
"Le…lepaskan aku, si…alan!" Ana mencoba melepas tangan Lucifer yang berada di lehernya. Namun karena tenaganya yang kecil, tak sebanding dengan Lucifer, membuat Ana kekuasaan hanya untuk menarik dan melepas tangan itu.
Lucifer sungguh sangat geram dengan wanita di depannya ini, wanita yang selalu mengatakan jika dirinya anak haram. Dia tidak suka dengan sebutan itu, entah kenapa jika mendengar dirinya di sebut anak haram darahnya langsung mendidih ingin membunuh orang tersebut.
Lucifer mengeraskan rahangnya masih dengan tatapan tajam nya. Mendekatkan wajahnya dan berkata.
"Nyonya Ana, jika kau masih sayang pada nyawamu lebih jangan menggangguku lagi, atau aku bisa melenyapkan mu saat ini juga. Ah satu lagi, jika kau bertemu dengan ku menjauhkan, karena aku muak melihat wajah mu,"
Lucifer melepas dengan kasar cekikikannya dan menghempaskan tubuh itu, membuat Ana yang tidak siap terjatuh dengan nafas tersengal-sengal.
"Sialan!" Umpatnya dalam hati. "Awas kau anak haram, akan ku buat kau menyesal setelah ini karena berani pada ku,"
Ana begitu marah, dia hanya bisa mengumpat dalam hati dan akan melakukan pembalasan kepada Lucifer karena berani membuatnya malu di muka umum.
Lucifer yang melihat menyunggingkan seringai nya. Lucifer pun pergi bersama dengan beberapa anak buahnya yang setia berada di belakangnya. Namun saat baru saja melangkah, suara pekikan dua orang, menghentikan langkahnya dan membuatnya menoleh.
"Mama…!"
Ya Alex dan Bram lah yang berteriak saat dari kejauhan melihat Ana bersimpuh di hadapan seorang pria.
Mereka berlari dan menghampiri. Saat sudah dekat, Alex menatap pria yang ada di hadapan mamanya dengan tatapan tajam. Lucifer yang melihat hanya menatap dengan pandangan dingin tanpa ingin menyapa keluarga nya dulu. Keluarga yang tidak di harapkan Lucifer.
"Kau…! Apa yang kau lakukan pada mama ku?" Alex benar-benar marah pada pria yang belum di ketahui bahwa itu Lucifer. Terlalu fokus pada kemarahan sampai tidak mengenal bahwa itu adalah Lucifer.
"Aku hanya mendisiplinkan nya agar dia bisa menjaga mulutnya yang berbisa itu,"
__ADS_1
Alex menatap mamanya, tidak mengerti apa yang di katakan pria itu, mungkinkah mamanya menyinggung pria di depannya dengan ucapan kasar. Tapi apa alasannya.
Ana yang mendengar mengepalkan tangan begitu geram. Beraninya Lucifer mengatakan mulutnya berbisa, memang dia pikir dirinya ular, begitu.
"Dasar anak haram kurang ajar, jaga mulut mu sialan!" Marah Ana menatap tajam Lucifer, penuh dengan kebencian.
Bram dan Alex yang mendengar kata anak haram keluar dari mulut Ana, menatap Lucifer. Hanya satu orang yang sering mereka sebutan Anak haram, dia adalah anggota keluarga mereka dulu, Lucifer.
"Kau…!" Tunjuk Alex, tidak menyangka jika pria di hadapannya adalah Lucifer.
Bram yang mengetahui kini berdiri menatap Lucifer dengan tatapan dingin. Dalam pikirannya kenapa anak ini semakin kasar dan tidak terkontrol. Padahal tanpa mereka ketahui, Ana lah si pembuat ulah sebelumnya.
Melihat dia pria menatap tidak suka kepadanya, Lucifer tersenyum menyeringai, sudah hafal dengan tatapan itu.
"Kurang ajar! Lama tidak bertemu ternyata kau sangat berani," kesal Bram melayangkan tamparan melihat keberanian Lucifer. Namun Lucifer tidak membiarkan Bram menamparnya, dia mencekal pergelangan tangan itu dengan kuat, membuat Bram meringis.
"Lepaskan tangan ku, sialan!" kesal Bram dengan menghina Lucifer dengan sebutan Anak haram.
Tak hanya Bram saja, Alex juga marah melihat papanya di perlakukan seperti itu.
"Dasar anak haram, lepaskan papa ku!"
"Melepaskan nya. Heh, kau pikir aku akan melepaskan saat dia akan menamparku, dasar keluarga bang*sat. Tapi baiklah, karena ini di tempat umum aku akan melepaskan. Tapi tidak untuk lain waktu. Jika kalian merendahkan ku dan membuat masalah dengan ku, aku tidak segan untuk menghabisi kalian,"
Lucifer menghempaskan tangan itu dengan kasar, membuat Bram meringis. Dan setelah itu Lucifer pergi meninggalkan mereka semua yang geram dan marah.
__ADS_1
Setelah kepergian Lucifer, keluarga Bramestyo juga pergi dari tempat itu. Tapi di jalan Ana tak henti menggerutu dan memaki tindakan Lucifer pada nya, tidak terima.
"Dasar anak haram sialan! Beraninya dia mempermalukan kita di depan umum. Aku tidak terima, akan ku buat dia menyesal karena memperlakukan kita seperti ini," ucap Ana
"Ya, Alex juga tidak terima. Kita harus memberi dia pelajaran agar menyesal berani kepada kita ma. Papa juga harus mendukung kita. Buat anak haram itu menyesal seumur hidup,"
Bram diam. Tapi dari sorotan matanya dia sangat marah dengan Lucifer yang bertindak kasar kepadanya. Padahal sebelumnya dia lah yang berulah, tapi dia yang marah, sungguh aneh bukan.
Ana dan Alex merencanakan untuk menyakiti dan membuat Lucifer menyesal seumur hidup. Ana menghubungi seseorang yang mencari keberadaan Lucifer kala itu. Seseorang yang diperintah oleh Bobby untuk membunuh Lucifer.
Dari 4 tahun mencari, mereka sama sekali tidak menemukan. Begitu pun dengan orang suruhan Jaxon Maven yang juga belum mendapatkan bukti bahwa Lucifer adalah putra dari Joice Maven.
Identitas yang dilindungi dan di sembunyikan Lucifer dan Abraham membuat mereka susah menemukan jati diri Lucifer. Bahkan di kampus, data itu tidak boleh dibocorkan oleh siapapun termasuk orang yang berpengaruh sekalipun. Dengan kekuasaan Abraham membuat mereka menyetujui dan berjanji melindungi data diri Lucifer dari orang luar. Dan akhirnya membuat keluarga Maven tidak bisa mengetahui hal itu hingga sekarang.
Tapi setelah kembalinya Lucifer di Indonesia tidak memungkinkan mereka tidak mengetahui, yakin mereka pasti mengetahui dan menemukan bahwa Lucifer adalah Putra dari Joice Maven.
Dan benar saja, baru saja dia datang ke indonesia, pihak Bobby langsung mengetahui, dan itu berasal dari informasi Ana yang memberitahukan bahwa Lucifer ada di Indonesia.
"Temukan bocah itu dan tangkap dia."
.
.
Bersambung
__ADS_1