
"Kami datang kesini karena mencari seseorang. Kami berharap anda berkata jujur, jika tidak kami tidak akan segan untuk membunuh mu dan anak mu,"
Jelas saja Mesya sangat takut, apalagi saat melihat dua pria itu tidak main-main dengan ucapannya. Terbukti sebuah pistol mengarah tepat ke arahnya, memberi ancaman.
Namun semuanya berhenti, kala suara seseorang menyela pembicaraan mereka.
.
.
"Berhenti! Lepaskan istri ku,"
Farhat bersuara lantang menghentikan apa yang kedua pria itu ingin lakukan pada istrinya.
Saat pulang dari bekerja, Farhat melihat mobil asing terparkir di depan rumahnya. Keningnya berkerut tidak mengenal mobil siapa itu. Dan saat masuk Farhat terkejut dengan apa yang di lihatnya, istri dan anaknya di ancam dua orang tamu yang tidak di kenal.
Tangannya terkepal erat, marah. Beraninya orang tersebut mengancam dua wanita yang di sayanginya.
Mesya, Zaki dan Jerry menoleh ke arah sumber suara. Terlihat wajah Farhat sangat gelap.
"Siapa kalian? Dan beraninya kalian mengancam istri dan anak ku," Farhat sungguh marah, tatapannya sangat tajam. Jika saja dia terlambat pulang mungkin saja istri dan anaknya akan terluka okeh badjingan tak di kenal itu.
Zaki san Jerry yang melihat pria yang di yakini suami Mesya tersenyum menyeringai. Seperti nya akan semakin runyam, yakin tidak akan mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Farhat mendekati Mesya. Mesya menangis karena takut dengan apa yang mereka lakukan, beruntung suaminya datang tepat waktu untuk melindunginya.
Farhat menarik tubuh Mesya agar berdiri di belakangnya, melindungi.
"Jangan harap kalian bisa menyakiti istri dan anak ku,"
"Aku tidak berniat menyakiti istri dan anak mu. Andai saja dia dapat bekerja sama, kami tidak akan melakukan ini padanya," jawab Jerry membuat Farhat bingung dengan mata menyipit menyelidik. Apa maksud yang di katakan nya? Memang apa yang mereka inginkan.
"Memang apa yang kalian mau sampai meminta istri ku untuk bekerja sama dengan kalian?" Rasa penasaran menyeruak di hatinya tentang apa yang mereka inginkan.
"Katakan apa mau kalian?"
"Aku hanya ingin menanyakan sesuatu dan ini penting,"
"Katakan,"
"Dimana saat ini pria bernama Lucifer berada?"
__ADS_1
Farhat dan Mesya yang mendengar mengerutkan kening. Ada apa sebenarnya? Kenapa mereka mencari Lucifer?
"Apa hubungan mu dengannya? Aku tidak mau menjawab jika itu akan menyakitinya atau membahayakannya,"
"Aku tidak bermaksud menyakitinya atau membahayakannya. Aku hanya ingin tahu tentang Tuan muda kami,"
"Tuan muda?" Farhat dan Mesya sungguh bingung. Siapa yang mereka Tuan muda, tidak mungkin Lucifer kan? Atau kedua pria ini suruhan Tuan Bram?
"Apa kalian suruhan Tuan Bramestyo?" Tanya Mesya, berharap bukan.
"Bukan. Aku adalah orang suruhan ayah dari Tuan Muda Lucifer untuk menjemputnya,"
"Ayah?" Lagi-lagi Farhat dan Mesya bergumam dengan wajah bingung.
Bramestyo bukan, tapi kenapa kedua pria itu menyebut kata ayah? Bukankah Tuan Bram adalah ayah dari Lucifer. Tapi kenapa seolah itu bukan.
"Saya tidak mengerti maksud anda, tuan. Yang kami tahu Tuan Bramestyo adalah ayah dari Adik saya." Mesya pura-pura tidak tahu. Padahal kenyataannya ia tahu. Hanya saja dia tidak ingin suaminya tahu tentang kenyataan itu. Maka dari itu Mesya berniat bersandiwara.
"Heh, anda bodoh sekali Nona. Bram bukanlah ayah kandung Tuan muda. Melainkan hanya pelariannya saja. Kami tidak ingin menyakiti kalian, kami hanya perlu mengetahui keberadaan Tuan muda kami. Sekarang katakan dimana Tuan muda kami,"
"Kami tidak tahu," jawab Mesya cepat. Sedangkan Farhat diam saja sambil matanya lurus menatap dua pria yang mencari keberadaan adik iparnya.
"Patuhlah Nyonya. Jika tidak kami dapat membunuh kalian berdua sekarang juga."
Farhat yang melihat keberanian Istrinya menahan lengan itu, berharap istrinya tidak memperburuk keadaan dan membuat mereka menyakiti mereka semua.
"Tuan, kami tidak mengerti maksud anda berdua. Lagian sebenarnya kami memang tidak tahu keberadaan Lucifer saat ini. Beberapa bulan lalu adik kami menghilang entah kemana dan sampai sekarang belum di temukan," Farhat buka suara membuat Mesya menatap suaminya dengan tatapan tajam. Kenapa suaminya mengatakan itu. Bagaimana jika mereka mencari keberadaan Lucifer dan membunuhnya.
"Mas,"
"Tenanglah, jika aku mengatakan sejujurnya kalian akan aman. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan kalian. Lagian Lucifer memang tidak di ketahui keberadaannya bukan. Dan berdoa saja semoga mereka tidak menemukan keberadaan Lucifer sampai kapan pun." Bisik Farhat pada Mesya, berharap istrinya mengerti keadaan.
Zaki dan Jerry yang mendengar tidak mengerti apa yang di katakan Farhat. Pemuda yang di cari tidak ada. Apa maksudnya.
"Katakan dengan jelas apa yang kamu maksud?"
"Adik kami menghilang beberapa bulan lalu, dan sampai saat ini belum di temukan." Jelas Farhat kembali.
Klak…
Pistol itu mengarah tepat di kening Farhat dan Mesya. Mereka tidak bisa menahan kesabaran lagi. Berani berbohong maka kematian yang akan mereka dapat.
__ADS_1
"Jangan mencoba membodohi kami. Kami bisa melakukan apa yang kami mau saat ini juga, bahkan mengambil nyawa kalian adalah hal mudah bagi kami. Katakan dengan jujur dimana pemuda bernama Lucifer itu,"
Zaki sudah tidak lagi menahan nya. Sifat aslinya keluar dan kini menatap tajam Farhat.
Farhat yang di tatap sama sekali tidak takut. Memang kenyataannya seperti itu. Walaupun mereka membunuhnya, mereka tetap tidak dapat menemukan apa yang mereka mau.
"Aku mengatakan dengan jujur. Jika kalian tidak percaya kalian bisa bertanya pada polisi tentang laporan kami yang kehilangan Lucifer."
Zaki dan Jerry saling pandang. Mungkinkah apa yang di katakan pria itu benar bahwa Lucifer tidak menghilang. Senyum seringai muncul di bibir Zaki memberi kode pada Jerry untuk tidak menyia-nyiakan waktunya. Meminta membunuh salah satu di antara mereka.
Farhat yang melihat gerak gerik mencurigakan itu mengerutkan kening.
"Apa yang ingin kalian lakukan?"
"Kau akan melihat setelah ini." Jawab Zaki begitu santai.
Farhat dengan cepat menoleh ke arah Jerry yang saat ini menodongkan senjatanya pada Mesya yang menggendong putrinya. Wajah Jerry yang penuh dengan seringai membuat Farhat berpikir jika Jerry berniat membunuh istrinya.
"Apa yang ingin kalian lakukan? Jangan lakukan itu!"
"Terlambat."
"Tidak! Jangan lakukan."
Zaki hanya tersenyum sedangkan Mesya mundur mencoba lari berharap peluru dalam pistol Jerry tidak melesat dan menembus tubuhnya atau anaknya.
"Jangan lakukan itu. Aku ingin berbicara denganmu hanya berdua. Tapi ku mohon jangan bunuh istri dan anak ku,"
"Apa kau punya jawabnya untuk ku?"
Zaki dan Farhat berbicara empat mata. Entah apa yang dibicarakan Farhat pada Zaki membuat pria itu melepaskan mereka semua. Bahkan Jerry di minta untuk tidak membunuh Mesya. Dan setelah itu mereka pergi meninggalkan Farhat dan Mesya tanpa membuat mereka terluka.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1