PEMBALASAN ANAK HARAM

PEMBALASAN ANAK HARAM
Memberi Pelajaran Pada Ana


__ADS_3

Ana berpikir, saat dia mengatakan bahwa dirinya dan mereka memiliki hubungan, Lucifer tidak akan berani lagi padanya dan takut pada sosok di belakang mereka. Tapi pemikiran mereka salah, Lucifer malah tertawa kerasa seolah apa yang di katakan Ana sebuah lelucon.


.


.


Hahahaha……


Lucifer tertawa keras mendengar itu. Ana yang melihat menyipitkan mata, apa maksud tawa itu?


"Apa kau pikir aku takut dengan mereka Nyonya Ana? Asal kalian tahu, sedikitpun aku tidak takut pada mereka. Jika mereka berani, aku akan melawan bahkan menghancurkannya,"


Lucifer berdiri tepat di depan Ana. Dia muak dengan wajah tua itu. Wajah yang selalu menunjukkan tatapan tidak suka dan menghina. 


Srak….


"Kau belum tahu siapa aku makanya kau berani berkata seperti itu." Ucapan Lucifer dan tatapannya yang begitu tajam.


Ana yang melihat begitu ketakutan dengan tatapan itu. Bram yang melihat marah saat Kucifer menjambak dengan kuat rambut istrinya.


"Lepaskan tangan mu dari istri ku anak haram!" Bram mencoba menggapai dan melepas tangan Lucifer dari rambut Ana. Lucifer yang melihat menepis tangan itu dengan kasar membuat tubuh Bram jatuh tersungkur.


"Lepaskan aku anak haram!" Lucifer menyeringai melihat Ana yang ketakutan. 


Lucifer melepas jambakannya dengan kasar, membuat kepala Ana terhuyung. 


"Ikat mereka berdua, aku ingin membuat mereka tahu siapa aku." Perintah Lucifer pada bawahannya.


"Baik tuan,"


Mereka melakukan perintah itu, menarik paksa, mengikat Bram dan Ana di sebuah tiang besi.


"Lepaskan aku! Apa yang akan kau lakukan?"


"Kalian akan tahu setelah ini nyonya dan tuan Bram,"


Anak buah Lucifer mengikat tangan dan kaki mereka menggunakan tali di sebuahbtiang besi, dimana biasanya Lucifer mengiksa seseorang.

__ADS_1


Lucifer mengambil sesuatu, dia memilih mana yang cocok untuk di gunakan pada mereka. 


Sing…..


Sing…..


Suara pisau di gesek membuat bunyi yang mengerikan. Baik Ana dan Bram menelan ludah, tidak mungkin Lucifer akan membunuhnya kan? Pertanyaan demi pertanyaan terlintas di otak mereka, takut apa yang mereka pikirkan menjadi kenyataan.


"Mau apa kau memegang pisau itu?" Tanya Bram.


Tentu saja bersenang-senang. Selama ini aku sudah menahan nya. Aku ingin sekali mendengar kalian merintih seperti saat dulu kalian selalu membuat ku merintih. Dan bahkan kalian tidak pernah iba dengan ritihan itu, maka saat ini giliran kalian yang merasakan rincian itu,"


Lucifer dengan senyum Devilnya berjalan mendekati, sambil tangannya memegang benda tajam yang siap di gunakan untuk menyiksa mereka.


"Jangan mendekat," 


Ana dan Bram meronta mencoba lepas dari istana itu, takit dengan Lucifer yang seperti nya tidak main-main. Lucifer yang melihat menyeringai.


Grep….


Lucifer mnecengkram rahang Ana. "Sepertinya lebih seru jika aku membuat mu berteriak dan memohon. Kamu wanita yang memiliki mulut pedas dan tajam. Bagaimana jika aku merokok mulut mu lebih dulu,"


"Jangan lakukan itu. Jika kau berani melakukannya, ku pastikan kau akan menyesal dan mereka akan membunuh mu,"


Srak…..


Argh…..


Teriak Ana saat merasakan perih dan sakit di lengannya akibat Lucifer yang tiba-tiba menggores kulit itu dengan pisau tajamnya.


Darah langsung mengalir di lengan itu membuat Ana meringis melihatnya, seumur hidup baru kali ini tubuhnya terluka, dan itu di lalukan anak yang sangat di bencinya.


"Dasar anak haram sialan! Beraninya kau melukai istri ku," Bram yang di ikat di samping Ana tentu saja terkejut, dia tidak menyangka jika Lucifer berani melakukannya.


Lucifer tidak menjawab, dia malah menyeringai. Ingin membuat Bram semakin marah.


Lucifer melakukan apa yang di sukanya, membuat Ana menjerit kesakitan karena apa yang di lakukan Lucifer benar-benar membuat Ana ketakutan. Tak hanya Ana yang ikut menjerit, Bram juga terus berteriak meminta Lucifer menghentikan kegilaannya, menyiksa Ana dengan kejam.

__ADS_1


Lucifer yang sudah di kuasai amarah mengingat perbuatan mereka saat dulu dan sekrang, ingin Lucifer langsung membunuhnya. Tapi Lucifer tidak melakukannya, Lucifer ingin Ana tahu bahwa doa bukanlah anak kecil seperti dulu lagi yang mudah di tindas dan di hina.


Argh….!!


"Ku mohon, hentikan!"


Sraak….


"Menghentikan, jangan harap. Hari ini aku ingin membuka mata mu, siapa aku sebenarnya."


"Ku mohon,"


"Hahahaha……aku suka ini. Memohonlah,  aku ingin terus mendengarnya,"


Lucifer seakan sudah kesetanan, dia tidak peduli dengan jeritan Ana yang menurutnya wanita gila dan mengerikan. Bram yang melihat istrinya di siksa sudah tidak kuasa melihatnya, dia hanya bisa menatap dengan nanar.


Tubuh Ana lemas. Bagaimana tidak, Lucifer membuat darah mengalir di tubuh dan wajah tua itu. Tidak ada rasa kasihan sedikitpun. Bahkan saat mengingat  bagaimana Ana memperlakukannya saat kecil, ingin Lucifer melakukan hal lebih. Membunuhnya wanita dengan cepat.


Hidup Bertahun-tahun di kediaman Bramestyo tidak sedikitpun mendapatkan kebahagiaan dan damai serta aman, sebaliknya hidupnya selalu di siksa dengan keji, bahkan hampir setiap hari dirinya di pukuli. 


Lucifer yang seorang anak kuat, tidak pantang menyerah dengan hidupnya. Maka dari itu dia bertahan walaupun sakit itulah yang di rasakan. Jika dia tidak kuat, mungkin saat ini dirinya sudah tiada.


Setelah membuat Ana lemah  tak berdaya, kini mata itu menatap alih dengan tajam ke arah Bram Bramestyo. 


Lucifer yang seperti berubah menjadi malaikat pencabut nyawa memyeringai, membuat seringai itu begitu mengerikan di lihat Bram.


"Apa yang akan kau lakukan? Jangan lakukan itu, ku mohon. Aku ini ayah mu, kau harus mengingatnya. Walaupun aku pernah melakukan hal buruk padamu, tapi ingatlah bahwa aku lah yang membesarkan mu,"


"Apa kau ingin mengatakan aku harus mengganti rugi?"


"Tidak, bukan itu maksud ku," panik Bram takut Lucifer salah paham dengan maksud yang di katakan nya.


"Lalu,"


Lucifer duduk di kursi, menyilangkan kakinya begitu santai, menatap Bram. Tapi kali ini tangannya sibuk dengan senjata lain, sebuah pistol berada di genggamannya. Siap menarik pelatuk nya dan menembakkan nya, menembus tubuh Bram.


"Anak ku," 

__ADS_1


Lucifer yang mendengar kata itu ingin sekali muntah, menurutnya Bram mengatakan kata 'anak ku' sungguh menjijikkan. Entah kenapa dia tidak senang. Jika dulu harapannya Bram menyayangi dan menganggapnya anaknya, memanggilnya dengan sebutan Anak, tidak untuk saat ini, dia tidak membutuhkan nya dan sangat membencinya.


__ADS_2