PEMBALASAN ANAK HARAM

PEMBALASAN ANAK HARAM
Desha Atau Joice


__ADS_3

Di Negara Indonesia,  orang suruhan Bert kini mencari tahu keberadaan seseorang. Seseorang yang ikut andil dengan seorang wanita yang di carinya, Keluarga Bramestyo. Dua orang suruhan itu menatap kediaman Bramestyo, tempat dimana mereka akan tahu fakta dari wanita tersebut, tentang anak yang di kandung sebelumnya. Apakah masih hidup atau telah mati.


.


.


"Permisi,"


Seorang satpam datang menghampiri dua ramu yang berada di luar pintu gerbang.


"Ya. Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya satpam itu melihat dua pria asing dengan setelan pakaian hitam.


"Apa benar ini kediaman Tuan Bramestyo?"


"Benar tuan."


"Apakah beliau ada di rumah?"


"Beliau ada di kantor, tuan,"


"Lalu nyonya Bramestyo apakah ada?"


"Beliau ada. Em, jika boleh tahu ada perlu apa ya tuan?" Satpam itu merasa dua pria di hadapannya cukup mencurigakan.


"Aku ingin bertemu dengan Nyonya mu. Katakan padanya ada tamu mencari wanita ini," Pria itu menyerahkan sebuah foto kecil pada satpam, memintanya untuk menyerahkan pada Nyonya Ana.


Satpam itu mengambil dan melihat foto siapa itu. Saat mata itu melihat wanita cantik dengan senyum manis di bibirnya, satpam itu terkejut karena dia tahu siapa orang yang ada di foto tersebut.


"Nyonya Desha," gumamnya dalam hati.


"Pergilah dan katakan pada nyonya mu,"


"Baik tuan," 


Satpam itu pergi masuk rumah dan memanggil Ana, mengatakan bahwa ada tamu yang ingin bertemu.


"Siapa?" Tanya Ana.


"Saya tidak tahu nyonya,  hanya saja pria itu memberikan ini," satpam itu memberikan foto yang di berikan pria tadi.


Ana mengambilnya dan terkejut saat melihat foto siapa itu.


"Kau tidak bertanya apa hubungan pria itu dengan wanita murahan ini?"


"Tidak nyonya,  mereka hanya mengatakan ingin bertemu, mungkin ini penting dan tentang Nyonya Desha,"


Ana diam berpikir, berharap pria yang di katakan satpam yang bukanlah keluarga yang mencari Desha.

__ADS_1


"Suruh mereka masuk," perintahnya masih dengan pikiran menerka yang tidak-tidak.


"Baik nyonya,"


Satpam itu pergi dari hadapan nyonyanya dan kembali pada pria yang masih menunggunya di depan pintu gerbang.


"Bagaimana?"


"Anda berdua di minta oleh nyonya untuk menemuinya, tuan,"


Satpam itu membuka pintu gerbang dan mempersilahkan mereka berdua untuk masuk.


"Silahkan," 


Kedua pria itu pergi, di depan pintu seorang pelayan mempersilahkan masuk dan membawa mereka menemui Nyonya nya.


"Nyonya," 


Ana melihat dua orang pria yang bersama dengan pelayannya. Dalam pikirannya Ana sama sekali tidak mengenal dua pria yang kini ada di hadapannya.


"Silahkan tuan," Ana mempersilahkan mereka duduk.


"Dua pria itu mengangguk dan duduk di kursi saling berhadapan dengan Ana.


"Maaf mengganggu waktu anda nyonya,"


"Tidak masalah. Jika boleh tahu siapa anda berdua ini?"


"Apa ini tentang wanita yang ada di foto?" Tanya Ana dengan mata menyipit, selidik.


"Benar nyonya,"


"Aku tidak tahu siapa wanita itu, lebih baik anda pergi dan jangan kembali," Ana tidak ingin membahas tentang Desha dengan pria asing. Kematian Desha yang menyimpan banyak tanda tanya membuat Ana takut akan keluarganya tertarik dalam masalah yang rumit. Biarkan kematian itu menjadi rahasia keluarganya. 


Zaki dan Jerry yang mendengar saling pandang dengan jawaban wanita di depannya. Zaki dan Jerry yang tidak ingin usahanya sia-sia akhirnya memaksa Ana menceritakan dan me jelaskan tentang wanita tersebut.


"Nyonya saya harap anda dapat bekerja sama dengan kami. Kami hanya ingin mengetahui tentang wanita ini. Tolong anda jawab dengan jujur pertanyaan kami. Kami tidak ingin menyakiti anda dan keluarga anda. Jika anda bisa bekerja sama, maka saya tidak akan membuat anda susah." Ucap Zaki


"Saya di perintah oleh Tuan kami untuk mencari tahu tentang wanita ini. Jika kami tidak memiliki penjelasan yang dapat memuaskan tuan kami, maka anda dan keluarga anda akan mendapatkan akibatnya."


"Kalian mengancam ku?" Ana menatap tajam dua pria di hadapannya. Berani nya seorang tamu datang memberi ancaman padanya. Dia adalah Nyonya keluarga Bramestyo, tidak ada sebelumnya orang yang berani berbicara seperti itu bahkan mengancamnya dengan terang-terangan.


"Bisa di bilang begitu. Anda belum tahu siapa tuan kami. Jika anda tahu, saya rasa anda akan menjawab pertanyaan kami. Kami hanya meminta bekerja samalah dengan kami jika keluarga anda ingin selamat,"


Klak…


Sebuah pistol mengarah tepat di depan Ana. Ana yang melihat sangat terkejut saat sebuah senjata berada di hadapannya. Ana yakin senjata itu asli, di lihat dari bentuknya, Ana yakin senjata itu sungguhan.

__ADS_1


"Apa yang kalian mau?"


"Kami ingin mendengar tentang wanita ini,"


Zaki meletakkan foto seorang wanita di meja. 


Ana menatap foto itu dan beralih ke arah dua pria yang satunya masih mengarahkan senjata di hadapan nya.


"Jelaskan tentang nya," Ucap Zaki dengan wajah dingin dan datar. Jika semula dia ramah, tidak untuk saat ini. Menurutnya wanita di depannya jika tidak di kasar, tetap tidak akan menjawab apa yang ingin di ketahui.


Ana yang sebenarnya takut, apalagi saat melihat pistol itu mengarah padanya, menelan ludah dengan kasar. Ana mengambil foto itu.


"Na…namanya Desha," dua kata dengan nada bergetar.


Zaki dan Jerry saling pandang, Desha, siapa Desha? Bukankah namanya Joice?


"Maaf Nyonya benarkah nama wanita itu Desha?" Tanya Jerry memastikan.


"Benar tuan, dia adalah Desha. Aku mengenalnya karena dia pernah menjadi istri suami ku,"


Lagi-lagi Zaki dan Jerry saling pandang. Kenapa menjadi Desha, mungkinkah mereka salah orang.


"Bukankah namanya Joice?"


"Joice? Siapa Joice?" Bingung Ana tidak mengenal nama Joice. Kini mereka bertiga sama-sama bingung. Sebenarnya siapa yang benar dan siapa yang salah. Tapi dalam penyelidikan, wanita itu bernama Joice dan pernah terlibat dengan Tuan Bram Bramestyo. 


"Nyonya bisakah anda menunjukkan bahwa wanita itu benar Desha dan bukan Joice? Misal buku nikah atau yang lainnya?"


"Tunggu sebentar, akan aku ambilkan," 


Mereka berdua mengangguk dan Ana pergi ke kamar, mencari buku nikah milik Suaminya dan Desha sebelumnya, buku yang masih tetap dia simpan di kotak kayu lusuh di bawah ranjang. 


Di dalam kamar, Ana mengambil kotak itu dan membukanya. Mengambil buku nikah yang sudah lama tidak dia lihat, dalam hati ia merasa sakit dan benci dengan wanita yang pernah menjadi istri suaminya. 


"Sebenarnya siapa kau? Kenapa setelah  mati masih saja menyusahkan ku. Lihat mereka seperti bukan orang baik, hanya karena mu aku kini di ancam olehnya. Wanita sialan!" Gumamnya kesal. 


.


.


.


Bersambung. 


Selamat membaca, semoga suka. Jangan bosen nunggu kelanjutannya. Salam sayang dari Saadahrafael.


Jangan lupa Like, komen dan Votenya. 

__ADS_1


 


 


__ADS_2