
Lucifer, Jaxon dan lainnya kini pergi ke bandara untuk kembali ke Amerika. Mereka kini sudah berada di jet pribadinya. Lucifer duduk bersama dengan Ezza yang senantiasa berada di sampingnya.
Sedangkan Rey berada tak jauh dari tuannya, tiba-tiba ponselnya berdering, ada panggilan masuk dari anak buahnya.
"Ada apa?"
"Maaf tuan, mengganggu waktu anda,"
"Katakan, jangan sampai kau menghubungi ku bukan karena hal penting."
"Baik tuan. Ini tentang pria yang sebelumnya di kirim.di rumah sakit,"
"Maksud mu Rifky?"
"Benar tuan,"
"Ada apa dengannya?" Tanya Rey penasaran. Kenapa tiba-tiba anak buahnya mengabari tentang si penghianat itu.
"Pria itu saat ini sudah tidak ada di rumah sakit tuan. Saat kami ingin melihat bagaimana keadaannya, apakah sudah mati atau belum, saya tidak melihat pria itu ada di kamarnya. Dan kata Dokter disana, pria itu sudah menghilang beberapa hari lalu tuan," jelas bawahan itu membuat Rey terkejut. Menghilang? Bagaimana bisa? Mungkinkah Rifky pergi sendiri? Tapi sepertinya tidak. Tidak mungkin Rifky kabur dalam keadaannya yang masih terluka parah. Mungkinkah ada seseorang yang membawanya?
Rey menerka-nerka. Bisa jadi Rifky di bantu oleh seseorang. Tapi siapa? Mungkinkah orangnya Bobby.
"Sial!"
Rey langsung menghampiri tuannya, mengatakan jika Rifky tidak ada di rumah sakit. Lucifer yang mendengar mengabaikan, biarkan saja. Jika pun Rifky pergi atau mati sekalian dia tidak peduli, karena menurutnya Rifky tidak pantas di pikirkan.
"Biarkan saja. Jika dia diselamatkan oleh Anak buah Bobby, berarti saat ini dia ada di wilayahnya. Dan itu akan menguntungkan ku kembali agar aku bisa menghajarnya lagi."
Tak terasa mereka akhirnya sampai di Amerika. Semuanya berada di rumah Lucifer. Evan yang mendengar Lucifer kembali langsung datang menemui Lucifer begitu pun dengan Adam. Ada sesuatu yang akan mereka sampaikan.
"Akhirnya kau kembali juga,"
Lucifer mengangguk, tidak biasanya Adam datang menemuinya.
"Ada apa? Apa ada hal penting yang membuat kalian datang menemui ku?"
"Ya. Ini tentang Bobby?" Jawab Evan dan Adam.
__ADS_1
"Bobby? Pria itu lagi. Ada apa dengannya?"
"Beberapa hari ini aku melihat banyak yang datang ke tempatnya, aku yakin itu bala bantuan untuk nya."
"Aku juga sudah mendengarnya dari anak buah ku. Dan mungkin yang kalian lihat benar adanya, itu memang bala batuan untuknya melawan ku,"
"Lalu bagaimana, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku tetap akan melawannya. Bagaimanapun aku harus membunuh tua bangka itu. Oh ya, aku akan merepotkan kalian setelah ini. Aku ingin meminta bantuan kalian untuk membantu ku melawan nya."
"Aku akan membantu mu. Lagian jika dia menang kami juga akan repot karena nya."
"Baguslah, terima kasih karena bersedia membantu ku."
"Tidak masalah, lagian dia juga musuh ku. Aku hanya tidak menyangka saja bahwa dia adalah ayah mu."
"Aku pun juga tidak menyangka jika aku memiliki ayah seperti itu."
"Baiklah, mulai sekarang kita bekerja sama untuk membunuhnya. Bila perlu cari bala bantuan lainnya untuk membantu kita menyingkirkannya," ucap Adam
"Untuk itu kau tidak perlu khawatir, kakekku akan membantunya."
"Kita lihat dulu, anak buah ku saat ini sedang mengamati mereka. Jika waktunya sudah pas, aku akan menghubungi mu. Untuk saat ini persiapkan seluruh bawahan mu untuk pertarungan nanti,"
Adam dan Evan mengangguk, mereka akan menyiapkan semuanya, begitupun dengan senjata yang akan mereka gunakan.
Adam dan Evan pergi, dan kini tinggal Lucifer di ruang kerjanya, memijat kepalanya yang sedikit pusing. Dia memikirkan keadaan kakaknya yang saat ini berada di tangan Bobby, berharap Bobby tidak melakukan hal yang tidak diinginkan terhadap kakaknya.
"Semoga saja pria itu tidak melakukan hal gila pada Kak Mesya,"
.
.
Di tempat lain, tepatnya di tempat markas Bobby, Mesya di tarik paksa masuk ke dalam sebuah ruangan oleh dua orang pria bertubuh kekar. Dia orang itu tidak lain adalah anak buah Bobby.
Brug….
__ADS_1
"Lepaskan aku! Keluarkan aku dari tempat ini,"
Mesya yang tersungkur langsung bangun dan menggedor-gedor pintu dengan keras, meminta mereka melepaskannya. Tangannya terus memukul pintu itu dengan keras, namun mereka tidak memperdulikannya, mengacuhkan teriakan yang di lakukan wanita yang baru saja mereka masukkan.
"Lepaskan aku sialan! Jangan pisahkan aku dengan suami ku."
Terikanya lagi tidak ingin dengan suaminya, Farhat. Entah kenapa mereka memisahkan mereka dan menempatkan mereka di tempat yang berbeda. Mesya sungguh ketakutan, berharap suaminya menenangkannya, tapi ternyata mereka tidak bersama.
"Hiks….Hiks….lepaskan aku. Jangka pisahkan aku dengan suami ku. Cukup Zahra yang pergi dari ku," Tubuh Mesya luruh, dia begitu sedih. Kenapa nasib buruk selalu menghampirinya.
Ingin sekali dia menghubungi Lucifer dan mengatakan apa yang terjadi padanya, dan tentang orang-orang yang menculiknya. Tapi dia tidak bisa. Dia tidak mempunyai ponsel, bagaimana caranya menghubungi Lucifer untuk membantunya.
Mesya begitu frustasi. Dia tidak ingin mati di tangan pada badjingan itu. Sial, semua ini karena satu orang yang sangat di bencinya, Rifky. Ya, Rifky penyebabnya. Ingin sekali Mesya membunuh pria badjingan itu. Gara-gara dia semuanya jadi seperti ini. Dirinya kehilangan putrinya dan kini suaminya.
Mesya tidak menyadari jika di ruangan itu juga ada orang. Dia sibuk menatap kesedihan nya dan nasibnya sehingga tidak menyadari jika dua orang itu kini sedang menatapnya.
"Awas saja kau Rifky, aku akan membunuh mu jika aku bisa keluar dari tempat ini,"
Mesya begitu benci, dan kebenciannya sudah mencapai batasnya. Ingin mencincang dan membuang mayatnya ke hutan agar tubuh itu dimakan oleh binatang buas.
:Jangan salah Rifky, karena semua ini tidak ada hubungannya dengan Rifky," ucap seseorang yang membuat Mesya terkejut.
Mesya menoleh kebelakang, dan dilihatnya dua orang yang sangat di kekenalnya. Dion dan Hamdan.
"Dion, Hamdan?" Mesya langsung beranjak dan mendekati mereka berdua. Di lihatnya tubuh itu begitu mengenaskan, banyak luka di tubuh mereka. Mungkin mereka selama ini mendapatkan siksaan yang begitu berat.
Mesya mengangkat tangannya hendak memegang wajah itu, dia tidak tega melihatnya. Begitu menyedihkan nya mereka berdua.
"Kalian,"
Mesya memeluk mereka berdua. Mesya menangis, ternyata selama ini Dion dan Hamdan berada di sini. Dia mengira Dion pergi untuk belajar mandiri ternyata semuanya salah. Dion dan Hamdan ternyata selama ini hidup menderita.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung