
Pihak Bobby langsung mengetahui jika Lucifer berada di di Indonesia dan semua itu karena Ana yang masih berhubungan dengan mereka, memberitahukan jika Lucifer ada di Indonesia. Bahkan Ana meminta mereka untuk membunuh Lucifer, tidak ingin melihat wajah anak yang menurutnya menjijikkan.
"Tuan, saya ingin memberitahukan sesuatu kepada anda. Pemuda yang anda cari saat ini ada di indonesia. Saya baru saja bertemu dengannya. Sepertinya memang sebelumnya dia tidak ada di Indonesia. Karena saya bertemu dengannya di bandara." Jelas Ana pada seseorang yang waktu pernah datang ke rumah mencari keberadaan Lucifer.
"Baiklah, saya akan langsung ke Indonesia dan menangkap anak itu,"
"Jangan hanya menangkapnya saja tuan, bila perlu bunuh saja dia,"
Pria itu hanya tersenyum miring. "Nyonya, jika anda ingin saya membunuhnya, pastikan anda tahu keberadaannya, dan jangan biarkan dia kabur lagi,"
"Baik tuan, saya akan melakukan apa yang anda minta,"
Setelah melakukan panggilan itu, Ana tersenyum menyeringai. Dia tidak sabar mendengar kematian Lucifer, si anak haram itu. Sedangkan pria yang di hubungi tadi langsung memberikan perintah kepada rekannya, meminta bantuan mereka untuk pergi ke indonesia menangkap Lucifer.
.
.
Lucifer sebenarnya tahu jika ada yang ingin mencari masalah dengannya dari informasi Abraham. Tak hanya itu saja Abraham juga telah menemukan keberadaan dimana orang yang dulu berkhianat dan membunuh Lucifer. Dari informasi yang didapat Abraham, teman yang berkhianat itu adalah anggota dari kelompok yang markas besarnya ada di Amerika, lebih tepatnya kelompok itu bernama XLOVENOS. Kelompok yang di ketuai oleh Bobby. Sungguh suatu kebetulan.
Lucifer mengendarai mobilnya bersama seorang supir kepercayaannya. Sedangkan bawahan lainnya berada sedikit jauh, sebagai pengawal bayangan. Tujuan utama dia datang ke indonesia adalah menemui Mesya, kakaknya. Ingin memberikan kejutan pada wanita yang menjadi satu-satunya keluarga dekatnya, bahwa dirinya selama ini masih hidup.
Lucifer tidak sabar, ia begitu bahagia. Namun kebahagiaan itu tidak dirasakan oleh seseorang. Pria itu gelisah saat mengetahui bahwa Lucifer kembali ke Indonesia saat seorang mengabarinya.
"Bagaimana ini? Semoga dia tidak curiga dengan ku," gumamnya dan menarik nafasnya dalam-dalam.
Lucifer kini telah sampai, tepat di depan pintu gerbang tinggi berwarna silver. Seorang satpam yang berjaga menghentikannya dan bertanya. Saat tahu bahwa itu adalah Tuan mudanya satpam itu langsung memberikan izin dan membukakan pintu.
"Silahkan tuan muda,"
Mobil melaju halaman mansion besar itu dan berhenti tepat di depan pintu.
Sang sopir keluar dan membukakan pintu untuk tuannya.
"Silahkan tuan,"
Lucifer mengangguk dan keluar, merapikan pakaian nya dan berjalan menuju pintu.
Lucifer mengetuk pintu, dan tak lama seorang Maid datang membukakan.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya Maid yang tidak mengenal Lucifer, karena Maid itu batu di rumah tersebut.
"Apa nyonya mu ada? Aku ingin bertemu dengannya,"
"Beliau ada tuan, silahkan masuk," Maid itu masuk dan duduk di kursi yang sebelumnya sudah dipersilahkan oleh Maid tersebut.
"Tunggu sebentar tuan, saya akan panggilan Nyonya," Lucifer mengangguk dan Maid itu pergi memanggil nyonya.
Lucifer melihat sekeliling, tidak berubah. Masih tetap sama seperti 5 tahun yang lalu, tepat saat dirinya memberikan mansion itu pada Mesya.
Di halaman belakang, Mesya saat ini sedang menanam bunga kesukaannya. Banyak macam bunga ditanamnya, membuatnya begitu menyukai aktivitasnya.
"Nyonya," panggil Maid tersebut.
"Ada apa?" Tanya Mesya masih sibuk dengan kegiatannya.
"Ada seorang tamu yang ingin menemui anda, nyonya,"
Mesya yang sedang menanam bunga langsung menghentikan tangannya dan mengerutkan kening. Tamu, siapa? Pikirnya.
"Apa kau tahu siapa?"
"Saya tidak mengenalnya nyonya. Dan maaf saya tidak bertanya tentang nama siapa tuan itu,"
"Sepertinya tidak nyonya,"
Mesya diam, berpikir siapa tamu itu. Mungkinkah seperti orang waktu itu yang mencari keberadaan Lucifer? Jika itu benar, apa yang harus di lakukan. Pasti orang itu memiliki niat tidak baik pada keluarganya.
"Aku akan melihatnya. Kau ikut aku,"
"Baik nyonya,"
Mesya mencuci tangannya dan pergi untuk menemui tamu tersebut. Saat berada di ruang tamu, kening Mesya semakin mengkerut saat melihat punggung pria yang memunggunginya. Dalam hati, bertanya-tanya siapa orang tersebut.
Tap..
Tap..
Suara langkah kaki Mesya terdengar di telinga Lucifer, membuat Lucifer menoleh ke arah suara.
__ADS_1
Deg…
Jantung Mesya seakan berhenti saat melihat wajah siapa yang ada di hadapannya. Wajah seseorang yang sangat di rindukannya. Seseorang yang sangat dia sayangi, dia adalah adiknya yang telah lama hilang, Lucifer.
Dengan langkah gemetar dan tatapan tak terlihat sedikitpun, Mesya berjalan mendekati Lucifer dengan nafas berat dan air mata mengalir di pipi karena saking rindunya pada adik angkat nya itu.
"Lu…Luci,"
Lucifer yang melihat juga berjalan mendekati kakaknya dan kemudian mereka saling berpelukan, melepas rindu yang sudah lama mereka rasakan.
"Luci….hiks…hiks…"
"Kak," Lucifer memeluk erat tubuh itu dalam dekapannya.
Mesya menangis tersedu-sedu di dekapan Lucifer. Mesya tidak peduli jika baju Lucifer kotor akibat air mata dan ingusnya. Untuk saat ini yang di pikirkan hanya senang karena bisa bertemu dengan adiknya yang dinyatakan hilang entah kemana.
Setelah puas mencurahkan kebahagiaannya karena bisa bertemu, Mesya membawa Lucifer duduk di sampingnya.
Mesya menyentuh wajah yang semakin tampan itu dengan jarinya.
"Lama tidak melihatmu, kamu semakin tampan adik ku, bahkan tubuh mu juga berubah semakin tinggi dan berotot. Apa kamu baik-baik saja selama ini?"
Lucifer hanya tersenyum, menatap wajah kakaknya. "Aku baik-baik saja, bahkan kehidupan ku sangat baik. Tapi kak, kenapa aku melihat kakak makin kurusan, apa kakak tidak bahagia selama ini?"
Mesya hanya menggelengkan kepala, "Kakak bahagia. Hanya saja kebahagiaan itu hadir lagi setelah kehadiran mu disini,"
Mendengar kata ambigu kakaknya, Lucifer mengerutkan kening. Ada apa sebenarnya.
"Kak," Lucifer menggenggam tangan Mesya, seolah meminta kakaknya bercerita. Entah kenapa Lucifer merasa ada yang disembunyikan kakaknya darinya.
"Jangan khawatirkan kakak, kakak bahagia selama ini. Hanya saja tanpa mu seperti ada yang kurang selama ini." Mesya memeluk Lucifer dan menangis lagi. Entah apa yang dirasakan Mesya, dia begitu tersiksa dan sedih.
Lucifer tidak ingin bertanya lagi. Dia mengelus punggung wanita itu dengan lembut, memberikan ketenangan. Saat mereka sedang melepas rindu dan kesedihan serta kebahagian, suara seseorang membuat mereka menoleh.
Lucifer,"
.
.
__ADS_1
.
Mesya.