
Kraak….
Argh….
"Hei…..!" Teriak anak buah Bobby yang tidak menyangka Lucifer akan melakukan itu di depan mata mereka.
Tatapan tajam membuat mata itu melotot seperti hendak keluar. Tapi Lucifer tidak peduli. Dia malah semakin mematahkan kaki itu hingga membuat Bobby terkulai lemah tak berdaya.
.
.
"Berhenti! Atau ku bunuh mereka!" Ancam anak buah Bobby. Sungguh mereka tidak tega melihat bos mereka di perlakukan seperti itu. Lucifer sungguh keterlaluan. Tapi itulah dunia hitam. Siapa yang kejam dan berkuasa dia lah pemenangnya.
Lucifer yang di ancam tidak peduli. Jika tangan itu berani menembak salah satu di antara mereka, maka Lucifer tak segan membunuh Bos mereka di hadapan mereka semua.
Lucifer seolah menantang, dia menodongkan senjata tepat di kepala Bobby, siap kapan pun menarik pelatuk itu dan menembaknya hingga menembus isi kepala.
Lucifer tersenyum menyeringain wajahnya yang terdapat darah membuatnya mengerikan, entah kenapa tatapanya membuat mereka takut, begitu pun dengan Alex dan Farhat. Dia tidak menyangka jika ternyata Lucifer seorang yang sangat mengerikan dan kejam.
"Lepas mereka semua atau ku bunuh bos lemah mu ini. Oh, tak lupa juga, kalian akan ikut mati menemaninya."
Rey dan beberapa anak buahnya kini kini mengepung mereka, mengitati mereka semuanya dengan tangan memegang senjata, siapa menembak jika ada yang berani melawan.
Orang yang menahan Mesya dan lainnya melihat sekeliling. Sial, mereka saat ini di kepung.
"Apa-apaan ini? Kau mengancam ku?"
"Bukankah kau juga mengancam ku? Aku hanya membalas saja. Jika kau berani melukai mereka, maka peluru anak buah ku siap menembus kepala dan tubuh mu."
Mereka saling pandang, bingung harus memilih yang mana. Jika mereka membunuh seorang di antara mereka, pasti anak buah Lucifer yang sedang mengepungnya, pasti akan langsung menembaknya. Dan jika menyerah, tidak yakin jika Lucifer akan melepaskannya, pastinya pria itu pasti tetap akan membunuhnya. Sial, sungguh Sial! Pilihan yang rumit.
Jika sebelumnya Lucifer di beri pilihan, kini berbalik, dia lah yang harus memilih. Lucifer menatap nya menunggu jawaban dari mereka dengan wajah dingin.
Alex dan Farhat sudah ketakutan, yakin mereka akan mati bersama dengan anak buah Bobby. Farhat mengeleng, tidak, dia tidak ingin mati di tangan Lucifer.
Ah ya, Farhat ingat Lucifer belum mengetahui jika dialah penghianat itu dan menyebabkan mereka semua di sandera. Farhat maju berharap Lucifer membebaskannya, seolah dia juga sandera seperti yang lainnya.
__ADS_1
"Luci, tolong kakak. Kakak tidak ingin mati di tangan mereka, bantu kakak lepas dari mereka ini,"
Lucifer menyipitkan mata, dia baru tahu jika disana juga ada kakak iparnya, tapi dilihatnya kenapa kakaknya berada di belakang, dan tidak di tahan seperti yang lainnya. Ini sungguh aneh. Jika mereka sama-sama tahanan mereka tentu nya Farhat akan ikut dalam barisan itu, tapi ini tidak.
Dion dan Hamdan yang melihat langsung menoleh, menatap tajam pria tajam tahu diri itu.
"Jangan pedulikan dia Luci, dialah penghianat sebenarnya selama ini?"
Penghianat sebenarnya? Apa maksudnya? Lucifer memang belum mengetahui kenyataan yang sesungguhnya jika Farhat adalah si penghianat itu. Dia butuh penjelasan.
"Apa maksud kalian, katakan," ucap Lucifer bertanya, ingin tahu apa maksud Dion dan Hamdan. Tapi sebelum mereka mengatakan, Farhat menyela mereka.
"Jangan percaya apa yang di katakan mereka, sebenarnya selama ini kita tidak melihat mereka, ternyata mereka pergi karena membawa harta milik mu. Mereka melarikan diri berharap tidak ingin kau mengetahuinya."
"Benarkah itu?"
"Jangan percaya apa yang di katakan nya, Luci. Penghinat sebenarnya adalah dia." Kesal Dion menatap tajam Farhat, beraninya pria sialan itu memutar balikan fakta.
"Hei kau, badjingan tidak tahu diri. Aku ingin sekali membunuh mu dengan tangan ku ini. Jika bukan karena kau, kami semua tidak mungkin berada disini."
"Memfitnah kau bilang! Itu memang kenyataannya,"
Dion memberontak, mencoba melepas cekatan itu. Ingin sekali memukul wajah dan kepala badjingan sialan itu. Benar-benar tidak tahu malu.
Lucifer yang mendengar bingung, dia menatap satu sama lain. Entah siapa yang harus dia percaya. Tapi seorang yang membuka suara membuatnya terkejut, bahwa semua dalang dari masalah ini adalah seorang yang begitu dekat dengannya, Farhat.
"Apa yang di katakan Dion benar, Mas Farhat lah penghianat itu," satu penjelasan yang benar-benar di luar dugaan. Berbuah nama yang tidak terbesit sedikiptpun di pikirannya bahwa Farhatlah penghianat itu.
"Benarkah itu?" Tanya Lucifer pada Mesya dan Mesya mengangguk.
Mesya sendiri masih tidak percaya. Tapi setelah melihat semuanya tadi, bahwa Farhat bersekongkol dengan para mafia itu baru Mesya benar-benar percaya bahwa Farhat berkhianat dan mencoba membunuh Lucifer.
Lucifer menghela nafasnya, ternyata itu adalah Farhat. Lalu, Rifky?
"Lalu bagaimana dengan Rifky?"
"Rifky bukanlah pengkhianat. Mereka mencoba menjadikan Rifky sebagai tersangka. Dan asal kau tahu, saat ini mereka juga menahan Rifky," jelas Dion.
__ADS_1
Anak buah Bobby yang mendengar obrolan mereka begitu kesal. Mereka menodongkan senjata mereka kesetiap kepala sanderanya, termasuk Alezza.
Lucifer yang melihat terkejut, begitupun dengan Rey dan lainnya.
"Berani kau menembakkan senjata maka aku tidak segan membunuh Bos mu dan kalian semua." Ucap Lucifer.
Bobby yang masih sadar walaupun tubuhnya lemas, menatap anak buahnya. "Bunuh mereka, jangan pedulikan aku," perintahnya karena yakin Lucifer tetap akan membunuhnya walaupun mereka melepaskan orang-orang terdekat Lucifer.
"Berani kalian, aku akan membunuh kalian semua!" Marah Lucifer dengan takut, tidak ingin melihat mereka mati di depan matanya.
Lucifer panik. Jika Bobby sudah berkata seperti itu berarti dia sudah pasrah, memilih mati di tangannya. Dan jika anak buah Bobby menuruti perintah itu yakin, sahabatnya, kakaknya dan kekasihnya pasti akan mati di tangan mereka.
Anak buah Bobby yang mendengar bingung, antara menuruti atau tidak. Tapi Bobby terus saja berbicara untuk membunuh mereka semua agar Lucifer merasakan bagaimana di tinggal orang-orang kesayangannya dan melihat mereka semua mati tepat di depan matanya.
"Cepat bunuh!" Perintah Bobby.
"Tidak! Jangan lakukan! Jika kalian membunuh mereka, aku akan benar-benar bunuh kalian semua."
Door….
Door….
Door….
"Tidak!"
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1