
Sesuai rencana sebelumnya, kini anak buah Arish dalam jumlah besar pergi menuju markas milik Brandon dan menghancurkannya. Tapi sebelum itu mereka memberi perintah sesuai apa kata tuannya James atas permintaan Lucifer. Bagi siapa yang menyerah maka mereka akan di biarkan hidup dan bagi yang melawan mereka akan langsung di bunuh saat itu juga.
Ada sebagian dari mereka yang memilih setiap kepada Brandon dan berakhir dengan kematian. Dan ada pula yang menyerah, karena sayang akan nyawa mereka dan anak istrinya. Dan anak buah Arish membiarkan mereka hidup dan akan menjadi tawanan untuk mereka.
Mereka hanya bisa pasrah asalkan dibiarkan hidup. Dan saat mereka membawa hampir separuh pasukan Brandon yang menyerah ke tempat yang ditentukan oleh tuannya, kini semua hanya bisa diam menunggu apa yang akan mereka lakukan. Benarkah menepati janji mereka, membiarkan mereka hidup atau mereka mengingkari janji dan membunuh mereka semua.
"Tuan kami sudah membawa seluruh tawanan ketempat yang anda tentukan. Kapan anda akan datang ke tempat ini?"
"Tahan dan awasi mereka. Jangan lengah sedikit pun, bisa jadi mereka pura-pura menyerah untuk mengelabui kalian,"
"Baik tuan, kami akan mengawasi mereka semua,"
"Bagus, aku akan pergi pagi ini, jemput kami di bandara."
"Baik tuan."
Setelah anak buahnya selesai menghubungi, kini James menghubungi Lucifer. Tapi sebelum itu ia berbicara pada Arish bahwa dirinya akan kembali ke negaranya dengan Lucifer. Arish mengangguk mengizinkan, biarkan dirinya sendiri menemani Mikaela.
"Om mau kemana?" Tanya Mikaela yang sudah siuman dan sudah lebih baik.
"Om ada keperluan penting jadi tidak bisa menemani mu disini. Biar papa mu yang menemani mu,"
"Apa om akan kembali ke markas, karena Mikaela tahu hari ini adalah hari dimana musuh akan menyerang kita,"
"James tersenyum mengusap kepala Mikaela dengan sayang. "Kamu tidak perlu khawatir, masalah itu sudah teratasi, tidak lagi namanya musuh Brandon, yang ada tawanan bernama Brandon,"
Mikaela mengerutkan kening karena pasalnya dia tidak mengetahui bahwa semuanya sudah beres akibat campur tangan Lucifer. Rasa penasaran tentang apa yang terjadi, membuatnya ingin bertanya. Namun sebelum mulut itu bertanya, James dan Arish menjelaskan semuanya termasuk bantuan dari Lucifer.
"Benarkah yang papa katakan, bahwa pemuda itu uang membantu kita?"
"Ya, pemuda itulah yang membantu kita bahkan semuanya berhasil dengan lancar."
"Aku tidak percaya bahwa pemuda yang menolongku adalah penyelamat kita dan semuanya. Setelah aku sembuh nanti aku akan menemuinya, aku akan mengucapkan terima kasih padanya,"
Mikaela mereka senang. Entah kenapa dia tidak sabar untuk bertemu pemuda yang menyelamatkannya. Apalagi saat mengingat wajah tampaknya, membuat senyum di bibirnya melengkapi. Dan semua itu disaksikan James dan Arish.
James dan Arish saling pandang, mereka memiliki pemikiran yang sama. Mungkinkah putri mereka menyukai pemuda yang bernama Lucifer itu. Yah walaupun Arish sendiri belum melihat langsung seperti apa Lucifer, tapi dia yakin pemuda itu pemuda yang tampan, buktinya putrinya seolah jatuh hati dengan pemuda tersebut.
"Apa kau menyukainya?" Tanya Arish membuat lamunan Mikaela bubar dengan pertanyaan yang membuat pipinya merona.
__ADS_1
"Apa yang papa katakan, mana mungkin aku menyukainya."
"Oh, papa kira kamu menyukainya. Buktinya kamu senyum sendiri seperti itu." Wajah Mikaela semakin merona kala Arish berkata seperti itu.
"Papa ah, lagian itu sepertinya susah. Pemuda itu nampak datar dan dingin, seolah tak tersentuh."
"Jika kamu menyukainya berusahalah, buat dia menyukai mu,"
"Papa mendukung ku?"
"Tentu saja," jawab Arish dan James, senang jika memang Lucifer mau dengan Mikaela. Jika itu sampai terjadi, sungguh mereka seperti mendapatkan bongkahan berlian yang sangat besar.
"Berusahalah. Tapi om hanya berpesan, jangan terlalu memaksanya, jika dia tidak mau, kamu harus berhenti. Om tidak ingin terjadi sesuatu dengan mu. Karena pria itu bukanlah pria biasa."
Mikaela mengangguk, mengerti apa yang dikatakan omnya. Memang Mikaela akui pemuda itu bukanlah pria biasa, terbukti mudah membunuh semua musuh yang ingin membunuhnya.
"Mika mengerti Om,"
"Baiklah, om pergi dulu,"
Mikaela Dan Arish mengangguk. Sebelum itu dia mengecup kening Mikaela dan pergi untuk menjemput Lucifer.
James masuk dalam mobil, dan sebelum menjalankan mobilnya dia mencari nomor ponsel Lucifer dan menghubunginya.
"Selamat pagi Tuan James."
"Pagi Tuan Lucifer. Oh ya tuan. Hari ini kita akan pergi ke Negara saya. Saya akan menjemput anda. Anak buah saya sudah menunggu kedatangan kita,"
"Baiklah, jemput saya di alamat ini,"
Lucifer mengirim alamat dimana mereka akan bertemu. Dan beberapa jam kemudian, mereka akhirnya bertemu. James membawa Lucifer menuju bandara dengan seorang supir yang mengantar mereka.
Setelah sampai, mereka pun naik pesawat menuju negara tujuan. Setelah beberapa jam perjalanan, mereka akhirnya sampai. Dan kini di jemput langsung oleh anak buah James yang sejak tadi menunggu kedatangan tuannya.
"Silahkan tuan," bawahan itu membukakan pintu untuk James, tak lupa juga pada pemuda yang bersama dengan tuannya. Dalam benaknya, dia bertanya-tanya siapa pemuda itu?
Mobil melaju meninggalkan bandara, dan satu jam kemudian, mobil yang mereka kendarai sampai di tempat markas James.
Disana terdapat bangunan yang sangat-sangat besar. Dan pintu gerbang yang menjulang tinggi dengan dikelilingi pagar yang juga tinggi.
__ADS_1
Pintu gerbang di buka oleh seseorang dan mobil melesat masuk di halaman yang sangat luas itu. Terlihat banyak anggota yang berlatih Dan ada juga yang mengobrol. Saat mobil itu masuk mereka yang berada di dekat menyambutnya, menundukkan kepala, memberikan tanda hormat.
Mobil berhenti tepat di depan pintu utama mansion besar itu. Dan seorang membukakan pintu untuk mereka.
"Selamat datang kembali Tuan James,"
James mengangguk dan keluar setelah itu di susul oleh Lucifer.
Semua orang yang melihat mengerutkan kening. Berpikir siapa pemuda itu, mungkinkah anggota baru mereka.
"Ayo," ajaknya masuk.
Lucifer mengikuti kemana James membawanya. James meminta Lucifer untuk istirahat lebih dulu. Perjalanan nya yang panjang pasti membuat nya lelah. Dan Lucifer mengangguk saja, karena memang kenyataannya dia begitu lelah.
Lucifer masuk.di.sebuah kamera yang cukup besar. Dia merebahkan tubuhnya di ranjang dan memejamkan mata. Rasa kantuk tiba-tiba menyerang dan akhirnya tertidur.
Dalam mimpi Lucifer tiba-tiba memimpikan seseorang, seseorang yang tidak pernah dia pikirkan. Dalam mimpi itu terlihat wanita yang sangat cantik, dia tersenyum begitu manis.
"Tunggu aku. Dan jangan sekali-kali kau menyukai wanita lain. Jika sampai itu terjadi aku akan memotong milik mu,"
Wajah yang semula begitu cantik tiba-tiba berubah menyeramkan kala wanita itu mengancamnya dan itu membuatnya terbangun dengan nafas memburu.
Hah…hah….hah….
"Siapa gadis itu? Kenapa muncul dalam mimpi ku. Dan gilanya dia memberi ancaman pada ku,"
Lucifer mengusap peluh di keningnya. Tiba-tiba dia melihat sebuah gelang yang dipakai nya, gelang dari seseorang yang sampai sekarang masih terpakai di pergelangan tangannya.
"Dimana dia saat ini? Sejak terakhir bertemu, aku tidak mendengar kabarnya lagi," gumam Lucifer mengingat seorang gadis yang memberikan kecupan terakhir saat mereka lulus SMP.
Mengingat itu, senyum kecil terbit di bibir nya. Entah kenapa Lucifer merasa Lucu mengingat kenangan waktu itu.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1