PEMBALASAN ANAK HARAM

PEMBALASAN ANAK HARAM
Bobby Albern


__ADS_3

Sesampainya di Exela Corporation,  Evan langsung pergi menuju ruangan tuannya karena sebelumnya dia sudah di hubungi untuk menemui nya.


Tok…


Tok…


Tok…


"Masuk," 


Evan membuka pintu, di lihatnyabguannya sedang sibuk dengan berkas di depannya. 


Evan melangkah masuk dan berdiri di depan tuannya.


"Maaf, menunggu lama tuan," 


"Hm….kau sudah mengurus bocah itu?"


"Sudah tuan,"


"Ku harap dia berguna seperti kau katakan. Jika dia sana sekali tidak berguna aku akan langsung membunuhnya dengan tangan ku,"


Evan diam, tahu akan sifat tuannya. Baginya orang yang dekat dengannya harus sangat berguna, tidak boleh sampai tidak. Bahkan bila perlu orang yang dekat dengan nya harus memiliki manfaat untuknya menghasilkan uang. Jika tidak lebih baik di bunuh saja, karena bakal merugikan dan merepotkan.


"Akan saya pastikan dia berguna untuk anda tuan." Evan entah kenapa begitu yakin kalau Lucifer bukanlah pemuda biasa. Dari data yang di cari tentang siapa Lucifer dan tidak menemukan data tersebut, bahkan data itu di kunci membuatnya curiga, mungkin Lucifer bukan pemuda biasa.


Dirinya yang bergelut di dunia hitam cukup lama hafal akan hal tersebut. Jika hanya orang biasa pasti akan dengan mudah mencari data seseorang. Tapi ini tidak, kerahasiaan data Lucifer yakin memang di sembunyikan. Entah pria itu siapa, Evan akan menggunakan kesempatan baik ini untuk membuat Lucifer berada di genggamannya.


"Besok aku akan bertemu dengan seseorang yang sangat licik. Kau bawa beberapa anak buah mu yang bisa di andalkan pergi bersama kita. Aku yakin pria badjingan itu akan membuat masalah nanti,"


"Baik tuan. Mm, jika boleh tahu siapa orang tersebut?" Tanya Evan penasaran.


"Bobby Albern, ketua Mafia XLOVENOS,"


"Bobby Albern?" Evan sedikit terkejut saat tahu siapa orang yang akan bertemu dengan tuannya. Pasalnya Bobby adalah pria yang ambisius, pria yang ingin menjatuhkan tuannya dan mengambil alih semua usaha tuannya di dunia bawah.


Sering kali mereka berseteru, dan kini mereka akan bertemu. Entah kenapa Evan yakin pertemuan ini tidak akan berjalan lancar. Pasti akan terjadi sesuatu.


"Kenapa anda bertemu dengan nya tuan,"


"Bukan hanya dengan dia saja. Ada seseorang yang bersama kita nanti. Sebenarnya aku hanya akan bertemu dengan orang ini. Tapi tiba-tiba Bobby badjingan itu juga ikut dalam ke pertemuan ini. Entah kelicikan apa yang di gunakannya sampai bisa membuat orang tersebut mengizinkan."

__ADS_1


Evan tidak bisa berkata. Bobby memang pria tua licik, tahu selalu tentang apa yang akan di lakukan tuannya. Entah berapa banyak mata-mata yang di kirimnya. Bahkan Evan sendiri sudah banyak membunuh mata-mata tersebut, namun tetap saja Bobby tahu akan apa yang di lakukan tuannya. Evan sempat berpikir, mungkin Bobby memiliki seorang peretas handal yang mampu memantau pergerakan semuanya. Sedangkan kelompok nya tidak memiliki hal tersebut, karena susah mencari peretas handal yang bisa di percaya.


"Baik tuan, akan saya lakukan dengan baik,"


"Pergilah dan selesaikan pekerjaan mu,"


Evan mengangguk dan pergi keruangannya.


.


.


Keesokan harinya, Evan sudah bersama dengan tuannya di dalam mobil yang sama. Evan membawa seorang sopir yang tak lain anak buahnya yang handal dalam menembak dan bertarung. Sedangkan anak buah lainnya yang di bawa menjaga mereka dari sedikit jarak jauh, menjadi pengawal banyang-bayang untuk tuannya.


"Kau sudah mengurusnya?"


"Sudah tuan,"


"Bagus. Ayo berangkat,"


Mobil pun melaju menuju tempat dimana mereka akan melakukan pertemuan, di sebuah klub malam terbesar di kota New York. 


Evan dan sopir bernama Bill tentu saja terkejut, mereka hendak mengambil pistol yang di simpan di bawah kursi mereka, namun tidak jadi karena satu mobil yang di tumpangi anak buah yang menjadi bayang-bayang langsung bertindak, mengejar mobil yang berani menembak mobil tuannya. Dan satu mobil itu melaju, mengejar dan balas menembak, hingga akhirnya di perjalanan, adu tembak senjata terjadi.


Kendaraan lain yang berada di jalan menjadi panik saat melihat hal ekstrim tersebut. Mereka takut, takit jika peluru yang melesat itu salah sasaran dan mengenai mereka.


Door….


Door….


Door….


Suara tembakan menggema di jalanan. Anak buah Evan tak henti-hentinya menembak. Seorang keliar dari kaca, berdiri sambil membdidikkan senjata dengan mata memicing, mengunci target. Setelah itu  melepas tembakan kearah bidikannya. 


Door….


Pyaar….


Kaca mobil pecah. Peluru berhasil menembak kepala si pengemudi membuat mobil oleng dan dan berguling setelah itu meledak.


Booom…..

__ADS_1


Duuar……


Api besar membakar mobil tersebut. Anak buah Evan yang berhasil hanya melihat dengan dingin dan setelah itu mengangguk saat melihat mobil tuannya lewat, dan setelahnya  kembali ke tempatnya, mengawal mobil tuannya dari jarak sedikit jauh. 


Evan puas akan kinerja bawahannya dan mereka pun melanjutkan perjalannya. Sedangkan seorang yang mendengar kabar itu mengumpat kesal karena rencananya gagal untuk membuat teman saingannya celaka.


"Kau hari ini selamat, tapi tidak untuk lain kali," Senyum seringai muncul di bibirnya, membuatnya terlihat mengerikan.


Setelah mendengar rencananya gagal, pria yang tak lain adalah Bobby langsung pergi menuju tempat dimana mereka akan melakukan pertemuan bersama dengan asistennya bernama Bart yang selaku setia menemaninya. 


Di dalam mobil, Bobby menyangga kepalanya sambil menyesap sebatas rokok di mulutnya. 


"Kau sudah menemukannya?"


"Belum tuan, maafkan saya,"


"Kenapa kau sangat payah sekali."


"Maafkan saya tuan,"


"Sudah berapa kali kau meminta maaf pada ku, tapi tetap saja tidak bisa menemukan keberadaannya,"


Bart diam, tidak lagi menjawab. Jika terus dirinya menjawab dan meminta maaf, mungkin malah akan membuat tuannya murka.


Tak terasa perjalanan mereka akhirnya sampai. Mereka tiba malam hari, terlihat Club begitu ramai. Lampu berkelap kelip menghasilkan gedung besar tersebut.


Bart membukakan pintu untuk tuannya. Bobby turun dari mobil, melihat sekeliling. Matanya menangkap seseorang yang sangat di kenalnya, senyum seringai muncul di bibirnya. Dan setelah itu menghapiri, menyapanya. 


"Lama tidak bertemu dengan mu teman lama ku. Bagaimana kejutan ku tadi?"


Pria yang di sapa menatap tajam pria yang dulu menjadi sahabatnya itu. Namun ranggang karena rasa iri dan benci dan akhirnya menjadi musuh dalam bisnisnya. 


.


.


.


.


Bersambung 

__ADS_1


__ADS_2