
Zaki dan Farhat berbicara empat mata. Entah apa yang dibicarakan Farhat pada Zaki membuat pria itu melepaskan mereka semua. Bahkan Jerry di minta untuk tidak membunuh Mesya. Dan setelah itu mereka pergi meninggalkan Farhat dan Mesya tanpa membuat mereka terluka.
.
.
Setelah kepergian mereka, Mesya dan Farhat merasa lega. Mesya menatap suaminya, penasaran tentang apa yang dibicarakan nya pada pria tadi.
"Mas,"
"Ya," Farhat menoleh menatap istrinya yang menggendong putri kecilnya di pangkuan. "Ada apa?"
"Sebenarnya apa yang mas bicarakan pada pria tadi sampai pria itu pergi dan melepaskan kita?"
Farhat yang mendengar diam, berpikir. Setelah itu menatap istrinya yang menatapnya penuh harap, ingin tahu tentang apa yang dia bicarakan pada pria tadi.
"Aku hanya mengatakan akan membantunya mencari Lucifer. Setelah aku menemukannya aku akan menghubungi mereka,"
"Kenapa kamu mengatakan itu? Jika kita menemukan Lucifer apa kita akan memberitahu mereka. Lihatlah kedua pria itu seperti bukan orang baik-baik, aku tidak mau terjadi sesuatu dengan Luci," Mesya sangat kecewa dengan suaminya. Yah, walaupun tahu niat suaminya melindunginya dan putrinya. Tapi tidak dengan berjanji kepada mereka, pikirnya.
"Sayang dengarkan aku, aku mengatakan itu bukan tanpa alasan. Kamu tahu sendiri kan selama ini kita belum menemukan keberadaan Lucifer. Aku mengatakan itu karena tahu tidak mudah menemukan nya, maka dari itu biarkan mereka menunggu dan keluarga kita akan aman," Farhat memegang kedua bahu Mesya berharap istrinya mengerti apa yang di katakannya.
Mesya yang mendengar diam. Memang benar apa yang di katakan suaminya. Hanya saja ia tetap takut akan adiknya yang sampai saat ini tidak di temukan.
"Hiks….Hiks….aku merindukannya mas. Sebenarnya dimana Luci?"
"Mas juga tidak tahu. Andai mas tahu, mas akan membawanya kembali dan kita bisa berkumpul bersama," Farhat memeluk Mesya yang menangis di dadanya dan mengelus lembut kepala wanita yang di cintainya.
.
.
Seorang pria yang berada tak jauh dari rumah Mesya menatap dengan dingin, apalagi melihat dua orang asing yang menurutnya mencurigakan keluar dari rumah besar tersebut.
"Siapa mereka?" Gumamnya dan pergi.
Semula pria itu ingin bertemu dengan Mesya, namun ia urungkan saat melihat dua orang asing keluar dari rumah tersebut. Di lihat dari wajahnya, menurutnya dua pria itu bukanlah orang biasa. Dalam pikiran bertanya-tanya ada keperluan apa dua orang tersebut datang ke rumah Mesya.
Pria itu putar arah. Apa yang di bawanya ia masukkan dalam jaketnya. Dia akan menyerahkan pada Mesya nanti saja.
.
__ADS_1
.
Di Negara Amerika tepatnya di markas XLOVENOS, beberapa hari setelah kehilangan uang dengan jumlah besar, Bobby yang mengetahui marah besar pada anak buahnya. Dia menatap tajam pria yang kini tertunduk diam dengan wajah pucat dan tubuh gemetar.
Dirinya yang tidak tahu kemana uang itu pergi dalam semalam dan hanya bisa pasrah, karena menjelaskan nya pun tidak ada gunanya. Bosnya tidak percaya karena tidak ada bukti pembobolan, dan bosnya menganggap semua itu adalah ulahnya, mengambil uang dalam jumlah besar.
"Cepat katakan atau ku bunuh kau saat ini juga," Bobby duduk di kursi menatap tajam pria yang menunduk itu.
"Sa…saya tidak tahu, tuan."
"Kau pikir aku bodoh,"
Dug…
Bobby memukul kepala pria itu dengan gagang pistol membuat kepala itu terluka dan mengeluarkan darah karena kuatnya Bobby.
"Cepat katakan apa kau yang mengambilnya?"
"Ti…tidak tuan. Saya tidak mengambilnya. Malam itu kita semua mabuk. Tapi saat saya hendak menunjukkan jumlah semua uang markas pada anda uang itu hilang. Sungguh saya tidak berbohong, tuan. Ampuni saya, saya mengatakan yang sejujurnya."
Pria itu mencoba menjelaskan, namun Bobby seolah tidak percaya. Mana mungkin maling ngaku, bisa jadi penjara penuh karena penipu.
Pria yang bersimpuh di hadapan Bobby kini mendongak menatap tuannya, berharap apa yang di katakan barusan tidak benar. Namun apa yang di lihat wajah itu tampak mengerikan dan bersungguh-sungguh dalam ucapannya.
Glek.
Pria itu menelan ludah karena tahu bosnya tidak main-main dengan ucapannya. Apakah hari ini adalah kematiannya. Jika dia benar, pria itu hanya bisa pasrah dengan takdir yang akan di terima, mati dengan alasan yang tidak dia perbuat.
Pria itu mendongak, tanpa terasa air mata menetes di sudut matanya. Bobby dan Bert yang melihat menyipitkan mata.
"Bawa dia ke tempat biasa," perintah Bobby pada anak buah lainnya.
Tubuh pria itu gemetar, ia tahu pasti akan di bawa ke ruang penyiksaan. Namun saat tubuh itu di bawa pergi, keningnya berkerut karena jalan yang di lalui tidak sama. Dan dugaannya salah, ternyata dirinya di bawa ke tempat lain. Tempat dimana kematian lebih mengerikan. Dilempar ke kandang harimau peliharaan Bobby untuk para anak buahnya yang berkhianat.
"Tidak….!"
Teriak pria itu meronta ketakutan, tidak ingin mati di mulut para harimau besar yang sepertinya sangat kelaparan.
Goar….
Goar….
__ADS_1
Harimau besar berjumlah 4 itu mengaum menanti makanan yang sebentar lagi datang.
Bugh…
Tubuh itu di dorong hingga jatuh dan masuk kedalam kandang.
"Tidak! Buka pintunya. Saya tidak salah. Lepaskan aku,"
Pria itu panik saat melihat 4 harimau berjalan menghampiri dengan tatapan tak lepas darinya, tidak sabar mencicipi tubuh besar nya.
"Tolong..! Tolong…!"
Semua yang melihat hanya diam dengan tatapan dingin. Namun dalam hati mereka sangat kasihan dengan apa yang di alami rekannya. Apalagi saat melihat harimau itu melompat dan menerkam rekannya. Mereka sampai memejamkan mata tidak tega melihat tubuh temannya di cincang empat harimau.
Goar….
Goar….
Seolah puas dengan makanan yang di berikan, harimau itu tidak menyisakan sedikitpun tubuh pria tersebut.
"Tuan,"
"Itu salahnya karena tidak bisa menjaga apa yang menjadi miliknya ku." Kesalnha dan pergi dari tempat tersebut. Tempat dimana mereka melihat satu bawahannya di makan oleh harimau dengan rakus.
"Selidiki siapa yang berani mencuri uang ku. Aku yakin pasti mereka meninggalkan jejaknya,"
"Baik tuan," jawab Bert dan menghubungi beberapa bawahannya untuk menyelidiki siapa yang berani membobol keuangan markas.
.
.
Sedangkan di lain tempat sang pelaku yang mencuri uang jumlah besar itu begitu santai duduk di Cafe depan kampus dan menikmati menimunnya.
Bersambung
__ADS_1