANAK HARAM
Menerima Persyaratan Lucifer


__ADS_3

James yang melihat sungguh sangat terkejut, ternyata pemuda yang dianggap sebagai pemuda biasa adalah seorang yang benar-benar tidak bisa diremehkan.


"Sebenarnya siapa Tuan Lucifer ini?" Batin James penasaran dengan sosok muda di hadapan nya. Apa latar melarang dari pemuda itu hingga memiliki kekayaan yang tidak sebanding dengan nya. 


Yah, walaupun dia memiliki banyak uang tapi tidak sampai memiliki banyak kartu hitam seperti yang di miliki Lucifer. Dia hanya memiliki satu kartu hitam itu hasil kerja kerasnya selamanya yang menurutnya sudah sangat luar biasa. 


"Tuan Lucifer sebenarnya siapa anda ini?" Tanya James tidak bisa menahan rasa penasaran nya. Mumpung orang nya ada di depannya James bertanya tidak ingin menunda akan rasa penasarannya.


"Saya hanya seorang pemuda biasa saja Tuan James," Lucifer sebenarnya ingin terkekeh melihat wajah terkejut dan penasaran Tuan James setelah dia memperlihatkan beberapa kartu hitam nya. Memang jarang ada yang memiliki banyak kartu hitam, oleh sebab itu dia tidak pernah menunjukkan pada siapa pun. Hanya Evan yang mengetahuinya karena dia pernah menolongnya waktu itu.


"Anda sangat merendah Tuan. Jika anda hanya seorang pemuda biasa, tidak mungkin anda memiliki beberapa kartu yang jarang di miliki orang,"


"Aku hanya suka mengoleksinya,"


James rasanya ingin muntah darah mendengar apa yang di katakan Lucifer. Jika Lucifer suka mengoleksi kartu hitam, berarti dia masih ingin membuat kartu hitam lagi. James begitu iri mendengarnya, dia bersumpah tidak akan menyinggung pemuda di depannya apapun alasannya. James tidak ingin berakhir buruk karena menyinggung Lucifer uang menurutnya bukan pemuda biasa. 


"Tuan Lucifer setelah nanti adik saya datang, saya akan memberitahukan permintaan anda padanya. Anda tenang saja saya pastikan adik saya akan menerimanya."


"Baiklah, saya tunggu kabar itu. Oh ya, saya tidak bisa lama-lama berada di sini, saya harus kembali,"


James mengangguk dan setelah itu mengantar Lucifer sampai depan rumah sakit. Melihat Lucifer yang telah pergi meninggalkannya. 


.


.


Seorang pria baya sekitar umur 45an datang dengan tergesa-gesa bersama beberapa bawahannya menuju tempat dimana putrinya di rawat. Dengan perasaan khawatir dan ingin segera melihat putrinya, pria itu melangkah cepat dengan nafas memburu karena lelah mengingat usianya yang tidak muda lagi.


Pria bernama Arish Warner kini terlahir sampai di depan pintu ruang rawat putrinya. Anak buahnya membuka dan mempersilahkan tuannya untuk masuk. 


"Silahkan tuan,"


James yang berada di dalam dan mendengar pintu di buka langsung menoleh ke arah pintu. Terlihat Arish telah datang.


"Kenapa tidak bilang jika sudah sampai. Aku bisa menjemput mu di bandara,"


"Aku bersama mereka, tidak perlu merepot mu. Lagian Mikaela butuh di temani, tidak boleh di tinggal sendirian."

__ADS_1


James mengangguk, benar kata Arish bahwa Mikaela butuh penjagaan.


"Bagaimana keadaanya?"


"Keadaannya sudah baik. Tadi dia sudah sadar, hanya saja barusan dokter memberikan obat padanya dan sekarang sedang tidur."


Arish berjalan mendekati putri satu-satunya. Mengelus kepala itu dengan lembut. Perasaan takut kehilangan, membuatnya sangat takut terjadi sesuatu dengan gadis kecilnya. Beruntung Mikaela selamat dari pembunuhan itu. 


"Apa kau tahu siapa yang menyelamatkan Mikaela?"


"Dia seorang pemuda. Kemaren dia ada disini menemani Mikaela hingga aku datang,"


"Kau tahu siapa dia?"


"Em, aku mengenalnya. Dia juga pria yang ingin aku mintai tolong," jelas James membuat Arish mengerutkan kening.


"Sebelumnya aku sudah mengatakannya pada mu bahwa aku meminta seseorang untuk membantu, dia seorang Hacker."


"Jadi orang yang membantu Mikaela adalah pria itu?"


"Ya," Jawab James.


"Lebih baik kita duduk dulu, aku akan menjelaskan semuanya. Kita tidak punya banyak waktu atau kita dan kelompok kita akan binasa,"


Arish begitu penasaran dengan apa yang di katakan James. Binasa, apa maksudnya?


Mereka duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut karena James menyera kamar VIP agar Mikaela nyaman saat perawatan.


"Katakan, apa yang kamu maksud barusan?"


James menjelaskan dengan sangat rinci tentang apa yang terjadi dan tentang permintaan Lucifer yang meminta separuh dari anggota kelompoknya. Arish sedikit terkejut dengan apa yang akan terjadi dengan kelompoknya. Dua hari lagi mereka akan menyerang, ini sungguh gila, bahkan saat ini dirinya tidak berada di markas, bagaimana caranya untuk memimpin pertarungan itu. 


Namun tak hanya hal itu yang membuatnya terkejut, pria yang yang ingin di mintai bantuan malah meminta separuh dari kelompoknya. 


Arish diam dengan banyak pikiran. Memutar otak dengan sangat keras.


"Menurut mu bagaimana, apa yang harus ku lakukan?" Tanya Arish sungguh bingung, tidak mungkin dia meninggalkan putrinya di rumah sakit ini. Jika sampai musuh tahu sudah di pastikan musuhnya akan membunuh putrinya. 

__ADS_1


Tidak hanya putrinya saja yang mungkin saja mati, dirinya dan kelompoknya mungkin saja akan kalah. Apalagi mengingat kelompok musuhnya itu ternyata memiliki dukungan dari kelompok lain.


"Kalau menurut ku lebih baik kita menerima tawaran pemuda itu. Lagian tidak ada ruginya buat kita. Selain kita bisa menyelamatkan banyak nyawa, kita dan Mikaela akan tetap hidup. Lagian pemuda itu juga telah menyelamatkan Mikaela, anggap saja kita berbahasa budi."


"Baiklah jika itu keputusan yang tepat. Hubungi dia untuk membantu kita. Kita akan memberikan setengah pasukan kita untuk nya,"


James mengangguk dan akan menghubungi Lucifer secepatnya. Namun tiba-tiba tersebut keraguan di hati Arish saat mendengar pemuda itu hanyalah seorang pelajar tanpa memiliki latar keluarga yang besar.


"Apa pemuda itu mampu merawat anak buah kita?"


"Kau tidak perlu khawatir akan hal itu. Pemuda itu sangat mampu bahkan anak buah kita pasti akan senang bersamanya jika mereka tahu siapa pemuda yang akan memimpin mereka nanti,"


"Maksud mu apa,  aku tidak mengerti?"


"Pemuda itu ternyata bukanlah pemuda biasa. Sebelumnya aku juga berfikir seperti itu, apakah dia mampu merawat anak buah kita. Tapi saat dia menunjukkan sesuatu pada ku, aku jadi percaya bahwa dia mampu."


"Katakan dengan jelas, jangan berbelit,"


"Pria itu memiliki tujuh kartu, enam di antaranya berwarna hitam. Kau pasti tahu maksud ku kan?"


Arish yang mendengar tidak percaya. Tujuh, sungguh gila. Sebegitu kayakah pemuda itu. 


.


.


James menghubungi Lucifer, mengatakan jika Arish setuju dengan permintaanya, memberikan separuh dari pastikannya untuk nya. Mendengar kesetujuan itu, Lucifer senang, senyum terbit di bibir manisnya, terlihat begitu tampan.


"Kirimkan data dan nama perusahaan musuh mu, aku akan melakukannya malam nanti," perintah Lucifer pada James.


James langsung mengirim data tersebut, data yang sudah di kantongi olehnya sebelumnya. Dan tak ingin menunda lagi, Lucifer melakukannya pada malam hari.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung 


__ADS_2