PEMBALASAN ANAK HARAM

PEMBALASAN ANAK HARAM
Masalah Datang Lagi


__ADS_3

"Jangan khawatirkan kakak, kakak bahagia selama ini. Hanya saja tanpa mu seperti ada yang kurang selama ini." Mesya memeluk Lucifer dan menangis lagi. Entah apa yang dirasakan Mesya, dia begitu tersiksa dan sedih.


Lucifer tidak ingin bertanya lagi. Dia mengelus punggung wanita itu dengan lembut, memberikan ketenangan. Saat mereka sedang melepas rindu dan kesedihan serta kebahagian, suara seseorang membuat mereka menoleh. 


"Lucifer,"


.


.


Merasa namanya dipanggil, Lucifer langsung menoleh, begitupun dengan Mesya. 


Mesya yang melihat dua orang berdiri di depan pintu menatap ke arah nya dan Lucifer, wajah semula sumringah karena Adiknya, kini berubah dingin dengan tatapan tidak suka.


"Kak Farhat, Rifky," sapa Lucifer dan menghampiri. "Sudah lama aku tidak melihat kalian."


Baik Farhat maupun Rifky mengangguk. Memang sudah lama mereka tidak bertemu. 


"Bagaimana kabar mu?" Tany Rifky pada sahabatnya yang telah menghilang kemana dan kini muncul kembali di hadapannya.


"Lebih baik kita duduk. Aku yakin adik ipar ku ini pasti lelah setelah perjalanan jauh,"


Lucifer mengangguk dan duduk bersama. Sedangkan Rifky duduk di samping istrinya, memberikan senyum manisnya kepada istri tercintanya. 


"Sayang, kenapa Lucifer datang kamu tidak menghubungi ku?"


"Aku lupa. Mungkin karena sudah lama tidak bertemu dengan nya." Farhat menganggukkan kepala, mengerti. Mungkin memang istrinya lupa karena saking senangnya bertemu dengan Lucifer.


Lucifer dan Rifky saling mengobrol. Rifky terus menatap mata Lucifer. Seolah ada sesuatu. Begitupun dengan Lucifer penuh selidik dengan satu temannya ini. Teman yang sedikit dia curiga. 


"Kenapa kamu tidak mengabari ku selama ini? Apa kau melupakan ku?" Tanya Rifky.


"Mana mungkin aku melupakan sahabat ku ini. Aku sama sekali tidak melupakan mu. Bahkan aku ingin sekali mendengar ceritamu tentang apa yang kau lewati selama aku tidak ada disini."


"Tentu saja aku baik dan melakukan tugasku dengan baik. Mengelola bengkel mu hingga menjadi besar seperti sekarang."


"Baguslah," Lucifer menganggukkan kepala. "Oh ya, dimana Dion dan Hamdan? Kenapa kalian tidak datang bersamaan" Tanya Lucifer yang tidak melihat Hamdan dan Dion.


Wajah Rifky yang semula ceria kini menjadi murung. Dia menghela nafas. Terlihat sedih mengingat dua sahabatnya. Lucifer yang melihat mengerutkan kening, bingung. Ada apa sebenarnya? Kenapa saat dirinya bertanya tentang Hamdan dan Dion, mimik wajah Rifky langsung berubah.


"Ada apa?" Tanya Lucifer. 


Pertanyaan Lucifer membuat Farhat dan Mesya menatap Rifky. Ingin mendengar apa yang dikatakan Rifky.


"Hah….Aku tidak tahu dimana mereka sekarang. Katanya sih mereka ingin membuka usaha sendiri. Tapi tidak tahu kemana mereka membuka usaha. Kami tidak pernah komunikasi," jelas Rifky sedih.

__ADS_1


Lucifer yang mendengar mengerutkan keningnya. Sungguh jawaban yang aneh. Bukankah selama ini mereka berteman cukup lama, tidak mungkin Dion dan Hamdan tidak mengatakan mereka dimana. Apalagi ini sudah lama putus komunikasi. Lucifer entah kenapa memiliki pemikiran yang buruk terhadap satu temannya ini. Seolah ada yang disembunyikan oleh Rifky.


"Apa kau tidak mencoba mencari tahu kemana mereka saat ini?" 


"Sudah aku usahakan, tapi tetap saja tidak menemukan."


Semuanya diam, larut dalam pemikiran. Tapi tidak dengan Mesya, wajah nya begitu sedih. Entah apa yang dipikirkan wanita itu.


"Sayang," panggil Farhat melihat istrinya yang melamun.


"Ah, ya,"


"Ada apa denganmu? Kenapa melamun hm…?" Pertanyaan Farhat membuat semua menoleh ke arahnya. 


"Tidak ada apa-apa,  aku hanya lelah saja." 


"Baiklah. Lebih baik kamu istirahat saja."


Lucifer menatap wajah kakaknya. Menelisik. Kenapa saat pulang, semuanya terlihat aneh. Hanya Farhat yang masih sama seperti itu. Kakaknya terlihat aneh, begitupun Rifky yang sangat dicurigainya. Hah, entah apa yang terjadi dan tidak diketahui nya. 


"Tunggu dulu. Bukankah kakaknya memiliki anak perempuan. Lalu dimana keponakannya itu, kenapa dia tidak melihatnya sampai saat ini.


"Kak, dimana Zahra? Kenapa aku tidak melihatnya?"


Tubuh Mesya membeku saat Lucifer bertanya tentang putrinya. Dia menatap Farhat, begitupun dengan Farhat yang menatap Mesya. 


"Kakak lelah, kakak ingin istirahat," ucap Mesya mengalihkan pembicaraan dan pergi kekamar, meninggalkan semuanya di ruang tamu.


Terlihat dua pasang mata sedih melihat Mesya yang seperti itu, terutama satu orang yang sangat sedih. 


"Maafkan aku. Maafkan aku yang tidak bisa menemukan Zahra berada,"


Lucifer yang ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, mengirim pesan pada Abraham, bertanya tentang keluarga kakaknya. 


"Aku ingin tahu informasi tentang keluarga kakakku," Pesan yang di tulis Lucifer dan langsung di baca oleh pria tua.


Abraham tanpa menunda langsung mengirim informasi tentang keluarga Mesya. Lucifer yang membaca tentu saja terkejut, ternyata selama dia ada di luar negeri ada kejadian yang seperti itu.


"Aku akan menemui kak Mesya," Farhat dan Rifky mengangguk. Dan Lucifer pergi menemui Mesya ke kamarnya.


Kini tinggal Farhat dan Rifky di ruang tamu. Sibuk dengan pemikiran masing-masing.  


.


.

__ADS_1


Di tempat lain, dua pemuda sedang di siksa oleh beberapa orang di sebuah ruangan. Tempat itu berada di sebuah markas besar. Mereka berdua terlihat mengenaskan, banyak lebam di tubuh mereka. Bahkan mereka seakan sudah tidak sanggup untuk hidup lebih lama lagi. Siksaan selama bertahun-tahun lamanya membuat mereka putus asa. Tapi satu yang masih membuatnya bertahan hidup hingga sekarang, teringat dengan satu temannya yang mungkin saja suatu saat akan bisa menyelamatkan mereka.


Mereka ditawan dan disiksa oleh orang yang tidak mereka kenal. Entah kenapa saat mereka membuka mata, tiba-tiba mereka sudah berada di ruangan itu. Tapi satu yang membuat mereka kecewa, seseorang yang dikenalnya dan dekat dengan mereka mengkhianati bahkan tak segan untuk membunuh mereka lantaran tahu akan rencananya.


"Aku bersumpah akan membunuhmu, sialan. Jika aku bisa lepas dari sini." Batin seorang pemuda yang tak lain adalah Dion yang masih mendapatkan kesadarannya. Sedangkan Hamdan sudah tergeletak tak sadarkan diri sejak tadi.


Pernah mereka mencoba kabur dari tempat itu. Tapi mereka ketahuan dan malah mendapatkan siksaan mengerikan membuat penjagaan semakin ketat, tidak membiarkan mereka berdua lolos lagi. 


"Apa kita tetap akan menawan mereka?"


"Hm, lakukan saja seperti perintah," 


"Baiklah."


.


.


Di kamar Mesya.


Mesya berada di balkon, menatap arah luar. Pandangan nya kosong, banyak masalah yang dipikirkan. Tapi entah bagaimana caranya menyelesaikan karena yang dihadapi ternyata orang yang kejam dan  dapat melakukan apapun yang dia mau. 


Mesya ingin sekali bercerita dan mengatakan pada Lucifer, namun saat mengingat ancaman itu, membuat Mesya mengurungkan niatnya. Dia tidak ingin akibat kecerobohannya, putrinya mati di tangan pria kejam itu.


"Kak.." panggil Lucifer


Mesya menoleh, melihat Lucifer yang sudah berdiri di hadapannya. Dia langsung memeluk Lucifer dan menumpahkan kesedihannya.


Lucifer menghela nafas, mengelus kepala Mesya dengan lembut.


"Bisakah kakak mengatakan pada ku, apa yang terjadi?"


Mesya menggeleng dalam pelukan Lucifer. Dia tidak akan mengatakannya. Jika sampai orang itu tahu, anak nya mungkin akan langsung di bunuh.


"Jangan bertanya tentang itu Luci, kakak tidak sanggup,"


Pertanyaan demi pertanyaan berputar di otak Lucifer. Belum juga dia membalas dendam tentang orang yang membunuhnya dan juga ayahnya, kini keluarganya mendapat masalah yang rumit. Belum juga sahabat nya yang terlihat mencurigakan. Otaknya seakan meledak dengan teka-teki ini. 


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2