PEMBALASAN ANAK HARAM

PEMBALASAN ANAK HARAM
Pertarungan Sengit Lucifer Dan Bobby


__ADS_3

"Kurang ajar! Lihatlah, akan ku buat kau menyesal karena tidak mengharapkan ku. Akan ku buat kau menangis darah. Aku akan membalas semua perbuatan yang kau lakukan selama ini. Dendam untuk ibu ku dan aku akan ku akhiri hari ini juga,"


Rasa dendam yang besar di hati tentang kejamnya ayah kandungnya, membuat Lucifer benar-benar ingin membunuh pria gila itu. Dia tidak akan memaafkan pria itu, apapun yang terjadi kematianlah yang pantas untuknya.


.


.


.


Mereka berdua kini berlari dan langsung bertarung.


Trang….


Bunyi senjata tajam saling beradu. 


Trang…..


Trang…..


Trang…..


Mereka bertarung, mengayunkan tangan dengan gerakan cepat, untuk melawan dan melukai satu sama lain.


"Kau tidak akan pernah bisa mengalahkan aku. Lebih baik kau patuh dan mati di tangan ku,"


"Jangan mimpi aku akan mengalahkan pada ku, badjingan sialan. Sampai mati pun aku tidak akan pernah mengalah,"


Trang….


Trang….


Trang…


Sraaak…..


Satu goresan berhasil Lucifer berikan pada lengan Bobby.


"Sialan!" Bobby yang melihat mengumpat kesal. Beraninya anak tak di harapkan itu melukainya.


"Dasar badjingan tengik,  tak akan ku biarkan kau hidup," marah Bobby karena Lucifer berani melukainya.


Bobby benar-benar marah. Dia mengayunkan tangan serta kakinya, menendang dan mencoba melukai tubuh Lucifer. Lucifer yang mendapatkan serangan mengelak, menghindari tendangan serta senjata yang mengarah padanya. 


Lucifer tidak hanya mengelak, dia juga membalas serangan itu. Menendang dan mengayunkan serangan senjatanya.


Traaang….


Traaang….


Bugh ….


Satu tendangan menghantam dada Bobby membuat tubuh itu mundur beberapa langkah.


"Heh, apa hanya ini saja kemampuan mu?" Ucap Lucifer meremehkan. Namun dalam hati Lucifer akui, kekuatan Bobby memang tidak main-main. Walaupun usia nya sudah terbilang banyak.

__ADS_1


Bobby yang mendengar mendengus kesal. Badjingan sialan ini benar-benar membuat nya sangat marah.


"Jangan karena kau bisa melukai ku kau akan menang dari ku. Ini hanya permulaan, setelah ini kau akan tahu siapa Bobby Albern ini,"


Bobby tidak bisa menahan lagi. Bobby kembali menyerang. Namun serangannya lebih kasar dan penuh emosi. Diremehkan oleh anaknya sendiri membuatnya merasa direndahkan. Dia akan membuktikan bahwa dia bukanlah pria yang mudah di remehkan atau di anggap lemah.


"Lihatlah, akan ku buat kau menyesal meremehkan ku anak tengil."


Pertarungan yang cukup lama membuat kedua belah pihak mengalami banyak kerugian. Baik itu jumlah pasukan yang terluka dan jumlah pasukan yang mati, semua benar-benar merugikan.


Pasukan kedua pelah pihak kini masih bertarung untuk mengalahkan satu sama lain. Tak hanya anak buah mereka, pemimpin setiap kelompok juga masih bertarung untuk saling membunuh.


Evan yang bertarung dengan Bart kini keduanya sama-sama babak belur. Senjata sudah tidak ada di tangan mereka. Entah sudah jatuh kemana. Dan kini hanya bisa mengandalkan kekuatan mereka saja, bertarung dengan tangan dan kaki. Meninju, memukul dan menendang.


Bugh….


Bugh….


Bugh…..


Tendangan dan pukulan menghantam, saling beradu. 


Bugh…


Bugh…


Satu pukulan menghantam wajah Brat. Begitupun dengan Bart meninju rahang Evan  dengan kuat.


Mereka saling mundur. Rasa pusing di rasakan di kepala karena mendapatkan tinjuan tersebut. Mereka menggelengkan kepala, mengusir Rasa pusing tersebut. Dan setelah itu kembali bertarung.


.


.


Di tempat pertarungan Lucifer dan Bobby. Beberapa kali Bobby telah mendapatkan pukulan dari Lucifer. Bobby kini sedang mengusap sudut bibirnya dengan kasar karena terdapat darah yang keluar akibat robek mendapatkan pukulan keras dari tinju Lucifer.


Wajah Bobby sudah penuh dengan lebam. Walaupun tenaganya cukup kuat, tapi tetap saja dia kalah dengan tenaga Lucifer yang masih muda.


"Menyerahkan, maka aku akan memberikan kematian yang mudah untuk mu," 


"Cih, jangan harap. Aku akan tetap bertarung hingga titik darah penghabisan.  Walaupun nantinya akan kalah, aku tidak akan pernah menyerah sampai kapan pun,"


Mendengar itu, Lucifer menyeringai. Dia berjalan maju, dan mengambil sebuah tongkat besi yang tergeletak di sana, mungkin saja itu milik anak buahnya atau milik anak buah Bobby.


Lucifer juga mengambil barang lainnya, sebuah pistol dan juga pisau kecil yang sangat runcing.  Untuk senjatanya sendiri sudah hilang saat pertarungan tadi.


Bobby yang melihat juga mengambil senjata lain yang ada di dekatnya dan setelah itu mereka berdua berlari saling menghampiri. Lucifer ingin mengakhiri pertarungan itu secepatnya. Saat mereka hampir dekat Bobby membidikkan senjatanya kerah Lucifer. 


Door…..


Satu tembakan berhasil Lucifer hindari dengan cara memutar tubuhnya. Namun saat dirinya memutar tubuh, membuat dia memiliki kesempatan, dia juga juga membidik dan menembak kan pistol nya ke arah Bobby. 


Door…


Argh….

__ADS_1


Satu peluru menembus paha Bobby.


Bobby yang mendapatkan tembakan tentu saja meringis kesakitan. Anaknya ini benar-benar susah untuk di kalahkan.


Namun Bobby tidak menyerah begitu saja. Dia kembali berdiri dengan tatapan tajamnya. Dia membidikkan senjatanya dan…


Door….


Door….


Dua peluru menembus bahu dan lengan, beruntung peluru itu meleset. Jika tidak mungkin saat ini Lucifer sudah mati di tangan pihak ketiga yang ikut campur. Ya, tembakan itu berasal dari anak buah Bobby yang melihat tuannya tersudut oleh Lucifer.


Lucifer menoleh ke arah pria yang masih mengacungkan senjatanya. Tatapannya begitu dingin, beraninya pria itu ikut campur dalam pertarungannya. 


Klak…


Klak…


Pria itu hendak menembak lagi. Tapi sialnya peluru nya telah habis. Lucifer yang sudah dikuasai amarah langsung mengangkat tangannya dan membidik senjata nya ke arah pria tersebut.


Pria itu hendak lari, kabur. Namun Lucifer tidak membiarkan begitu saja. Dia menarik pelatuk senjatanya dan menembaknya.


Door….


Door….


Peluru berhasil menembus tubuh bagian belakang, membuat pria itu memuntahkan darah dari mulutnya dan setelah itu ambruk, mati.


Bobby yang melihat itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia mengambil sebuah kayu dan berjalan dengan pelan, ke arah belakang Lucifer dan setelah itu memukul dengan keras kepala bagian belakang, membuat Luc8fer terhuyung dengan mata berkunang-kunang. Bahkan kepalanya berdarah akibat pukulan keras itu.


Lucifer menggelengkan kepala, mengusir rasa pusing yang amat di rasakannya. Bobby yang melihat tidak membuang kesempatan untuk membunuh. Dia ingin kembali memukul Lucifer. Namun semua itu tidak di biarkan terulang lagi. Lucifer menahan dan mencekal kayu itu dengan kuat.


Tes…


Darah menetes di wajahnya. Dia menatap dengan tajam pria yang kini ada di hadapannya. Marah, ya Lucifer ingin mencincangnya saat ini juga.


Lucifer mencekal sebelah tangan milik Bobby dan setelahnya membanting tubuh itu dengan kuat di tanah. 


Bugh….


Bobby meringis saat tubuhnya di banting dengan sekuat kuatnya oleh Lucifer.


Bobby hendak bangun untuk membalas. Namun Kucifer tidak membiarkan begitu saja, dia kembali kemarin tangan itu dan menginjaknya dengan kuat. Hingga terdengar suara tulang patah.


Kraak….


Argh……


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung 


__ADS_2